Cerita Haru Tiga Kontributor PWMU.CO yang Dapat Hadiah ke Luar Negeri

541
Pasang Iklan Murah
Dari kiri: Darul Setiawan, Ichwan Arif, Sugiran, Arifah Wikansari, Nadjib Hamid, Mohammad Nurfatoni, dan Ketua LIK PWM Jatim Sugeng Purwanto. (Edo/PWMU.CO)

PWMU.CO – Keharuan itu bermula saat Pemimpin Redaksi (Pemred) PWMU.CO Mohammad Nurfatoni menyebut nama Sugiran Sp di akhir acara Kopi Darat Kontributor dan Resepsi Milad Ke-3 PWMU.CO, di Aula Mas Mansur Gedung Muhammadiyah Jatim, Sabtu (27/4/19).

Sugiran SP langsung berdiri dan memeluk erat teman di sampingnya, Darul Setiawan. Darul adalah pemegang tiket pertama hadiah Rihlah Dakwah ke Luar Negeri dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, yang telah diumumkan pada peringatan Milad Ke-2 PWMU.CO 2018 lalu.

Sugiran (45) tak menyangka bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan gratis. Apalagi, ini pengalaman ke luar negeri pertamanya. “Pertama terkejut, gak percaya, tapi bahagia yang tidak bisa diungkapkan,” kata dia ketika dihubungi PWMU.CO melalui pesan WhatsApp, Ahad (28/4/19).

iklan

Sugiran, seorang wiraswasta sarana pertanian di Situbondo, ini mengisahan pengalamannya bergabung sebagai kontributor PWMU.CO. Berita perdananya terbit pada 10 November 2016. “Judulnya Semarak Milad, Kepala Diknas Janji Fasilitasi Kelengkapan Alat Gamelan SMP Mutu Panji,” ungkapnya.

Pria yang lahir di Jember, 10 Agustus 1973 itu memang layak mendapat hadiah. Pasalnya, selain meliput gerak persyarikatan Muhammadiyah Situbondo, ia juga beberapa kali membuat liputan di luar daerah, seperti Bondowoso dan Ponorogo. “Pernah juga dipercaya meliput kegiatan Perusahaan Air minum Q-Mas M (Malang) dan mendapat tugas liputan khusus even besar persyarikatan,” ujarnya.

Selain ‘jam terbang’ menulis yang cukup banyak, Bendahara Panti Asuhan Muhammadiyah (PAM) Tunas Melati Kapongan-Situbondo ini terus meningkatkan kualitas tulisannya. “Saat pertama terlibat, gaya menulis saya masih grotal-gratul. Menyiapkan rekaman, mengetik sebisanya di hand phone (HP), cek rekaman lagi dengan menulis tangan, baru sempurnakan tulisan di HP,” ujarnya.

Akhirnya, kata Sugiran, berita yang ia tulis ‘disalip’ oleh kontributor yang meliput pembicara selanjutnya. “Alhamdulillah bisa diperbaiki saat bertugas liputan khusus Milad Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya,” jelasnya lega. “Saya beli keyboard bluetooth.”

Dianggap Guyonan oleh istri
Selain Sugiran, Rihlah Dakwah menjadi kado yang luar biasa di tahun 2019 bagi Ichwan Arif. Guru asal Gresik itu tidak pernah menduga namanya disebut sebagai salah satu penerima penghargaan kontributor terbaik. “Kopdar pertama saya belum ‘lahir’. Saya jadi kontributor saat PWMU.CO berusia satu tahun lebih,” ungkapnya.

Sepulang dari acara Milad Ke-3 PWMU.CO, Arif menceritakan kejutan itu kepada istri dan anak-anaknya. “Semua tidak percaya dan dipikir guyonan ketika saya datang dari kopdar pukul 19.00-an,” ujarnya.

Pria kelahiran 5 Desember 1975 itu mengaku istrinya ingin ikut karena tidak mau ditinggal lagi ke luar negeri. “Sempat tahun 2017 saya tinggal 10 hari ke Malaysia dan Singapura, acara sister school,” kata dia.

Atas apresiasi yang telah didapat itu, Arif kebanjiran ucapan selamat dari semua guru Muhammadiyah GKB dan Majelis Dikdasmen GKB. “Juga dari kontributor Gresik untuk PWMU alias Kongresmu,” tambahnya.

Karena berlatar belakang guru Bahasa Indonesia dan dianggap sudah biasa menulis, Arif biasa ‘ngemong’ para kontributor dari sekolah Muhammadiyah GKB. “Kegiatan di Majelis Dikdasmen GKB banyak sehingga diperlukan koordinasi. Biasanya saya yang bagi tugas untuk liputan. Harus rata untuk semua kontributor biar sekaligus melatih menulis,” paparnya.

Ia mengaku pernah menulis empat berita dalam sehari saat belum banyak yang menjadi kontributor di Muhammadiyah GKB. “Pernah juga empat kali ditugasi PWMU.CO untuk menjadi koordinator liputan acara-acara tertentu,” ungkapnya.

Dari semua pengalaman liputan yang telah dijalani, Arif mendapat kesan mendalam saat melakukan wawancara khusus dengan beberapa tokoh penting di Muhammadiyah. “Ada Pak Haedar Nashir, Din Syamsudin, dan Mas Dahnil,” jelasnya.

Selain wawancara, Arif juga meminta testimoni khusus untuk Milad Ke-3 PWMU.CO kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dan Dahnil Anzar Simanjuntak. “Seperti yang sudah kita saksikan bersama saat kopdar kemarin,” jelasnya.

Di Muhammadiyah GKB, Arif juga membantu mendampingi kontributor-kontributor baru dalam menulis liputan mereka. “Setelah 2-3 kali saya lihat sudah bagus, disarankan langsung kirim berita ke admin,” ungkapnya.

Sejak bergabung menjadi kontributor PWMU.CO, ia mengaku semakin merasakan proses kreatif dalam menulis. “Bisa silaturrahim juga dengan semua kontributor dan bisa cepat menyelesaikan buku kedua saya,” kesannya. Saat ini, Arif telah menyelesaikan dua buku berjudul 10 Permainan untuk Melatih Menulis Cerita dan Melatih Singa Kreatif.

Peserta Kopi Darat Kontributor dan Resepsi Milad Ke-3 PWMU.CO. (Edo/PWMU.CO)

Wawancara di atas bukit
Sama dengan Sugiran dan Arif, Arifah Wikansari, peraih hadiah Rihlah Dakwah ini juga tak menyangka mendapat kesempatan ketiga dari Pemred PWMU.CO. “Sebenarnya saya sudah dua kali diberikan kesempatan mewakili Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) mengikuti rihlah. Tapi karena ada halangan saya tidak berangkat,” ungkapnya.

Ia sempat kaget, saat Pemred PWMU.CO menyebut namanya. “Saya kira bercanda sebab sudah dua kali gagal berangkat. Mudah-mudahan kali ini Allah mengizinkan saya. Amin,” harapnya.

Arifah, yang juga anggota Lembaga Iinformasi dan Komunikasi (LIK) PWM Jawa Timur ini ikut menulis di PWMU.CO sejak awal berdiri 2016. “Pertama berdiri kita belum memiliki kontributor. Jadi anggota LIK mencari berita sendiri, wawancara nara sumber, dan menuliskannya,” ujarnya.

Baginya, saat itu terasa sekali jihad untuk menyuguhkan berita di PWMU.CO. “Seperti Bapak Nadjib Hamid, ke manapun beliau mengisi pengajian, juga menulis beritanya untuk PWMU.CO,” ungkapnya.

Sementara itu, Arifah yang sejak 2004 tidak pernah aktif di Muhammadiyah atau organisasi otonom mendapatkan bahan awal untuk berita dari status Facebook keluarga tentang kegiatan-kegiatan Muhammadiyah di Ponorogo. “Kemudian saya wawancara lebih lanjut melalui whatsapp,” jelasnya.

Perempuan kelahiran Ponorogo, 16 November 1981 itu mengaku punya kesan mendalam saat meliput Nabiel Ghali Azumi, difabel tunanetra dengan berbagai potensi. “Saya melakukan wawancara dengan Nabiel melalui pesan suara WhatsApp. Dan saya juga melakukan wawancara dengan Muslimah, ibunda Nabiel melalui WhatsApp,” ujarnya.

Dalam wawancara jarak jauh itu, Arifah menangis membayangkan perjuangan Muslimah dengan tiga anak difabel tunanetra.

Liputan kedua yang juga mengesankan Arifah adalah tentang Juminto, pejuang dakwah Muhammadiyah dari Desa Ketro Tulakan, Pacitan. “Saya melakukan liputan langsung dengan berkunjung rumah Ustadz Juminto yang berada di atas bukit,” kenangnya.

Yang lebih mengharukan lagi, kata Arifah, akhirnya kisah Ustadz Juminto diangkat dalam sebuah film berjudul Matahari di Garis Batas, produksi Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Ponorogo.

Kriteria terbaik
Mohammad Nurfatoni menyebut tiga nama kontributor terbaik di akhir acara. Ia mengatakan, ketiganya memenuhi tiga syarat. Pertama, kualitas penulisan beritanya sudah bagus. “Indikasinya, nyaris tanpa editing,” ungkapnya.

Kedua, mereka termasuk produktif dalam mengirim berita dan yang ketiga, berpengalaman dalam tugas liputan khusus atau tugas lainnya seperti sebagai editor. “Tentu ada kriteria subjektif, misalnya menyangkut pemerataan daerah sehingga jika ada dua terbaik di suatu daerah, maka hanya diambil satu dan satunya menunggu kesempatan berikutnya dengan catatan tetap memenuhi tiga kriteria itu di tahun depan,” ucapnya.

Terkait hadiah Rihlah Dakwah, Wakil Ketua PWM Jawa Timur Nadjib Hamid mengaku sumber dana kegiatan ini selain dari PWM, juga urunan pribadi-pribadi dan beberapa amal usaha Muhammadiyah.

Sesuai namanya, kegiatan ini ada rihlah dan dakwahnya. “Model Baitul Arqam, tapi langsung praktik di luar negeri. Keren kan,” ujarnya saat dihubungi PWMU.CO, Senin (29/4/19).

Nadjib menjelaskan, peserta Rihlah Dakwah ini sekitar 40 orang dan melibatkan beberapa majelis serta lembaga, juga organisasi otonom (ortom) tingkat daerah sebagai bentuk apresiasi atas kinerja mereka.

“Terutama majelis dann lembaga yang selama ini dianggap kering padahal sangat penting. Seperti Majelis Pendidikan Kader, Lembaga Pengembangan Cabang Ranting, Lembaga Informasi dan Komunikasi, Lembaga Kerjasama, dan ortom tertentu secara bergiliran,” paparnya. “Pada Rihlah Dakwah IV ini, insyaallah Agustus 2019.”

Destinasi Rihlah Dakwah ini, lanjut Nadjib, salah satunya Malaysia karena ada komunitas-komunitas luar biasa dalam berdakwah, juga ada lembaga-lembaga pendidikan yang inspiratif, termasuk organisasi politik. “Lalu Thailand atau Singapore (tergantung situasi dan kondisi), karena di negeri tersebut juga terdapat komunitas minoritas muslim yang memerlukan empati kita,” jelasnya.

Ia menambahkan, Darul Setiawan, kontributor terbaik yang mendapat hadiah Rihlah Dakwah pada Milad Ke-2 PWMU.CO baru bisa berangkat pada tahun ke-3 ini karena warga Muhammadiyah disibukkan oleh jihad politik. “Selain karena pertimbangan teknis, mengingat tiada hari tanpa keliling Jawa Timur, juga pertimbangan etik, tidak elok ketika yang lain berjuang mati-matian di dalam negeri, ada yang bersenang-bersenang ke luar negeri,” tuturnya.

Selamat! (Vita)