Di Desa Mojopetung, Din Syamsuddin Singgung Kebiasaan Umat Islam yang Tak Menghadirkan Allah di Meja Makan

1302
Pasang Iklan Murah
Din Syamsuddin saat memberikan tausiah. (Nia Ambarwati/PWMU.CO)

PWMU.CO – Prof Dr M Din Syamsuddin MA menyatakan dalam bulan Syawal ini hendaknya kita semua bisa kembali suci. “Kesucian diri harus tetap kita dapatkan di sebelas bulan di luar bulan Ramadhan sebagai konsistensi kita akan nilai-nilai kebaikan selama bulan Ramadhan.”

Hal itu disampaikan dalam acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan Pimpinan Ranting Muhammadiyah Mojopetung, Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik di Muhammadiyah Education Center (MEC) Jalan Raya Mojopetung Dukun, Sabtu (22/6/19).

Din mengungkapkan, umat Muslim saat ini kurang menghadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari meskipun pada hal-hal yang sangat sederhana.

iklan

“Di Indonesia umat Muslim belum sepenuhnya menghadirkan Allah dalam hal kecil seperti makan. Perbedaan makan di rumah makan antara orang Nasrani dan Muslim berbeda. Umat Nasrani selalu menghadirkan Tuhan dalam segala hal salah satunya berdoa sebelum makan, namun jarang ditemui umat Muslim makan di rumah makan dengan di awali doa bersama justru langsung menyantap makanan atau bahkan mengambil gambar makanan yang akan disantap,” ujar Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Umat Muslim, menurutnya, harus terus berdoa kepada Allah tanpa merasa putus asa sebab Allah sangatlah dekat dengan hamba-Nya yang meminta pertolongan dan akan mengabulkannya baik di dunia maupun di akhirat.

Ada dua syarat yang harus dilakukan umat Muslim jika doa-doanya ingin terkabulkan “Pertama, hendaknya mereka beristijabah yakni mengharapkan balasan doa dari Allah dan berdoa dengan penuh pengharapan. Kedua, benar-benar meningkatkan keimanan kepada Allah agar Allah mengabulkan doa-doa kita,” tuturnya.

Din berharap setelah bulan Ramadhan berakhir ini kita semua masih menjaga keimanan dan menjadi insan yang paripurna. “Sebagai Muslim semoga nilai-nilai Ramadhan yang kita bangun sebulan penuh tidak jebol di sebelas bulan lainnya. Marilah kita pelihara nilai-nilai Ramadhan dan semoga Ramadhan kemarin tidak menjadi Ramadhan terakhir bagi kita,” pesanya. (Nia Ambarwati)