Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hama Tikus Menyerang Seluruh Wilayah, Bagaimana Petani Seharusnya?

Iklan Landscape Smamda
Hama Tikus Menyerang Seluruh Wilayah, Bagaimana Petani Seharusnya?
Khamim Asyari saat memberi pemaparan (Eko/PWMU.Co)
pwmu.co -

Serangan hama tikus yang terjadi di berbagai wilayah menjadi persoalan serius bagi para petani. Jika tidak dikendalikan dengan tepat, keberadaan tikus dapat mengganggu produktivitas pertanian sekaligus merusak keseimbangan ekosistem.

Persoalan inilah yang mendorong Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) yang berada di bawah naungan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Lamongan menggelar Pelatihan Pengendalian Hama Tikus.

Kegiatan berlangsung di Padepokan Bukit Alam Lestari, Desa Solokuro, Kabupaten Lamongan, Ahad (13/9/2026). Pelatihan diikuti para petani, khususnya warga Muhammadiyah Lamongan.

Hadir sebagai narasumber, Khamim Asyari, praktisi Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) tingkat nasional yang telah beberapa kali memperoleh penghargaan dari pemerintah, baik tingkat provinsi maupun nasional.

Pria yang akrab disapa Yai Khamim tersebut mengawali paparannya dengan mengingatkan bahwa Allah SWT menciptakan alam dan segala isinya dalam kondisi seimbang dan sempurna. Namun, kerusakan alam kerap terjadi akibat ulah manusia yang mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan.

Hama Berkembang karena Ekosistem Tidak Seimbang

Menurut Khamim, berkembangnya hama di lahan pertanian tidak dapat dilepaskan dari berkurangnya faktor pengendali organisme pengganggu tumbuhan. Akibatnya, keseimbangan alam terganggu dan populasi hama semakin sulit dikendalikan.

Ia menjelaskan setidaknya terdapat lima hal yang perlu menjadi perhatian petani.

Pertama, berkembang biak merupakan naluri setiap makhluk hidup. Hama juga akan terus berkembang biak ketika kondisi lingkungannya mendukung. Karena itu, praktik pertanian yang dilakukan tanpa memperhatikan keseimbangan tanah dan ekosistem dapat memicu ledakan populasi hama.

Khamim menyoroti praktik penanaman yang dilakukan terus-menerus tanpa jeda serta penggunaan herbisida secara berlebihan. Menurutnya, penggunaan herbisida secara serampangan dapat berdampak pada mikroorganisme dan organisme lain yang berperan dalam menjaga kesuburan tanah.

Kedua, berkurangnya predator alami hama. Di berbagai daerah, hewan seperti burung hantu, ular, biawak, dan musang kerap diburu atau dibunuh karena dianggap mengganggu manusia. Padahal, sebagian hewan tersebut memiliki peran penting sebagai predator alami tikus.

“Ketika predator hama berkurang, keseimbangan ekosistem juga terganggu. Padahal, predator seperti burung hantu dan ular memiliki peran dalam mengendalikan populasi tikus,” jelasnya.

Ketiga, pola pertanian monokultur. Menurut Khamim, penanaman satu jenis tanaman secara terus-menerus pada lahan yang sama dapat memudahkan hama berkembang dan menyerang tanaman.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itu, petani perlu mempertimbangkan diversifikasi tanaman, tumpang sari, serta rotasi tanaman agar ekosistem pertanian lebih beragam dan tidak mudah didominasi satu jenis hama.

Keempat, lemahnya kebersamaan antarp etani. Ia menilai pengendalian hama tidak akan maksimal apabila petani hanya memikirkan lahannya masing-masing.

Jika satu kawasan terserang hama, pengendalian harus dilakukan secara bersama-sama. Sebab, tikus tidak mengenal batas kepemilikan lahan.

Kebersamaan juga diperlukan dalam berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai cara meningkatkan produktivitas pertanian.

Kelima, petani harus terus meningkatkan pengetahuan. Khamim mendorong petani untuk mengikuti sekolah lapang dengan kurikulum yang disusun berdasarkan persoalan nyata di lapangan.

Bangun Ekosistem, Jangan Hanya Membunuh Hama

Mengakhiri paparannya, Khamim menekankan pentingnya membangun ekosistem pertanian melalui kesepakatan bersama antarp etani. Pengendalian hama tidak semata-mata dilakukan dengan membunuh sebanyak-banyaknya hama, tetapi juga dengan menjaga keberadaan musuh alami.

Ia mengapresiasi langkah Jatam Lamongan yang membagikan Rumah Burung Hantu (Rubuha) kepada para petani.

“Saya berterima kasih kepada Jatam Lamongan yang membagikan rumah burung hantu sebagai penjaga ekosistem alami. Setelah ini seluruh anggota Jatam harus berkomitmen membangun ekosistem dengan kesepakatan antarp etani, tidak menggunakan racun akut yang dapat membunuh hewan predator, dan memastikan musuh alami tikus harus berkembang,” pungkas Khamim.

Pada kesempatan tersebut, Jatam Lamongan juga membagikan puluhan Rubuha kepada perwakilan cabang. Rumah burung hantu tersebut diharapkan dapat ditempatkan di wilayah masing-masing sehingga menjadi habitat bagi burung hantu sebagai salah satu predator alami tikus. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 15/09/2026 21:43
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu