Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dosen Unair Bedah Perbedaan Karakter Gen Z dan Alpha

Iklan Landscape Smamda
Dosen Unair Bedah Perbedaan Karakter Gen Z dan Alpha
Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Arya Wanda Wirayuda, dalam Akademi Sejarawan Muhammadiyah 2026 di Hotel Dafam Pacific Caesar Surabaya, Sabtu (8/8/2026). (Istimewa//PWMU.CO).
pwmu.co -

Diskusi siang itu di Hall Lantai 6 Hotel Dafam Pacific Caesar Surabaya, Sabtu (8/8/2026) tampak khidmat.

Materi keenam Akademi Sejarah Muhammadiyah bertema “Mengorkestrasi Anak Muda dalam Penulisan Sejarah Lokal” itu menghadirkan Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Arya Wanda Wirayuda SHum MA.

Membuka penyampaiannya, Arya menuturkan bahwa anak muda, khususnya Generasi Z (Gen Z) dan Generasi Alpha (Gen Alpha) berbeda dari Generasi Milenial maupun Baby Boomers.

“Kita berhadapan dengan dua generasi, Gen Z dan Gen Alpha. Itu akan menjadi sesuatu yang menarik, dan menantang untuk dihadapi” terangnya.

Sebagai informasi, Gen Z merupakan anak-anak kelahiran 1997 hingga 2012, adapun Gen Alpha merupakan mereka yang lahir pada 2013 hingga 2024.

Secara karakteristik, Arya berujar bahwa Gen Z  adalah digital native yang mengalami transisi dari internet awal menuju ekosistem media sosial dan mobile,

Sedangkan Gen Alpha lebih dini terpapar layar sentuh, algoritma, AI, video pendek dan pengalaman belajar interaktif.

“Gen Z fleksibel, tapi alpha membutuhkan pengalaman interaksi personal, kecenderungannya dengan dialog” tuturnya.

Lebih lanjut, menurut Arya, baik generasi Z maupun Alpha masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda.

SMPM 5 Pucang SBY

“Ini kebutuhan yang harus kita pegang. Gen Z kebutuhan utamanya fleksibel dan sesuai kebutuhan dunia nyata. Kemudian ruang berpendapat, kolaborasi, serta dukungan sosial emosional” tegasnya.

Adapun bagi generasi Alpha, mereka membutuhkan pengalaman belajar interaktif , pendampingan penggunaan AI, kemampuan sosial, dan kreativitas.

“Kemudian bagaimana menggerakkan anak muda untuk menulis sejarah lokal?” tanya Arya memantik rasa ingin tahu peserta Akademi Sejarah Muhammadiyah.

Arya menyebut bahwa pertama, upaya tersebut dimulai dari pengalaman dekat, kampung, sekola tokoh, bangunan, taradisi, usaha, konflik, dan perubahan lingkungan mereka sendiri.

“Perlu melihat konteks sejarah mereka sendiri, apa yang mereka alami di sekolah” ujarnya. Sebab menurutnya, sejarah itu harus melihat dari dalam, bukan dari luar.

Gen Z, lanjutnya, perlu diberikan kebebasan memandang sejarah sepeti apa. Ia menyarankan agar pendapat tersebut jangan langsung diluruskan, namun dibimbing secara perlahan. “Jangan paksakan top-down, gunakan bottom-up” terangnya.

Secara singkat, berikut model gerakan 5 langkah:

  1. Temukan cerita lokal
  2. Latih riset dasar
  3. Tulis dan verifikasi
  4. Publikasikan
  5. Apresiasi dan lanjutkan.
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu