Perjalanan panjang menuju Tanah Suci ternyata tidak hanya menghadirkan rasa kantuk akibat perbedaan waktu atau jet lag. Para jamaah haji juga mulai merasakan perubahan pola makan selama penerbangan menuju Arab Saudi.
Perbedaan waktu sekitar empat jam antara Indonesia dan Arab Saudi membuat tubuh para jamaah seolah “bingung” menentukan waktu sarapan.
Ketika waktu di Indonesia sudah menunjukkan pukul 08.00 hingga 10.00 pagi, ternyata di Arab Saudi masih sekitar pukul 05.00 dini hari. Namun tubuh jamaah yang terbiasa sarapan pagi mulai merasakan lapar.
Situasi tersebut membuat bekal makanan ringan menjadi sangat penting selama perjalanan.
Roti, biskuit, telur rebus, atau makanan kecil lainnya sebaiknya disimpan di tas kecil yang mudah dijangkau selama penerbangan.
Hal itu juga dirasakan Moh. Ernam, salah satu jamaah haji asal Indonesia yang membawa dua butir telur rebus sebagai bekal perjalanan.
“Dua telur itu akhirnya menjadi penyelamat pagi hari. Dengan bekal sederhana itu saya bisa minum obat lalu kembali beristirahat,” tulisnya.
Selain telur rebus, ia juga membawa biskuit Marie Regal untuk cadangan selama penerbangan panjang.
Di tengah suasana penerbangan, hadir pula pengalaman menarik bersama salah satu pramugara pesawat Saudia bernama Murod.
Pramugara tersebut dikenal ramah dan humoris kepada jamaah Indonesia.
Saat melihat biskuit yang dibuka penumpang, Murod justru mengambilnya dan membagikannya kepada jamaah lain di sekitar kursi, sehingga membuat suasana kabin penuh tawa.
Ia juga aktif menawarkan makanan dan minuman serta membantu jamaah dengan sabar sepanjang perjalanan.
Suasana pesawat kembali ramai ketika pengumuman pembagian sarapan pagi terdengar dari pengeras suara kabin.
Banyak jamaah tampak lega dan bersyukur karena rasa lapar mulai teratasi.
Menu sarapan pagi terdiri atas nasi hangat dengan lauk ikan, tahu berbumbu manis, buah jeruk, serta pilihan minuman teh, kopi, dan jus.
“Alhamdulillah… makanan datang,” ujar sejumlah jamaah dengan wajah lega.
Udara dingin kabin membuat teh hangat dan jus mangga terasa semakin nikmat dinikmati para jamaah.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawa pesawat mendekati Bandara King Abdulaziz International Airport, Jeddah.
Sebelum mendarat, seluruh jamaah mulai bersiap mengambil miqat dan mengenakan niat ihram sesuai jenis haji yang dijalankan.
Bagi jamaah haji tamattu’, niat yang dibaca adalah niat umrah. Sementara jamaah haji ifrad membaca niat haji.
Suasana kabin pun berubah khusyuk ketika talbiyah mulai menggema bersama-sama:
Labbaik Allahumma labbaik…
Perjalanan menuju Tanah Suci benar-benar mulai terasa.





0 Tanggapan
Empty Comments