Kisah Slamet Hariadi yang Dapat Banyak Berkah Hidup karena Jadi Juru Pungut Zakat

548
Pasang Iklan Murah
Slamet Hariadi saat diwawancarai PWMU.CO (Anis Shofatun/PWMU.CO)

PWMU. CO – Mencari keberkahan dengan menjadi amil zakat. Inilah prinsip hidup yang menggerakkan Slamet Hariyadi AMa SPdI sebagai juru pungut Lazismu GKB Gresik.

Prinsip itu, menurutnya, dia dapatkan dari Alquran surat Attaubah ayat 103, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Slamet mengaku, dengan menjadi bagian amil zakat berarti dia bisa mengamalkan perintah Allah, yakni menjadi pemungut zakat, yang dengan itu dia bermanfaat bagi yang lain. “Saya bisa menjadi penghubung bagi orang-orang yang mampu untuk menyalurkan hartanya kepada orang-orang yang membutuhkan,” ujarnya.

Pria berkaca mata ini menjadi juru pungut sudah lima tahun. Dia bertugas mengambil infak dari empat sekolah Muhammadiyah GKB (Mugeb School). Yaitu SDM 1 GKB, SDM 2 GKB, SMPM 12 GKB, dan SMAM 10 GKB Gresik.

Tanpa mengenal lelah, suami Ummu Hasanah SPdI ini setiap hari juga bertanggung jawab untuk mengambil infak ke rumah-rumah, yang waktunya disesuaikan dengan kesempatan para donatur.

“Kalau jadwalnya malam ya harus diambil malam, kalau sore ya sore. Di manapun lembaga zakat bertugas, maka harus siap 24 jam menanggalkan aktivitas apapun,” tuturnya saat diwawancari usai mendampingi penyerahan beasiswa pada 32 siswa Mugeb School di acara Road Show Milad Ke-3 PWMU.CO, di SMP Muhamamdiyah 12 GKB Gresik, Ahad (14/4/19).

Bukan hanya soal pengambilan donasi, saat penyaluran bantuan pun dia harus siap setiap saat. Slamet mencontohkan ketika terjadi banjir di Desa Benjeng, Keamatan Benjeng, Kabupaten Gresik beberapa tempo lalu. Waktu itu, dia sudah berencana mengajak liburan keluarganya. Namun karena ada panggilan penyaluran bantuan, maka dia pun bergegas berkoordinasi dengan tim untuk menuju lokasi banjir. “Kalau ada orang sakit yang membutuhkan, malam pun harus siap berangkat,” cerita Slamet yang puya moto hidup mulia atau mati syahid ini.

Dari sekian lama pengabdiannya di Lazismu GKB, Slamet punya satu momen yang paling berkesan. “Saya sangat terenyuh saat ada orang meninggal di posisi tidak memiliki keluarga dan saya bisa mengantarkan jenazahnya sampai ke rumah duka di Surabaya waktu itu. Mengurusi dan membelikan semua kebutuhan pemakamannya,” kisahnya.

Kini ayah Khansa Aqila Salsabila ini bersyukur, karena layanan Lazismu GKB sudah meluas dengan bekerja sama dengan tim Kifamah yaitu layanan ambulan jenazah bagi siapa pun yang membutuhkan.

Berkah jadi amil
Selain terinpiras surat Attaubah ayat 103, Slamet mengaku terinspirasi oleh ajaran KH Ahmad Dahlan dengan ideologi Almaun-nya yang mengajarkan untuk mengajarkan kepada umat manusia untuk berbagi sesama. “Saya sangat senang dan bahagia bisa (menjadi bagian praktik) berbagi bersama itu,” kata lulusan Diploma Dua (D2) PGTK Al-Falah Surabaya ini.

Bahkan, dia mengaku sudah merasakan bagaimana mendapat berkah dari pekerjaan mulia itu, meski gajinya tidak besar. “Alhamdulillah, banyak orang bekerja di Lazismu tidak kerasan karena gajinya kecil, tapi saya justru sangat senang, hidup bersama Lazismu untuk mencari keberkahan,” ungkap alumnus S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Maskumambang, Gresik.

Salah satu keberkahan itu Slamet temukan pada tahun 2018, ketika dia bisa menunaikan ibadah umrah karena difasilitasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. “Saat itu, Pak Saad Ibrahim (Ketua PWM Jatim) bilang mencari kader Muhammadiyah dan menghafal Alquran. Lha kok saya toh yang dapat,” kenangnya sambil tersenyum bahagia.

Keberkahan hidup Slamet tidak hanya berhenti di situ. Imam rawatib beberapa masjid di Kota Gresik ini juga beryukur bisa memiliki rumah di Jalan Harmoni No 2 Pondok Permata Suci (PPS) Manyar Gresik. Baginya, bisa tinggal di kawasan itu adalah sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya.

Guru ekstra tahfidh di SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik ini juga merasakan berkah lainnya. “Bekerja di Lazismu semakin banyak menambah saudara dan teman sehingga (saya) makin terkenal,” ujarnya sambil bercanda. Yang juga ia syukuri, dengan menjadi amil zakat, pria kelahiran Ujungpangkah, 17 Mei 1982, ini bisa memberikan motivasi kepada orang lain, khususnya para amil di Gresik.

Suwono secara simbolis menyerahkan beasiswa ada siswa SMAM 10 Gresik. (Anis Shofaun/PWMU.CO)

Donasi Lazismu GKB
Kegigihan Slamet menjadi amil zakat diakui Ketua Kantor Layanan (KL) Lazismu GKB Suwono STP MM. “Keberlangsungan dan kemajuan Lazismu GKB tidak bisa terlepas dari keuletan para penjemput bola seperi Pak Slamet ini,” ujarnya saat diwawancari secara terpisah setelah menyerahan secara simbolis beasiswa kepada 32 siswa Mugeb School.

Menurutnya Slamet adalah salah satu petugas bekerja sudahbaik dan cepat. “Orangnya kerja di lapanganya cepat di antara jadwal padatnya sebagai seorang imam rawatib, walau kadang butuh diberikan arahan,” terangnya.

Mengenai Lazismu GKB, Suwono menyampaikan bahwa KL yang dipimpinnya itu kini memiliki donatur tetap sebanyak 350 orang. “Ada 10-15 orang sebagai donatur tidak tetap,” ujarnya.

Jumlah infak terbanyak dihimpun dari empat sekolah Mugeb School yang tiap bulannya mencapai sekitar RP 55 juta. “Selain itu, rata-rata 5 orang saja yang mengeluarkan zakat mal melalui Lazismu GKB dan 5-10 orang yang berinfak secara insidental,” terang dia. “Sekitar Rp 90-100 juta dana yang dikelola Lazismu tiap bulannya.”

Penghimpunan dana yang lumayan besar itu, menurut dia, karena KL Lazismu GKB menjain sinergi bersama anal usaha Muhammadiyah (AUM) di bawah Pimpinan Cabang Muhammadiyah GKB Gresik. Yaitu Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan, Majelis Tabligh, dan Majelis Dikdasmen serta Majelis lainya. “Mereka punya andil yang besar dalam menggerakan dan memajukan persyarikatan Muhammadiyah,” ucapnya. (Anis Shofatun)