Saad Ibrahim: Alquran Beri Peringatan Keras (Calon) Penguasa karena Berpotensi Dzalim

222
Pasang Iklan Murah
M Saad Ibrahim. (Edo/PWMU.CO)

PWMU.CO – Warga Muhammadiyah diharapkan dapat melihat makna silaturahim secara esensial. Terutama mereka yang sedang mendapat amanah memimpin amal usaha atau yang menjadi penguasa.

Hal tersebut diungkapkan Dr M. Saad Ibrahim MA, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dalam Silaturahim Halal bi Halal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Aula Mas Mansur Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Sabtu (22/6/19).

iklan

Dalam silaturahim, lanjut Dosen Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu, setidaknya terdapat tiga makna. Dalam kata silah ada makna relationship (hubungan), protection (memberi perlindungan pada yang lemah) dan bail (pemberian jaminan atau bantuan). “Sedangkan rahim dalam bahasa Indonesia bermakna belas kasihan dan kasih sayang,” ujar Saad.

Saad lalu menyebut surat Muhammad ayat 22-23 sebagai peringatan bagi mereka yang berpotensi menjadi penguasa. “Ada peringatan bagi mereka yang membuat kerusakan di muka dan memutus silaturahim, Allah melaknat mereka, Allah menjadikan mereka tuli dan membutakan mata hati mereka,” ungkap Saad.

Mengapa Allah memberi peringatan keras pada mereka calon penguasa dan penguasa? Sebab, kata Saad, banyak mereka yang semakin berkuasa maka tingkat kedzaliman semakin tinggi. “Padahal kewajiban orang-orang berkuasa adalah melakukan proteksi pada yang lemah serta menegakkan prinsip-prinsip keadilan,” ujarnya.

Jika penguasa melakukan kedzaliman, lanjut Saad, maka tingkat kerusakan semakin besar. “Padahal kedzaliman itu benar-benar menghancurkan peradaban,” tutur Saad mengutip pendapat Ibnu Khaldun.

Saad kemudian mengingatkan bagi mereka yang berkuasa di amal usaha agar dapat melakukan silaturahim. “Agar kita tidak diperingatkan Allah dalam peringatan yang keras surat Muhammad ayat 22-23,” ungkapnya.

Perhatian silaturahim, lanjut Saad, juga harus pada yang kecil-kecil. “Agar yang kecil merasa diperhatikan, dan yang besar tetap menjadi besar,” ungkap Saad.

Sebab, menurut Saad, amal usaha Muhammadiyah tidak semuanya besar. Hanya sekitar 20 persen yang besar. “Ajang silaturahim dapat menjadi bagian pergerakan Muhammadiyah. Yang kecil tidak tetap kecil, dan yang besar tetap mendapatkan kehormatan membesarkan yang kecil,” ujarnya. (Darul)