Ada suasana berbeda di ruang siar RRI Madiun, Senin (7/9/2026). Di balik mikrofon yang setiap hari digunakan penyiar profesional, duduk Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT), Dr. Fajar Junaedi, M.Si.
Kali ini ia tidak datang untuk memberikan kuliah, menghadiri rapat, atau berbicara dalam forum akademik. Fajar berada di ruang siar untuk membacakan berita.
Tiga berita dan sejumlah informasi singkat dari berbagai wilayah Madiun Raya yang dihimpun reporter RRI Madiun menjadi bahan yang dibacakan Fajar dalam Program Siaran Dinamika Siang RRI Pro 1 Madiun.
Suaranya mengalir melalui gelombang radio. Siaran itu juga dapat disaksikan melalui live streaming YouTube RRI Madiun.
Bagi RRI, kehadiran Fajar merupakan bagian dari edisi khusus memperingati HUT ke-81. Lembaga penyiaran publik itu mengundang sejumlah tokoh dan mitra untuk merasakan langsung pengalaman berada di balik mikrofon dan membacakan berita untuk pendengar.
UMJT menjadi salah satu mitra yang mendapat kesempatan tersebut. Namun, bagi Fajar, momen itu bukan sekadar pengalaman menjadi pembaca berita sehari.
Ada pesan yang lebih besar di baliknya: kampus dan dunia kerja tidak seharusnya berjalan di jalur masing-masing.
“Dalam rangka ulang tahun ke-81 RRI, RRI Madiun mengundang mitra untuk menjadi pembaca berita. Salah satu mitra tersebut adalah UMJT,” ujar Fajar.
Dari Ruang Kelas ke Ruang Siar
Fajar tidak benar-benar asing dengan dunia yang satu ini. Sebagai dosen Ilmu Komunikasi, ia justru sehari-hari mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan seseorang ketika berhadapan dengan mikrofon dan khalayak.
Ada mata kuliah Announcing Skill yang salah satu materinya berkaitan dengan keterampilan membawakan program siaran.
Karena itu, ketika naskah berita berada di hadapannya dan lampu ruang siar menyala, Fajar mengaku tidak mengalami kesulitan berarti.
“Karena kebetulan saya adalah dosen Ilmu Komunikasi dan ada mata kuliah Announcing Skill, jadi tidak kesulitan dalam membaca berita,” katanya.
Pengalaman tersebut seperti mempertemukan dua dunia yang selama ini kerap dipisahkan: ruang kelas dan ruang kerja.
Apa yang dipelajari mahasiswa di kampus pada akhirnya memang harus menemukan tempat untuk dipraktikkan. Begitu pula dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menggunakannya dalam situasi nyata.
Fajar melihat keterlibatan UMJT di RRI Madiun dalam perspektif tersebut. Menurut dia, banyak alumni UMJT yang telah berkiprah di berbagai bidang media, mulai media cetak, penyiaran, hingga media digital. RRI menjadi salah satu ruang tempat lulusan UMJT mengembangkan kompetensinya.
“Hal ini menunjukkan kurikulum di UMJT yang sesuai dengan profil lulusan yang dibutuhkan dunia kerja,” ujarnya.
Tidak Cukup Hanya di Dalam Kampus
Dari sebuah ruang siar, pembicaraan kemudian bergerak ke gagasan yang lebih besar tentang kampus berdampak.
Fajar mengatakan kolaborasi UMJT dengan RRI Madiun menunjukkan implementasi kampus berdampak. Kampus, menurut dia, tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan penelitian, tetapi juga perlu hadir dan berinteraksi dengan berbagai institusi serta masyarakat.
Kehadiran UMJT di RRI Madiun juga dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan lembaga penyiaran publik sesuai amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.
Di titik inilah pengalaman sederhana membaca berita menjadi bagian dari hubungan kelembagaan yang lebih luas.
Sebab, mikrofon bukan hanya alat untuk menyampaikan berita. Ia juga bisa menjadi pintu masuk untuk membangun komunikasi dan kolaborasi.
Tidak Berhenti pada Magang
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UMJT, Awit Istighfarin, M.Medkom., melihat peluang tersebut.
Selama ini UMJT dan RRI Madiun telah memiliki kerja sama, salah satunya melalui program magang mahasiswa.
Namun, kerja sama itu dinilai masih bisa dikembangkan lebih jauh.
“Kehadiran Wakil Rektor I UMJT menjadi pembawa berita di RRI Madiun sebagai upaya untuk memperbarui sekaligus memperluas ruang lingkup kerja sama dengan RRI Madiun,” ujar Awit.
Artinya, mahasiswa tidak hanya datang ke RRI untuk belajar melalui program magang, kemudian kembali ke kampus setelah masa magangnya selesai.
Ada peluang yang lebih besar untuk mempertemukan kebutuhan akademik dengan pengalaman profesional di dunia penyiaran.
“Jadi tidak hanya kerja sama magang mahasiswa yang sudah kita jalin dengan RRI Madiun, tetapi ke depan bisa menjalin kerja sama yang lebih luas,” katanya.
Kerja sama itu dapat mencakup pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun bidang lain dalam kerangka Tri Dharma perguruan tinggi.
Termasuk penyiaran, pengembangan kompetensi mahasiswa, serta pemanfaatan media RRI untuk mendiseminasikan informasi dan hasil kegiatan akademik.
“Termasuk penyiaran, pengembangan kompetensi mahasiswa, maupun pemanfaatan media RRI untuk mendiseminasikan informasi dan hasil kegiatan akademik,” terang Awit.
Mikrofon yang Membuka Jalan
Di ruang siar, Fajar mungkin hanya membacakan beberapa berita.
Tetapi dari sana terbuka percakapan yang jauh lebih panjang tentang bagaimana kampus dan lembaga penyiaran dapat saling mengisi.
Kampus memiliki mahasiswa, dosen, pengetahuan, penelitian, dan gagasan. RRI memiliki pengalaman jurnalistik, jaringan penyiaran, serta ruang untuk menjangkau masyarakat.
Ketika keduanya bertemu, yang diharapkan bukan sekadar seremoni kerja sama.
Ada pengetahuan yang bisa dipertukarkan. Ada kompetensi mahasiswa yang bisa dikembangkan. Ada hasil penelitian dan kegiatan akademik yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat.
Karena itu, Awit berharap kerja sama kedua lembaga benar-benar menjadi hubungan yang hidup.
“Jadi MoU ini menjadi payung kerja sama yang lebih luas dengan harapan bahwa hubungan UMJT dan RRI benar-benar menjadi kolaborasi yang saling memberikan manfaat bagi kampus, RRI, dan tentunya masyarakat,” jelasnya.
Senin itu, Fajar memang duduk di balik mikrofon RRI Madiun. Namun, mungkin yang lebih penting bukan berapa banyak berita yang ia bacakan.
Yang lebih penting adalah adanya jalan baru yang mulai dibuka: dari ruang kelas menuju ruang siar, dari magang menuju kolaborasi, dan dari kampus menuju masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments