Pelantikan Bersama IMM Unair, Dua Alumni Bicarakan Masalah Ini

99
Pasang Iklan Murah
Pelantikan bersama empat komisariat IMM Unair. (Nurulita/PWMU)

PWMU.CO-Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Airlangga Surabaya melaksanakan pelantikan bersama dan seminar di The Millenium Building Jl. Pucanganom, Ahad (12/5/2019).

Pengurus yang dilantik adalah Koordinator Komisariat IMM Universitas Airlangga (Unair), Komisariat dr Soetomo (Unair Kampus A),  Komisariat Jenderal Soedirman (Unair Kampus B),  dan Komisariat Al Fatih (Unair Kampus C). Pelantikan dilakukan oleh Pimpinan Cabang IMM Surabaya.

iklan

Acara diselingi hiburan dengan menghadirkan band alumni SMA Muhammadiyah 1 Taman Sidoarjo yang menjadi kader IMM Unair, dan Angklung Harmony binaan IMM Surabaya.

Seminar diisi dua pembicara yang mengupas tema Masifikasi Peran IMM dalam Dakwah Intelektual Kampus dan Dakwah Sosial Masyarakat Berkemajuan.

Pembicara pertama Achmad Solihin, alumnus IMM Unair kandidat doktor di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Pembicara kedua Dr Sufyanto, alumnus IMM UIN Sunan Ampel Surabaya.

Achmad Solihin memaparkan, zaman sekarang lebih penting menelaah bagaimana Muhammadiyah di era digital ini mampu memberi perubahan nyata di kehidupan sosial. Untuk membuat perubahan di dunia kampus maupun di luar kampus, kita dapat memanfaatkan perkembangan zaman. Kampus seharusnya menjadi mercusuar pendidikan.

”Tiga gerakan untuk memberi perubahan nyata di sosial kemasyarakatan yaitu Gerakan Filantropi, Pemberdayaan Masyarakat, dan Gerakan Literasi Digital,” ujar alumnus FISIP Unair ini.

Dikatakan, lintas keilmuan harus bersatu untuk menangani masalah-masalah di dalam kampus maupun di luar kampus. Hal ini menjadikan kader-kader IMM harus bekerja sama dengan pihak lain. Membuka diri dengan organisasi-organisasi yang lain untuk menjadi IMM yang lebih kuat.

”Tidak hanya mencari kader yang banyak tetapi juga membuat gerakan-gerakan yang masif untuk membuat perubahan,” tuturnya.

Dia mengatakan, jangan takut berbuat salah. Membuat sesuatu yang berbeda. Seperti pendirian komisariat baru Komisariat Buya Hamka di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga yang telah dideklarasi Maret lalu.

”Lebih baik ingin melakukan sesuatu daripada tidak melakukan sesuatu. Karena tidak melakukan sesuatu merupakan kegagalan,” katanya.

Sementara itu Sufyanto menjelaskan, kader IMM harus membuka wawasannya dalam belajar memahami makna Islam. Bukan sekadar melaksanakan kewajiban seperti ibadah shalat, puasa dan ibadah lainnya.

Namun Islam juga mencakup sistem kehidupan politik, sosial ekonomi, dan budaya. Jika kader paham sistem Islam yang lengkap ini pasti tergerak untuk mengadakan perubahan. Mewujudkan Islam yang sebenar-benarnya sesuai rumusan ideologi Muhammadiyah. (Nuri, Nurulita)