Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Memahami “Confirmation Bias” di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Memahami “Confirmation Bias” di Era Digital
Oleh : Nurudin Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); penulis buku Media Sosial Agama Baru Masyarakat Milenial

“Mas, ini wajib dibaca semua orang!”

Pagi itu saya baru membuka grup WhatsApp (WA). Belum lima menit, grup alumni kuliah sudah penuh pesan berantai. Ada video politik, menyusul informasi kesehatan yang sumbernya tidak jelas. Ada juga potongan ceramah yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kepentingan grup.

Si pengirim tampak sangat bersemangat. Bahkan sebelum orang lain membaca, ia sudah menambahkan komentar panjang penuh emosi.

Beberapa saat kemudian, pola yang sama muncul di grup profesi dosen. Lalu pindah lagi ke grup asosiasi, hingga ke grup “remeh temeh”. Saya amati, yang mengirim pesan biasanya ya orang yang itu-itu juga. Mereka seolah tidak pernah kehabisan bahan untuk membanjiri grup dengan berbagai informasi.

Saya mulai sadar, banyak orang hari ini aktif di WA dan media sosial bukan karena pesannya penting atau benar. Mereka mengirim sesuatu karena isi pesan itu cocok dengan cara berpikirnya sendiri:

Jika sesuai dengan keyakinannya, langsung dibagikan. Atau jika cocok dengan emosinya, langsung diteruskan. Apalagi jika membuat dirinya merasa paling benar, langsung dilempar ke semua grup.

Jadi masalahnya bukan lagi soal informasi yang baik atau bermanfaat, tetapi soal kecenderungan pribadi.

Bukan Pelampiasan Emosi

Fenomena ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Saya melihat banyak grup WA sekarang berubah menjadi tempat pelampiasan emosi:

Grup keluarga penuh dengan perdebatan politik. Atau grup kantor dipenuhi video motivasi yang dikirim tanpa henti. Bahkan grup RT pun berubah menjadi arena menyebarkan isu nasional yang belum tentu jelas sumbernya.

Yang paling menarik, sebagian anggota grup akhirnya hanya menjadi pembaca pasif. Mereka jarang menanggapi. Bahkan ada yang sengaja mematikan notifikasi grup karena lelah melihat banjir pesan setiap hari. Tidak sedikit juga yang tanpa kabar keluar grup tanpa banyak bicara.

Saya rasa banyak orang sebenarnya tidak nyaman, tetapi mereka memilih diam untuk menghindari konflik. Padahal kalau kita perhatikan, sebagian besar pesan yang beredar tidak benar-benar penting. Banyak hanya berupa potongan video emosional, berita setengah matang, atau opini yang berbungkus seolah fakta. Namun karena sesuai dengan kecenderungan pikiran si pengirim, langsung menganggap pesan itu perlu untuk menyebarkannya.

Di sinilah masalah besar kita hari ini. Saya melihat orang tidak lagi terlalu peduli apakah informasi itu benar atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah informasi itu mendukung keyakinannya sendiri. Kalau cocok dengan isi kepalanya, langsung percaya. Bisa langsung membagikannya dan mencari pembenarnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Kecenderungan seseorang yang seperti itu dikenal sebagai confirmation bias. Orang cenderung mencari dan mempercayai informasi yang memperkuat pandangan yang sudah ia miliki sebelumnya. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis perlahan melemah.

Terlalu Sibuk Menyebar

Data penggunaan media sosial di Indonesia sebenarnya menggambarkan betapa besar persoalan ini. Laporan Data Reportal (2025) mencatat lebih dari 92 persen pengguna internet Indonesia memakai WA sebagai sarana komunikasi utama. Jumlah pengguna media sosial Indonesia juga sudah mencapai lebih dari 139 juta orang. Artinya, satu informasi bisa menyebar sangat cepat hanya dalam hitungan menit.

Sementara itu, survei Masyarakat Telematika Indonesia atau Mastel (2017) menunjukkan hoaks paling banyak beredar melalui media sosial dan aplikasi percakapan seperti WA. Tema yang paling sering muncul biasanya politik, kesehatan, agama, dan isu sosial. Banyak orang meneruskan pesan tanpa memeriksa sumber maupun dampaknya.

Saya kadang heran melihat semangat sebagian orang dalam menyebarkan pesan. Seolah ada kepuasan pribadi ketika berhasil memenuhi grup dengan informasi. Seolah grup WA adalah ruang pribadi untuk melampiaskan isi kepala dan emosinya sendiri.

Padahal setiap pesan memiliki dampak nyata, yaitu: satu informasi palsu bisa membuat orang panik; satu fitnah bisa merusak nama seseorang; dan, satu provokasi bisa memecah hubungan keluarga atau pertemanan.

Yang lebih aneh, kadang orang membagikan pesan bukan karena memahami isinya, tetapi hanya karena ingin terlihat aktif. Ada dorongan untuk selalu bereaksi terhadap apa pun. Takut adanya anggapan tidak peduli kalau tidak ikut mengirim atau mengomentari sesuatu.

Menahan Diri: Keahlian Penting Era Modern

Akhirnya grup WA menjadi sangat bising. Semua orang ingin bicara, tetapi sedikit orang mau berpikir. Saya merasa kemampuan paling penting di era digital sekarang justru bukan kemampuan menyebarkan informasi, tetapi kemampuan menahan diri. Tak semua hal harus mendapat komentar dan semua video tidak harus diteruskan. Intinya, tidak semua berita layak memenuhi ruang percakapan bersama.

Itulah kenapa kadang diam jauh lebih dewasa. Membaca sampai selesai lebih bijak. Memeriksa kebenaran lebih penting daripada menjadi orang pertama yang membagikan pesan.

Saya percaya grup WA seharusnya menjadi ruang komunikasi yang sehat. Ruang untuk berbagi informasi yang memang bermanfaat, bukan tempat membuang emosi pribadi tanpa filter. Sebab kalau semua orang hanya mengirim sesuatu berdasarkan kecenderungan diri sendiri, maka yang lahir bukan komunikasi yang baik, melainkan kebisingan tanpa arah.

Pada akhirnya, teknologi tidak pernah salah. Yang menentukan kualitasnya tetap manusia yang menggunakannya. Saya kira kita semua perlu belajar lebih bijak sebelum menekan tombol “forward”. Karena di tengah banjir informasi hari ini, dunia sebenarnya tidak kekurangan orang yang bisa berbicara. Dunia hanya kekurangan orang yang mampu berpikir sebelum menyebarkan sesuatu.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 19/05/2026 06:40
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu