12 Tahun Huni Rumah Pinjaman yang Bocor, Janda Empat Anak Ini Kini Bisa Tidur Nyenyak berkat Program Bedah Rumah

278
Pasang Iklan Murah
Serah terima kunci rumah kepada keluarga Supartin.(Anis Shofatun/PWMU.CO)

PWMU.CO – Wajah Supartin memerah. Ia tampak meneteskan air mata. Tapi itu bukan air mata duka, melainkan ekspresi kebahagiaan. Maklum, wanita 47 tahun itu kini bisa tinggal di rumah sendiri, meski sangat sederhana.

Selama ini ia dan empat anaknya tinggal di rumah yang dipinjami seseorang selama 12 tahun, sejak 2007 hingga 2019. “Kemudian (rumah itu) diminta sama orang yang punya rumah,” terangnya.

Di rumah tersebut, ia sering tak bisa tidur nyenyak karena kondisinya sangat memprihatinkan. “Kalau hujan atapnya bocor,” kenangnya tentang tempat tinggalnya yang berlokasi di antara pohon-pohon yang tinggi tanpa tetangga.

Selain atap yang bocor, dindingnya lembab dan lantai keramik juga menggelembung hingga hampir satu meteran. “Di dalam rumah juga masih ada gundukan tanah dari bongkahan akar pohon kurang lebih setengah meter, ungkapnya.

Tapi kini ia lega karena telah punya rumah bertumbuh di atas lahan berukuran 13,5 x 5 meter persegi. Bangunan berdinding bata putih yang kokoh berdiri di sebagian lahan itu kini membuatnya bisa tidur nyenyak. Tak ada lagi air hujan yang masuk lewat atap yang bocor.

“Alhamdulillah, saya hanya bisa bersyukur dan tidak boleh mengeluh,” ujarnya saat ditemui PWMU.CO di bawah tanaman bambu belakang rumahnya, Selasa (23/4/19) siang, usai penyerahan kunci.

iklan

Supartin mengaku senang dan menerima kondisi rumahnya saat ini. “Nanti diperbaiki sambil jalan. Allah sudah mengatur semuanya. Kita hanya bisa berusaha dan pasrah, siapa tahu anak-anak saat sudah besar bisa melanjutkan,” ungkapnya.

Bagi dia, hal yang penting adalah melihat anak-anaknya bisa sekolah. “Mudah-mudahan sampai tinggi dan menjadi orang sukses,” harapnya sambil tersenyum dan sesekali mengusap air mata.

Ibu yang sehari-hari berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) keliling ini memiliki penghasilan sekitar 300 hingga 400 ribu tiap bulannya. Dia keliling ke rumah-rumah warga di sekitar Jalan Bengawan Solo, Randu Agung, Gresik.

“Kerja memang tidak hanya untuk satu orang. Tidak hanya hal kebersihan, kadang juga aktivitas lain seperti mencuci, menyetrika, dan lainnya. Tiap hari ya kadang tiga sampai empat rumah,” terangnya.

Supartin hdup bersama empat orang anaknya, yaitu Muhammad Hasyim (kelas XII SMA Muhammadiyah 1 Gresik), Aisyah Dwi Nur Rahma (kelas IX SMP Muhammadiyah 4 Giri), Muhammad Zainal Abidin (kelas VII SMP Muhammadiyah 4 Giri) dan paling bungsu Hana Nur Fitriani (kelas V SD Negeri 4 Randuagung). Sementara suaminya telah wafat sejak 2010 akibat menderita gagal ginjal.

Tim Bedah Rumah di dalam rumah Supartin. (Anis Shofatun/PWMU.CO)

Program Bedah Rumah
Sejak rumah pinjaman diminta pemiliknya, Supartin mengumpulkan dana sebesar Rp 8,9 juta untuk membeli tanah di Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo Gang H, yang tak jauh dari rumah yang pernah ditempati, di Gang E.

Di lahan itu, akhirnya berdiri rumah hasil kerja sama Takmir Masjid Faqih Usman Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dengan Kantor Layanan (KL) Lazismu GKB Gresik melalui program ‘Bedah Rumah’.


Wahyudiono, salah satu tim takmir yang memprakarsai pembangunan rumah Supartin bersyukur program ini berjalan lancar.

Dia menjelaskan, berdasarkan kesepakatan tim dan pemborong, semula rumah ini akan dibangun senilai Rp 52,5 juta dalam kondisi sudah beratap, tapi tidak berkulit. Tapi sekarang yang kita lihat bersama sudah berkulit bahkan berkeramik. “Alhamdulillah, dana terus mengalir, banyak orang yang hatinya tergerak dan membantu dalam pembangunan rumah ini,” ungkapnya penuh syukur.

Wahyudiono menambahkan, banyak relawan dan donatur baik pribadi maupun kelompok yang memberikan secara cuma-cuma. “Ada yang membantu tenaga, bahan-bahan bangunan seperti pasir dan semen. Bahkan keramik dan kusen pun diperoleh dari pemborong dan donatur pribadi,” terangnya.

Jadi sebenarnya, kata dia, biaya rumah Supartin ini lebih dari anggaran semula. “Dengan pondasi rumah setinggi itu dan sudah tertanam tandon air di depannya serta instalasi listrik yang sudah terpasang, rumah ini sudah layak huni. Hasil kalkulasi dan ‘quick count’ ndak mungkin pendanaan sebesar Rp 52,5 juta itu cukup,” terangnya sambil tertawa.

Kini, keluarga Supartin sudah bisa menempati rumah barunya. Dari enam petak tanah yang sudah terpondasi oleh tim Bedah Rumah, dua petaknya telah dibangun rumah layak huni.

Koordinator Pelaksana Harian Lazismu KL GKB Siswanto SPdI, pembagunan rumah Supartin ini adalah program Bedah Rumah ke-4. Dia berterima kasih kepada para relawan dan donatur, terlebih jamaah Masjid Faqih Usman UMG atas bantuan fikiran, tenaga, dan sumbangsih dalam bentuk lainnya. “Karena memang kegiatan bedah rumah ini sumber pendanaan terbesar berasal dari Masjid Faqih Usman,” ungkapnya.

Siswanto bersyukur lembaganya bisa membantu tugas pemerintah. “Selain itu, Lazismu sebagai lembaga amal sosial kemasyarakatan juga turut berperan aktif, bahkan sudah memperoleh pengakuan dan penghargaan dari pemerintah atas kerja nyatanya,” paparnya pada kegiatan serah terima kunci rumah kepada Supartin.

Siswanto bercerita, awal ‘ditemukannya’ rumah Supartin juga spontanitas. “Saat itu Lazismu beserta beberapa siswa dari SMA Muhammadiyah 10 GKB sedang meninjau salah satu penerima beasiswa, yaitu anak Bu Supartin,” ujarnya.

Saat di situ, ujarnya, tiba-tiba ada hujan. Yang membuat kaget tim, ternyata rumah Supartin bocor semua. “Ada gundukan tanah juga di dalamnya. Pokoknya, kondisinya sangat memprihatinkan,” kisahnya.

Sehari setelah itu, Siswanto mengajak beberapa guru dari SDM 1 GKB, SDM 2 GKB, dan SMPM 12 GKB kerja bakti seharian: meratakan tanah, membersihkan, dan sedikit merenovasi, minimal tidak bocor dan tidak pengap,” ceritanya.

Sementara itu, Arief Zamzawi, anggota takmir lainnya menelaskan, meski serah terima kunci sudah dilakukan, proses pembangunan pondasi dan melengkapi rumah tetap dilanjutkan. “Anak-anak Bu Partin banyak dan semakin tumbuh besar. Tidak mungkin kalau hanya ada satu kamar, sehingga butuh tambahan kamar lagi,” kata dia yang turut hadir di kegiatan tersebut.

Menuutnya, semua aktivitas ini merupakan bagian dari proses ta’awanu ‘alal birri wa al taqwa. “Momentum ini merupakan sinergi multi pihak. Semoga hati kita terus bisa bergerak untuk saling membantu sesama dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharapkan ridha dari Allah swt,” tuturnya.

Kegiatan serah terima kunci itu disaksikan oleh tim dari Lazismu KL GKB, pengurus Takmir Masjid Faqih Usman UMG, keluarga Supartin, Ketua RT setempat, dan perwakilan siswa SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik. (Anis Shofatun)

Rumah Supartin tampak luar. (Anis Shofatun/PWMU.CO)