Kesal (mutadhayyiq) dan kekesalan biasa muncul ketika seseorang menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Seorang ibu dapat merasa kesal karena anaknya sulit diatur dan dinasihati. Seorang anak pun dapat merasa kesal ketika setiap hari menyaksikan orang tuanya bertengkar.
Demikian pula seorang istri bisa kesal karena kebutuhannya tidak terpenuhi, sementara seorang suami dapat merasa kesal ketika uang belanja yang diberikan selalu habis dan tidak sesuai harapan.
Kesal adalah perasaan yang dapat dialami siapa saja. Namun, jika tidak dikendalikan, rasa kesal dapat berkembang menjadi penyakit hati yang berdampak pada hubungan dengan orang lain.
Kesal Harus Dihilangkan
Kesal dan kekesalan berkaitan erat dengan hati. Karena itu, perasaan tersebut perlu dikendalikan agar tidak berubah menjadi ucapan atau perbuatan yang menyakiti orang lain. Allah mengingatkan agar kaum beriman tidak menyakiti orang lain tanpa alasan yang benar (QS. Al-Ahzab: 58).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Tidak boleh ada tindakan menyakiti dan tidak boleh membalas dengan menyakiti.” (HR. Ibnu Majah dan Daruqutni).
Kisah Nabi Ya’qub alaihis salam menunjukkan bahwa rasa kesal dapat muncul bahkan dalam hubungan keluarga. Beliau merasa sangat sedih dan kecewa karena Yusuf dan Bunyamin tidak kembali setelah dibawa oleh saudara-saudaranya (QS. Yusuf: 83).
Demikian pula Nabi Yusuf alaihis salam pernah merasakan kesal kepada saudara-saudaranya yang dahulu telah menyakitinya. Namun, ketika mereka bertemu kembali, Yusuf tidak melampiaskan kekesalannya. Ia memilih menahan diri dan tidak menunjukkan kebencian (QS. Yusuf: 77).
Bahkan pada akhirnya, Yusuf memaafkan mereka. Ia tidak menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk memutus hubungan persaudaraan. Sebaliknya, ia meminta mereka membawa ayah, ibu, dan seluruh keluarga mereka ke Mesir (QS. Yusuf: 92, 99).
Dari kisah tersebut terlihat bahwa kesal boleh saja muncul sebagai perasaan manusiawi, tetapi tidak seharusnya dipelihara hingga berubah menjadi kebencian.
Kesal Dapat Berujung Benci dan Marah
Kesal yang dibiarkan dapat berkembang menjadi kebencian. Nabi Luth alaihis salam, misalnya, merasa sangat kecewa dan terhina ketika kaumnya datang beramai-ramai untuk melakukan perbuatan keji terhadap tamu-tamunya. Beliau bahkan menyatakan ketidaksukaannya terhadap perbuatan mereka (QS. Asy-Syu’ara: 168).
Kesal juga dapat memicu kemarahan. Nabi Musa alaihis salam pernah merasa kecewa terhadap kaumnya karena perilaku mereka yang berulang kali menimbulkan persoalan. Mereka juga tidak mensyukuri nikmat makanan yang telah Allah berikan. Ketika diberi Manna dan Salwa, mereka justru meminta makanan lain seperti bawang dan kacang adas (QS. Al-Baqarah: 57, 61; Al-A’raf: 160).
Allah mengabadikan teguran Musa alaihis salam, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik?” (QS. Al-Baqarah: 61).
Kekecewaan Musa semakin besar ketika ia kembali dari Bukit Sinai dan mendapati kaumnya menyembah patung anak sapi buatan Samiri (QS. Thaha: 92–97).
Kisah ini menunjukkan bahwa kemarahan dapat muncul karena adanya perilaku yang dianggap menyimpang. Namun, seorang muslim tetap perlu belajar mengendalikan kemarahan agar tidak berujung pada tindakan yang merugikan.
Meredam Kesal dengan Kelapangan Hati
Kesal tidak selalu dapat dihindari. Akan tetapi, kesal dapat dikelola. Islam mengajarkan beberapa sikap yang dapat membantu seseorang meredam kekesalan.
Pertama, lapang hati dan memaafkan.
Kelapangan hati dan kebesaran jiwa membuat seseorang tidak mudah dikuasai oleh rasa kesal. Hal ini tercermin dalam kisah Nabi Yusuf alaihis salam yang memilih memaafkan saudara-saudaranya.
Ketika memiliki kesempatan untuk membalas, Yusuf justru berkata:
“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni kamu.” (QS. Yusuf: 92).
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan berarti memilih untuk tidak menjadikan kesalahan orang lain sebagai beban yang terus dipelihara dalam hati.
Kedua, ikhlas dan mengikhlaskan.
Rasa kesal tidak seharusnya disimpan selamanya. Jika terus dipelihara, ia dapat berubah menjadi iri, benci, bahkan dendam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa kebencian dapat mengikis agama seseorang (HR. Tirmidzi).
Karena itu, seseorang yang merasa kesal perlu belajar mengikhlaskan. Ikhlas bukan berarti tidak merasa sakit hati, melainkan berusaha melepaskan beban tersebut dan menyerahkan urusannya kepada Allah.
Ketiga, sabar dan bersabar.
Sabar merupakan salah satu kekuatan seorang muslim dalam menghadapi perkataan dan perbuatan orang lain yang tidak menyenangkan. Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar terhadap berbagai gangguan yang mereka hadapi (QS. Ali Imran: 186).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan mereka lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Sabar bukan berarti membiarkan diri diperlakukan buruk. Sabar adalah kemampuan mengendalikan respons agar persoalan tidak semakin besar.
Keempat, menghilangkan penyebab kesal.
Kesal sering muncul karena seseorang merasa dihina, diremehkan, diejek, atau diperlakukan tidak adil. Karena itu, penyebabnya perlu diselesaikan dengan cara yang baik.
Kisah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjadi pelajaran penting. Ia pernah mencela seseorang dengan membawa-bawa ibunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegurnya karena tindakan tersebut merupakan bagian dari perilaku jahiliyah (HR. Bukhari).
Artinya, ucapan yang merendahkan orang lain dapat menjadi sumber luka dan kekesalan. Karena itu, menjaga lisan merupakan bagian penting dalam menjaga hubungan antarmanusia.
Tenang, Diam, dan Tersenyum
Ketika mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan, seseorang tidak harus selalu membalas dengan kemarahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan ketenangan dan kelembutan.
Ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha marah karena mendengar orang Yahudi mengucapkan perkataan yang tidak baik kepada Rasulullah, beliau menenangkan Aisyah dan mengingatkan bahwa Allah menyukai kelembutan dalam segala urusan (HR. Bukhari dan Muslim).
Sikap tenang bukan tanda kelemahan. Justru ketenangan membantu seseorang berpikir sebelum berbicara dan bertindak.
Demikian pula senyum dapat menjadi cara sederhana untuk meredam ketegangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi).
Dalam sebuah hadis juga diceritakan bahwa seorang Arab Badui pernah memperlakukan Rasulullah dengan kasar ketika meminta sesuatu. Namun Rasulullah tidak membalas dengan kemarahan. Beliau justru tersenyum dan memerintahkan sahabat untuk memberikan apa yang dimintanya (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesal Boleh Datang, Jangan Dipelihara
Kesal merupakan bagian dari perasaan manusia. Ada saja perkataan, sikap, atau keadaan yang membuat hati tidak nyaman. Namun, sebagai seorang muslim, kita tidak boleh membiarkan rasa kesal menetap hingga berubah menjadi benci, marah, iri, atau dendam.
Karena itu, ketika rasa kesal datang, kita perlu segera meredamnya dengan lapang hati, memaafkan, ikhlas, sabar, menyelesaikan penyebabnya, bersikap tenang, dan menghadapi keadaan dengan senyuman.
Sebab, hidup akan terasa lebih damai bukan karena tidak pernah menghadapi orang atau keadaan yang menyebalkan, melainkan karena kita mampu memilih bagaimana meresponsnya.
Kesal mungkin tidak selalu dapat dicegah. Tetapi bagaimana kesal itu berakhir, ada dalam kendali kita.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments