Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Melanjutkan Misi Kenabian di Era Polycrisis: Model Kepemimpinan dan Kompetensi Spiritual Inti

Iklan Landscape Smamda
Melanjutkan Misi Kenabian di Era Polycrisis: Model Kepemimpinan dan Kompetensi Spiritual Inti
Oleh : Suyoto Pengajar di Universitas Muhammadiyah Gresik

Tulisan ini sengaja dibuat sepekan setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebagai cara untuk berefleksi, belajar dari masa lalu, menerima keadaan hari ini, dan berikhtiar melanjutkan usaha menghadirkan misi rahmatan lil ‘alamin.

Sejarah mencatat bahwa peradaban manusia pernah mengalami lompatan kesadaran yang luar biasa. Filsuf Karl Jaspers (1949) menyebut era antara 800 SM hingga 200 SM sebagai Axial Age (Poros Zaman)—sebuah kurun waktu ketika para pemikir, nabi, dan spiritualis di berbagai belahan dunia secara intuitif mengubah cara pandang manusia.

Perubahan tersebut membawa manusia dari cara berpikir mitologis menuju cara berpikir yang lebih rasional dan spiritual.

Puncak dari tatanan Axial Shift tersebut hadir melalui kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, sang penyempurna, pada abad ke-7 Masehi. Risalah yang dibawanya tidak hanya mentransformasi masyarakat Arab dari era jahiliah menuju peradaban Madinah yang egalitarian.

Lebih dari itu, risalah tersebut juga memicu The Great Leap of Being—sebuah lompatan besar keberadaan manusia yang melintasi batas-batas geografis dan zaman.

Kini, belasan abad telah berlalu. Di manakah posisi sejarah umat manusia dan bangsa Indonesia di hadapan misi Rahmatan lil ‘Alamin?

Kita hari ini hidup dalam era yang terkepung oleh krisis multidimensi (polycrisis). Pemanasan global, kesenjangan sosial yang menganga, hingga disrupsi teknologi dan kompetisi ekonomi pragmatis telah menjadi tantangan nyata.

Alam mengalami kerusakan, sementara tatanan kemanusiaan kerap terdegradasi oleh keserakahan.

Dalam doktrin Islam, Muhammad SAW ditahbiskan sebagai Khatamun Nabiyyin—penutup para nabi (QS. Al-Ahzab [33]: 40). Konsekuensi logis dari doktrin ini sangat mendasar: tidak akan ada lagi “superhero” tunggal yang dikirim dari langit untuk menyelesaikan krisis bumi.

Zaman tidak lagi menanti nabi baru, melainkan menanti superteam ecosystem. Para mujahid yang merangkul masalah dan terlibat aktif dalam realitas sistem kehidupan dengan penuh kesadaran.

Risalah kenabian kini beralih menjadi tanggung jawab kolektif yang bergerak melalui kepemimpinan ekosistem. Sebagaimana ditegaskan dalam pergerakan Muhammadiyah, upaya menggerakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran harus diwadahi oleh institusi atau jamaah yang terorganisasi (QS. Ali ‘Imran [3]: 104).

Lantas, bagaimana elemen umat dan bangsa ini melanjutkan misi kenabian untuk mewujudkan kerahmatan bagi semesta alam tersebut di era modern?

Pertama, Menguatkan Kualitas Agency (Ecosystem Leadership). Setiap individu dituntut menjadi pemimpin yang relevan dengan krisis zamannya. Kepemimpinan hari ini bukan tentang menduduki jabatan struktural.

Kepemimpinan adalah kemampuan membaca problem sosial—seperti ekologi, ketimpangan ekonomi, dan kualitas pendidikan—lalu merajut solusi nyata di tengah masyarakat.

SMPM 5 Pucang SBY

Kedua, Membangun Relasi Bermakna (Presensing). Merujuk pada pemikiran Otto Scharmer melalui Theory U, kepemimpinan sering kali gagal karena terjebak dalam pola downloading—mengulang kebiasaan lama tanpa inovasi—atau absensing, yaitu terputus dari realitas umat.

Pelanjut misi kenabian harus sampai pada tahap presensing—hadir secara utuh, menggunakan mata hati dan akal budi untuk merasakan penderitaan ekosistemnya, serta menghadirkan empati yang menggerakkan aksi bersama.

Ketiga, Memperkokoh Self Leadership Berbasis Kedalaman Spiritual. Kepemimpinan ekosistem yang berdampak luas hanya bisa lahir dari ruang dalam (inner space) yang matang.

Di sinilah sains dan spiritualitas saling bertaut. Otak manusia dapat menjadi sumber kebahagiaan sekaligus sumber penderitaan, tergantung pada bagaimana kita mengelolanya.

Islam telah menyediakan navigasi jiwa tersebut melalui tiga fondasi utama:

1. Jiwa Mutmainnah (Equanimity)
Ketenangan emosional dan kognitif di tengah badai perubahan (QS. Al-Fajr [89]: 27).

2. Tawadhu’ (Humility)
Kerendahan hati akademis dan kepekaan untuk terus belajar (HR. Muslim).

3. Khusyu’ (Stillness/Mindfulness)
Keheningan spiritual yang membuat setiap langkah dan tindakan selalu terhubung dengan Sang Pencipta (QS. Al-Mu’minun [23]: 1–2).

Merawat dan melanjutkan misi kenabian bukan lagi soal meratapi kejayaan masa lalu, melainkan soal keberanian menghadirkan Islam Berkemajuan di tapak-tapak sejarah hari ini.

Dari ruang-ruang kelas, kampus, hingga medan pengabdian masyarakat, peradaban baru harus kita rakit bersama: bukan sebagai penonton sejarah, melainkan sebagai pelanjut risalah.***

Jakarta, 27 Agustus 2026

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 30/08/2026 07:33
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu