Guru, Profesi yang Tak Bisa Tergantikan Mesin, Ini Penjelasannya

81
Hikmah Press
Setya Yuwana berceramah di yudisium Pascasarjana UMSurabaya, Ahad (14/4/2019). (Juwari/PWMU.CO)

PWMU.CO- Di era revolusi industri 4.0 hanya profesi guru yang tidak bisa digantikan kehadirannya oleh teknologi. Sebab guru yang bertugas mengajar membutuhkan proses berpikir kreatif. Hal itu tidak bisa dilakukan oleh mesin.

Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr Setya Yuwana MA dalam orasi yudisium Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya  di At Tauhid Tower, Ahad (14/4/2019). Orasi ilmiah mengusung tema Peran Pendidikan Bahasa dan Sastra di Era 4.0.

iklan

”Karena itu guru harus terus mengupgrade diri agar berkualitas menjadi sumber daya manusia yang tinggi,” kata Setya Yuwana yang guru besar Universitas Negeri Surabaya ini.

Dalam era ini industri 4.0 ini, dia membeberkan, kompetensi guru yang dibutuhkan adalah kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah, keterampilan komunikasi dan kolaboratif.  Kemampuan berpikir kreatif dan inovatif, literasi teknologi informasi dan komunikasi. Serta pembelajaran keterampilan yang kontekstual.

Suasana pembelajaran juga berubah., katanya. Dari pembelajaran teacher centered learning dimana guru lebih banyak ceramah, sekarang menjadi student centered learning yaitu siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.

”Contohlah seperti Aristoteles yang berani mengkritik Plato, gurunya. Jadi mahasiswa harus lebih pintar dari dosennya,” katanya membuat seisi ruangan tertawa.

Kurikulum 2013 berbasis kompetensi yang dipakai sekarang, menurut dia, perlu diubah sesuai kebutuhan era milenial. Yaitu kurikulum berbasis kapabilitas.

Intinya, lanjut dia, ada perubahan paradigma pendidikan era revolusi industri 4.0. Dari paradigma Pedagogik dan paradigma Andrologi menjadi paradigma Heutalogi. Yaitupembelajaran orang dewasa dan otonom.

”Paradigma pendidikan ini bertumpu pada belajar bagaimana belajar yang terdiri dari belajar berpikir (learning to thing), belajar berbuat (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), belajar menjadi diri sendiri (learning to be).”

Generasi Z, generasi yang lahir setelah tahun 2000-an yang punya ketergantungan dengan internet, menurut dia, cenderung kurang berpikir kritis, toleransi rendah tanpa sumber data digital. (Kiki Cahya Muslimah)