Saad Ibrahim tentang Manusia seperti Sisir: Jangan Jadikan Siswa Objek Pendidikan

415
Pasang Iklan Murah
Saad Ibrahim (kiri) menyampaikan materi Tazkiyatun Nufus Jalan Menuju Kebahagiaan dengan moderator Zaki Abdul Wahid di Aula SDMM. (Fafa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Sebagai guru, kita hendaknya memandang murid dengan positivistik. Nasihat itu disampaikan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Dr M Saad Ibrahim MA dalam kegiatan pembinaan guru di SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Jalan Amuntai No 1 GKB Gresik, Jumat (31/5/19).

Kegiatan bertajuk “Strengthening Teacher’s Personality to Improve Learning Quality in 4.0 Era” itu diikuti 91 guru dan karyawan. Mereka berasal dari lima lembaga pendidikan di Kecamatan Manyar, yaitu Play Group Tunas Aisyiyah Perumahan Pongangan Indah (PPI), TK Aisyiyah 36 PPI, SDMM, MI Muhammadiyah 1 Gumeno, dan MI Muhammadiyah 2 Karangrejo.

iklan

Positivistik yang dimaksud, kata Saad, terkadang ada murid yang menjadikan kita heran sekian tahun kemudian. “Dulu gak pinter blas. Sekolah yo ngantukan. Saiki kok dadi wong penting. Saiki kok dadi wong alim bener. Nah itu kita tidak tahu,” ujarnya memberi contoh.

Pria kelahiran Mojokerto, 17 November 1954 itu mengingatkan, yang kita ajari ini manusia. Ia lalu meminta peserta memperhatikan kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya. “Tapi kalau perintah itu langsung dilakukan oleh Ibrahim tanpa ba-bi-bu, maka ia menjadikan anaknya tadi sebagai obyek,” tegasnya.

Saad mengatakan, manusia tidak boleh menjadi obyek. “Anak-anak kita itu bukan obyek. Dia juga subyek seperti kita,” ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, Nabi Ibrahim masih meminta pendapat anaknya. “Begitu anaknya punya pendapat, wahai ayahanda, lakukan yang diperintahkan Allah. Insyaallah Anda akan dapatkan ananda ini termasuk orang yang kokoh, sabar, dan bisa bertahan dalam melaksanakan perintah Allah,” jelasnya.

Ia menegaskan, jika Ibrahim menjadikan anaknya sebagai objek, maka si anak tidak mendapat pahala apa pun. “Tapi kalau dijadikan subjek, anak itu juga mendapat bagian pahalanya itu,” ungkapnya.

Saad menuturkan, jangan sekali-kali menjadikan murid-murid sebagai objek-objek kita. “Karena kalau kita menjadikan manusia sebagai objek, itu artinya kita meletakkan mereka sebagai subordinasi, yang berarti kita di atas, lalu siswa kita di bawah,” tuturnya.

Padahal, tambahnya, Nabi mengatakan, manusia itu seperti sisir, rata. “Ya ini sisir pada masa Nabi, kalau yang sekarang ada yang naik dan turun,” ujarnya disambut tawa peserta. (Vita)