Haedar Nashir: Muhammadiyah Besar karena Syirkah, Bukan Figur

1700
Pasang Iklan Murah
Haedar Nashir (kedua dari kanan) didampingi Ketua PWM Jatim M Saad Ibrahim (kanan), Wagub Jatim Emil Dardak (ketika dari kanan) dan para Wakil Ketua PWM Jatim saat peletakan batu pertama. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dr Haedar Nashir menyatakan Persyarikatan Muhammadiyah bisa awet dan besar seperti sekarang ini lantaran sistem syirkah. Sebaliknya, bukan karena figur.

Hal itu disampaikan Haedar dalam acara peletakan batu pertama pembangunan At Taawun Tower UMSurabaya 31 lantai di halaman kampus setempat, Selasa (23/4/19).

Haedar menyampaikan, kekuatan Muhammadiyah memberi untuk negeri alias taawun ini terlatak pada syirkah atau kekuatan bersyarikat (sistem). Karena itu, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan menamakan Muhammadiyah dengan istilah Persyarikatan.

“Konsep syirkah itu beragam elemen menjadi satu. Nah, semangat menjadi satu inilah yang menjadi kekuatan Muhammadiyah sampai sekarang,” katanya.

Haedar mengungkapkan, dalam Persyarikatan Muhammadiyah ini ketua umum di pusat, ketua di wilayah, daerah, cabang, hingga ranting bisa datang dan pergi sesuai hukum sunahtullah.

Begitu pula, dengan rektor maupun pimpinan amal usaha Muhammadiyah (AUM) bisa saja berganti. Tapi syirkah Muhammadiyah itu tetap kokoh dalam bentuk organisasi.

“Muhammadiyah itu menjadi milik kolektif berkelanjutan karena Muhammadiyah tidak bersandar pada sosok ataupun figur tertentu,” tuturnya.

Haedar menegaskan, kalau figur atau sosok pimpinan sebesar apapun dia pasti akan hilang sesuai hukum sunahtullah. Kecuali jejak yang dia tinggalkan. Sebaliknya, sebut dia, dengan sistem itu Muhammadiyah akan awet dan berkemajuan.

“Insyaallah, semua orang yang berada di dalam sistem syirkah akan ikut menjaganya. Bahkan, akan berfastabiqul khairat untuk membesarkan Persyarikatan Muhammadiyah,” ujarnya. (Aan)