Praktik Liputan Berita yang Bikin Heboh, Begini Para Jurnalis Warga Ini Digembleng

118
Pasang Iklan Murah
Suwono (panggung, kiri) saat diabadikan para ‘wartawan’. (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Panggung di open hall SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik mendadak riuh oleh ‘wartawan’, Ahad (14/4/19). Keriuhan dimulai saat Ketua Lazismu KL GKB Suwono SP MM naik panggung memberikan sambutan dalam acara Road Show Milad Ke-3 PWMU.CO.

Mendadak puluhan ‘wartawan’ itu beranjak dari tempat duduk dan mendekati panggung untuk mengambil foto dan video dari berbagai posisi terbaik. “Di luar dugaan saja, kok ada acara seperti itu,” ujar Suwono saat dihubungi PWMU.CO, Jumat (19/4/19).

iklan

Dalam kegiatan yang diisi dengan Pelatihan Teknik Menulis Berita dan Liputan Video via HP itu, Suwono memberikan sambutan pengantar pemberian beasiswa pendidikan kepada 32 siswa di sekolah Muhamadiyah GKB.

Suwono mengaku agak kaget saat puluhan ‘wartawan’ mengambil foto dirinya di panggung. “Namun yang lebih tahu saya nervous atau tidak, yang tahu adalah audien,” kata dia.

Pemberian beasiswa ini, lanjutnya, dilakukan setiap tiga bulan sekali. Ia juga mengaku senang kegiatannya menjadi praktik liputan bagi 63 peserta pelatihan yang diselenggarakan PWMU.CO tersebut. “Alhamdulillah kegiatan Lazismu KL (Kantor Layanan) GKB bisa diketahui banyak orang,” ujarnya penuh syukur.

Tak hanya Suwono yang menjadi incaran. Anak-anak penerima beasiswa yang turut hadir itu juga ikut menjadi sasaran. Setelah turun dari panggung, para ‘wartawan’ menggandeng mereka satu persatu untuk dimintai keterangan lebih. Tak tanggung-tanggung, satu anak bisa diwawancarai oleh tiga sampai empat ‘wartawan’. Bahkan, orangtua siswa yang turut mendampingi anaknya juga menjadi sasaran mereka.

Dari kegiatan pemberian beasiswa tersebut, telah lahir empat liputan berita yang ditulis para peserta. Bagi Suwono, hal tersebut sekaligus menjadi tantangan. “Untuk ke depan harus lebih baik dan selalu memberi manfaat bagi yang membutuhkan,” harapnya.

Penanggung jawab acara Ichwan Arif mengatakan, kegiatan Lazismu itu sebenarnya permintaan dari Pemimpin Redaksi (Pemred) PWMU.CO. “Jadi ini hidden strategy (strategi tersembunyi). Kejutan untuk semua,” ungkapnya.

Arif—yang juga sebagai kontributor PWMU.CO—menjelaskan, pihaknya terus melakukan lobi dengan Lazismu KL GKB dalam waktu yang sangat mepet. “Alhamdulillah kog ya pas April itu adalah bulan pencairan triwulan pertama dan Ketua Lazismu KL GKB juga bisa rawuh,” paparnya.

Pemred PWMU.CO Mohammad Nurfatoni mengaku meminta panitia lokal menghadirkan langsung kegiatan riil yang akan menjadi bahan praktik teknik menulis berita. “Kami ingin pelatihan ini bukan sekadar teori, tapi yang lebih penting bagaimana ada praktiknya,” ungkapnya. Biasanya, sambungnya, praktik liputannya hanya memberitakan pelatihan itu sendiri.

Sementara itu, Anis Shofatun, salah satu peserta, senang karena berhasil menaklukkan tantangan praktik liputan tersebut. “I feel awesome (saya sangat gembira). Ini sebuah kesempatan belajar yang luar biasa dalam dunia pers sekaligus menantang saya untuk bisa membuat liputan yang lebih mengalir, menarik, dan bermakna bagi pembaca,” ujar guru SMPM 12 GKB yang liputan soft news-nya diterbitkan PWMU.CO dengan judul Kisah Slamet Hariadi yang Dapat Banyak Berkah Hidup karena Jadi Juru Pungut Zakat.

Konferensi pers pembina ekskul Smamda Surabaya sedang diliput para ‘wartawan’. (MN/PWMU.CO)

Meliput konferensi pers
Bila di Gresik panitia lokal menghadirkan KL Lazismu GKB, SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya—yang menjadi tuan rumah kegiatan serupa untuk area Surabaya, Sidoarjo, dan Bangkalan—mendatangkan tiga pembina ekstrakurikuler (ekskul) sebagai nara sumber, Sabtu (20/4/19). Mereka adalah Lukluul Islamiyati (Tahfidhul Quran), Vitria Aftinia pembina (English Conversation Club), dan Adhi Farico Putra Hardana (Smamda Orchestra).

“Saya harus ngomong apa,” kata Lukluul Islamiyati yang terlihat gugup sebelum tampil di depan bersama dua rekannya itu.

Panitia sengaja men-setting acara bak konferensi pers. Ketiga pembina ekskul itu diberi waktu masing-masing 10 menit untuk menyampaikan apa dan bagaimana ekskulnya: mulai dari sejarah, prestasi, hingga kiat-kiat memajukannya.

Sontak, 32 ‘wartawan’ yang hadir maju ke depan untuk mengabadikan nara sumber. Mereka mengambil gambar foto maupun video untuk melengkapi liputan yang akan dibuat.

Di luar dugaan, saat tampil ketiganya sangat lancar berbicara. Bahkan dengan percaya diri Lukluul Islamiyati beranjak dari kursi dan berbicara sambil berdiri di depan meja nara sumber. “Sepertinya saya harus berdiri agar lebih enak berbicara,” ujarnya.

Usai ketiganya memaparkan ekskul masing-masing, para ‘wartawan’ diberi kesempatan untuk bertanya. “Tadi Mas cerita bahwa pernah diundang di Grahadi, apakah orang umum boleh juga nanggap (mengundang) Smamda Orchestra,” tanya Dian Rahma Santoso, peserta dari Sidoarjo.

Adhi Farico Putra Hardana pun menjawab dengan tegas, bahwa kelompok musiknya bisa diundang oleh masyarakat umum, termasuk untuk acara pernikahan. “Soal biaya, nanti bisa menghubungi sekolah,” katanya.

Usai tanya jawab, para ‘wartawan’ diberi kesempatan untuk melakukan wawancara dan pengambilan gambar tersendiri pada nara sumber yang dipilih. Setelah itu mereka menyajikan liputan dalam bentuk soft news dan video. “Yang terbaik akan dimuat di PWMU.CO dan PWMU TV,” ujar Fatoni—panggilan Pemred PWMU.CO yang memandu acara.

Muhimmatul Azizah, peserta dari SD Muhammadiyah 4 Surabaya yang liputannya diterbitkan radaksi PWMU.CO menggambarkan bagaimana hebohnya praktik liputan itu. “Ada yang merekam lewat video, memotret dengan berbagai angel, mencatat poin-poin penting dan bertanya hal-hal yang mendukung,” ungkapnya.

Saat redaktur melakukan road show di Malang. (Istimewa/PWMU.CO)

Kontributor sebagai relaban
Yang disebut ‘wartawan’ (dalam tanda petik) di atas adalah para relawan PWMU.CO yang biasa disebut dengan kontributor. “Mereka adalah para jurnalis warga, yang terdiri dari para aktivis amal usaha Muhammadiyah, misalnya guru atau perawat rumah sakit,” kata Fatoni, Senin (22/4/19).

Dia mengatakan, para kontributor itu dengan senang hati mengirim berita, di tengah kesibukannya menjalani profesinya masing-masing. Mereka juga menulis tanpa dibayar. Meski begitu, liputan mereka bukan berarti tidak berkualitas. Fatoni mengaku bahwa dari 300-an kontributor itu, sebagian kini sudah bisa sebagai wartawan profesional.

“Itu kita buktikan dengan liputan-liputan khusus pada acara yang menghadirkan nara sumber nasional, seperti Pak Haedar Nashir dan Pak Din Syamsuddin. Acara Presiden dan Wakil Presiden RI pun pernah mereka liput,” kata dia. “Dan liputannya bisa cepat, akurat, dan viral. Bahkan dikutip oleh beberapa media.”

Pria yang tinggal di Menganti Gresik ini bersyukur karena para kontributor itu mayoritas berangkat dari nol di bidang jurnalistik. “Tapi karena ketekuan, kesabaran, dan konsistensi kontributor dan redaktur, akhirnya mereka berhasil meningkatkan kualitas jurnalistiknya,” terangnya.

Kegiatan pelatihan dengan praktik langsung seperti yang diadakan di Gresik, Surabaya, juga di Malang (13/4/19) dan Mojokerto (21/4/19) dalam rangka Milad Ke-3 PWMU.O itu, menurutnya adalah bagian tanggung jawab untuk meningkakan kualitas para kontributor—yang oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim Nadjib Hamid disebut sebagai relaban, alias relawan yang siap berkorban.

Selamat Milad ke-3 PWMU.CO! (Vita/MN)