Setelah Tujuh Kali Gagal, Anak Desa Alumnus Smamsatu Ini Dapat Beasiswa S2 di China

380
Pasang Iklan Murah
Agus Salim di tempat studi S2-nya di School of Economics, Northeast Normal University (东北师范大学), Changchun, Jilin, P.R. China. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – “Semua mimpi untuk belajar ke luar negeri berawal ketika saya belajar di SMA Muhammadiyah 1 Gresik, terutama ketika mendapatkan pelajaran bahasa Inggris,” kata Agus Salim, alumnus Smamsatu Gresik 2009 kepada PWMU.CO lewat WhatsApp, Senin (17/6/19).

Agus Salim masih ingat sekali ketika kali pertama ia bersekolah di Smamsatu Gresik yang sangat kesulitan untuk belajar bahasa Inggris dan komputer. “Saya itu dari desa, bahasa Inggris saya sangat amburadul, dan saya benar-benar gagap teknologi (gaptek) ketika pertama kali masuk sekolah ini,” kisahnya.

Tetapi, anak yang berasal dari Desa Pelangwot, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan ini merasa beruntung, karena ia bisa bersekolah di tempat yang tepat, yaitu SMA Muhammadiyah 1 alias Smamsatu Gresik.

Menurutnya, di sekolah inovatif ini ia bisa meng-upgrade (meningkatkan) kemampuannya dan belajar banyak hal. Lewat pembelajaran yang diterapkan di sini, ia mulai bisa mengejar ketertinggalannya, terutama dalam berbahasa Inggris. “Kepercayaan diri saya dalam berbicara bahasa Inggris semakin meningkat,” katanya.

Selain itu ia juga selalu mendapatkan motivasi, semangat, dan dorongan dari para guru untuk terus belajar, sehingga ia terus memiliki keinginan menuntut ilmu dan pantang menyerah.

Agus Salim (dua dari kiri) di acara International Conference di Asia Young Scholars Summit, di Tianjin, Tiongkok. (Istimewa/PWMU.CO)

Hal tersebut juga yang selalu ia ingat setelah ia lulus dari SMA Muhammadiyah 1 Gresik dan melanjutkan kuliah S1 di Universitas Jember (Unej) Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan tahun 2010-2014.

Tidak heran, setelah lulus Unej ia tidak tinggal diam. Ia terus berusaha untuk melanjutkan studi S2-ya ke luar negeri dengan mengajukan beasiswa.

“Setelah lulus kuliah di Unej, saya langsung mengajukan beasiswa ke luar negeri. Dari kurun tiga tahun saya mengajukan tujuh beasiswa ke luar negeri. Dan semuanya gagal,” katanya.

Rinciannya: tahun 2014 ia mengajukan tiga beasiswa ke Toyama Scholarship, China Scholarship, dan Korean Government Scholarship.

Tahun 2015 ke Asian Development Bank Scholarship dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Luar Negeri (LPDP LN).

Dan tahun 2016, ia juga mengajukan dua beasiswa, yaitu : Emerging Leader Scholarship at University of Sidney dan Chinese Government Scholarship.

Walaupun gagal, ia tetap pantang menyerah. Di tahun 2017, ia mengajukan beasiswa lagi ke Chinese Government Scholarship dan akhirnya berhasil.

“Yang pasti, untuk memperjuangkan sesuatu, terutama pendidikan, kita tidak boleh menyerah. Mungkin saya bisa gagal tujuh kali, tapi saya selalu yakin bahwa semakin banyak mencoba, saya semakin dekat dengan keberhasilan,” katanya.

Benar apa yang dikatakan Agus Salim. Setelah gagal tujuh kali akhirnya pada usaha yang kedelapan ia berhasil. Ia kini melanjutkan studi S2 (master) di School of Economics, Northeast Normal University (东北师范大学), Changchun, Jilin, P.R. China (2017-2020)

Pemuda desa yang ingin meraih gelar Ph.D (doktor) di bidang Econometrics di China ini berpesan kepada adik kelasnya di Smamsatu Gresik untuk terus yakin bahwa apa yang sedang kita pelajari dan kita perjuangkan dengan jerih payah saat ini akan memberikan manfaat untuk kehidupan kita di masa mendatang. (M. Ali Safa’at)

Agus Salim (dua dari kiri) di acara Changchun Jingyuetan International Forest Marathon. (Istimewa/PWMU.CO)