Suasana halaman Masjid Al Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) sejak pagi dipenuhi lautan jamaah, Ahad (5/7/2026). Ribuan warga Muhammadiyah dari berbagai cabang dan ranting hadir menyaksikan Launching Hari Bermuhammadiyah, sebuah program baru yang digagas Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo.
Tak sekadar menjadi forum pengajian rutin, kegiatan ini dirancang sebagai ruang bertemunya dakwah, silaturahmi, pemberdayaan ekonomi, hingga ekspresi seni budaya. Diperkirakan sekitar 8.000 jamaah menghadiri kegiatan tersebut.
Program ini menjadi yang pertama di lingkungan Muhammadiyah dan akan dilaksanakan secara rutin setiap pekan pertama setiap bulan. Sebanyak 30 stan turut memeriahkan acara, terdiri atas 16 stan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Ponorogo dan 14 stan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang menampilkan produk UMKM, layanan sosial, kesehatan, hingga inovasi pendidikan.
Ketua PDM Ponorogo, Drs. H. Moh. Syafrudin, M.A., menegaskan bahwa Hari Bermuhammadiyah merupakan gerakan untuk menghidupkan semangat persyarikatan di tengah masyarakat.
“Kegiatan ini bukan sekadar thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu), tetapi juga thalabul ukhuwah untuk memperkuat persaudaraan dan thalabul ghirah untuk membangkitkan semangat bermuhammadiyah. Ketiganya harus berjalan beriringan agar dakwah Muhammadiyah semakin hidup dan memberi manfaat bagi umat,” ujarnya.
Menurutnya, Muhammadiyah tidak cukup hanya melahirkan kader yang unggul secara intelektual, tetapi juga kader yang memiliki semangat perjuangan, memperkuat ukhuwah, dan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Dihadiri Tokoh Muhammadiyah dan Pemerintah
Launching Hari Bermuhammadiyah dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita, Anggota DPRD Jawa Timur Dr. H. Suli Da’im, MM, Bendahara PWM Jawa Timur drh. Zainul Muslimin, tokoh Masjid Al Fattah Tulungagung H. Sutrimo, serta Rektor UMPO Dr. Ridho Kurnianto, M.Ag.
Pada kesempatan tersebut, Ketua LPCRPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, H. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi., Psikolog, memberikan apresiasi kepada Suli Da’im yang dinilainya konsisten hadir di tengah masyarakat.

“Pak Suli Da’im selalu hadir di setiap kegiatan masyarakat. Inilah yang disebut wakil rakyat yang benar-benar merakyat,” ungkapnya yang disambut tepuk tangan ribuan jamaah.
Bagi Suli Da’im, kehadiran di berbagai kegiatan masyarakat merupakan bagian dari amanah sebagai wakil rakyat untuk menyerap aspirasi sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam membangun Jawa Timur.
Empat Pilar Hari Bermuhammadiyah
Dalam tausiyahnya, Muhammad Jamaludin Ahmad menjelaskan bahwa Hari Bermuhammadiyah dibangun di atas empat pilar utama, yaitu meneguhkan, mencerahkan, menggembirakan, dan memberdayakan.
“Meneguhkan diwujudkan melalui pengajian yang menguatkan akidah dan pemahaman Islam Berkemajuan. Mencerahkan dilakukan lewat ceramah yang memperluas wawasan keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Menggembirakan diwujudkan melalui seni budaya sebagai media dakwah yang ramah dan membahagiakan. Adapun memberdayakan diwujudkan melalui bazar UMKM sebagai bentuk penguatan ekonomi umat,” katanya.
Konsep tersebut, terang dia, menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya berbicara mengenai ibadah mahdhah, tetapi juga menyentuh aspek ekonomi, pendidikan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat.
Jamaludin menegaskan, usia panjang Muhammadiyah selama lebih dari satu abad tidak terlepas dari keikhlasan para kadernya.
“Masih banyak orang yang ikhlas di Muhammadiyah. Karena itu Allah memanjangkan umur Muhammadiyah. Sebaliknya, jika keikhlasan semakin berkurang, maka kekuatan organisasi pun akan melemah.”
Menurutnya, keikhlasan akan melahirkan amanah, sedangkan amanah merupakan buah dari keimanan yang kokoh. Karena itu, keberlangsungan Muhammadiyah sangat bergantung pada kualitas iman para kadernya.
Dia kemudian mengutip makna Surah Ibrahim ayat 35 tentang doa Nabi Ibrahim agar negerinya menjadi negeri yang aman.
Baginya, keamanan lahir dari keimanan, sedangkan keimanan akan melahirkan masyarakat yang saling menjaga, saling menguatkan, dan menghadirkan kemaslahatan.
“Muhammadiyah harus terus menghadirkan manusia-manusia yang bertauhid, ikhlas, amanah, rajin beribadah, memakmurkan masjid, gemar beramal saleh, dan siap berkorban untuk kepentingan umat. Dari nilai-nilai itulah lahir peradaban yang membawa keberkahan bagi Indonesia,” tuturnya.
Jamaluddin juga mengingatkan kembali peran besar pendiri Muhammadiyah dalam meletakkan fondasi nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan berbangsa.
“Tauhid tidak berhenti sebagai keyakinan pribadi, tetapi harus melahirkan pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan mengabdi kepada masyarakat,” tegasnya.
Dorong Jadi di Gerakan Nasional Muhammadiyah
Di akhir tausiyahnya, Muhammad Jamaludin berharap gerakan Hari Bermuhammadiyah tidak berhenti di Ponorogo, melainkan dapat diterapkan di seluruh cabang dan ranting Muhammadiyah di Indonesia.
“Mimpi saya, seluruh cabang dan ranting Muhammadiyah memiliki Hari Bermuhammadiyah. Karena kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya ada di cabang dan ranting. Dari sanalah dakwah tumbuh, masyarakat dibina, dan Indonesia akan menjadi negeri yang diberkahi Allah SWT.”
Launching Hari Bermuhammadiyah Ponorogo menjadi tonggak penting lahirnya model dakwah yang memadukan penguatan akidah, pengembangan ukhuwah, pemberdayaan ekonomi, serta pelestarian budaya dalam satu gerakan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Melalui sinergi antara pengajian, bazar UMKM, dan ruang silaturahmi, Muhammadiyah Ponorogo menunjukkan bahwa dakwah Islam berkemajuan tidak hanya membangun spiritualitas, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi kemajuan umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments