Din Syamsuddin: Bangsa Ini Jangan Sampai Terpecah Belah Hanya karena Perbedaan Politik

194
Pasang Iklan Murah
M. Din Syamsuddin (kiri) di tengah peserta halal BI halal. (Sugiran/PWMU.CO)

PWMU.CO – Pimpinan persyarikatan dan organisasi otonom Muhammadiyah sebaiknya lebih dewasa dalam berpolitik. Jangan sampai peristiwa politik saat ini memecah belah warga Muhammadiyah. Apalagi menjadikannya sebagai persoalan hidup mati.

Hal itu disampaikan oleh Prof Din Syamsuddin pada Silaturahim Halal bi Halal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Aula Mas Mansur Gedung Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Sabtu (22/6/19).

“Sebuah kerugian besar dan adalah bentuk kejahiliyahan modern kalau warga maupun pimpinan Muhammadiyah putus hubungan silaturrahim gara-gara berbeda aspirasi dan pilihan politik,” ujar Din.

Menurutnya, bagi manusia dewasa dan negarawan maka perbedaan politik itu biasa. “Muhammadiyah harus lebih melihat ke depan dan yang ini biar berlalu. Kita telah berusaha, maka Faidza ‘azamta fatawakkal ‘alallah, faidza fa’alta fatawakkal ‘alallah, hasilnya serahkan kepada Allah,” pesan Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pondok Labu Jakarta ini.

Din menegaskan, politik Muhammadiyah adalah amar makruf nahi munkar. “Itu politik nilai. Ayat waltakum minkum dan seterusnya yang banyak dibahas pada Kajian Ramadhan 1440 H PWM Jatim yang lalu merupakan satu paket menarik agar umat ini jangan berpecah belah,” ujar Din.

Bangsa ini, sambungnya, jangan sampai terpecah belah dan saling membunuh hanya karena perbedaan politik. Dahulu pasca-Nabi wafat, umat Islam hampir terpecah belah, tetapi Allah masih menyelamatkannya.

“Pertanyaannya kalau sekarang terjadi lagi perpecahan, apakah Allah masih akan menyelamatkan kita lagi. Ada sebagian yang berpendapat tidak lagi, maka harus dihindari perpecahan umat ini,” kata Din.

Din mengatakan, waltakum minkum sebagai ayat favorit Muhammadiyah sebenarnya adalah solusi untuk menghindari perpecahan. “Maka harus ada yang mengajak kepada kebaikan, termasuk gerakan membangun amal usaha Muhammadiyah (AUM), mengajak orang kepada yang menghidupkan, tetapi harus menjadi mushlih atau ishlahatul bait dulu, yakni harus menjadi pendamai-pendamai atau rekonsailer-rekonsailer,” ungkapnya.

Menjadi mushlih atau pendamai itu, lanjut Din, tidak mungkin kalau dia adalah bagian yang terlibat. Tidak mungkin kalau dia adalah pihak yang bermain. Maka dia hanya menjadi objek pendamai, bukan merupakan subjek pendamai. “Maka Muhammadiyah perlu mengambil peran sebagai pendamai ini, dan syaratnya jangan menjadi pihak yang didamaikan,” tegasnya.

Islam mengajarkan dan menganjurkan memberikan maaf. Orang yang tidak meminta maaf pun kepada kita maka harus dimaafkan. Memang berat, tapi itulah tuntunan Islam.

“Memberikan maaf kepada manusia, bukan hanya sesama Muslim. Untuk bisa memaafkan sesama manusia, maka berdamailah dulu dengan diri sendiri,” tandasnya.

Jangan menjadi orang yang tidak siap kalah dan hanya mau menang. “Perhatikan filsafat Jawa yang sangat Islami ini. Nglurug tanpo bolo, menang tanpo ngasorake, lan digdoyo tanpo aji. Maknanya menyerang tanpa kawan, menang tanpa merendahkan, dan sakti tanpa pusaka,” pesannya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Tapi Din memberi catatan khusus, “Asalkan Mahkamah Konstitusi sudah bekerja dengan jujur dan adil. Kalau masih dirasakan belum jujur dan adil maka jadikanlah itu sebagai catatan sejarah untuk dikoreksi pada masa mendatang agar jangan terulang kembali. Yang penting kita sudah melakukan amar makruf nahi munkar, tapi biarlah Allah yang menentukan hasilnya.” (Sugiran)