Jejak sejarah dr. Soetomo di Surabaya akan kembali ditelusuri melalui Muhammadiyah Historical Walk (MHW). Kegiatan yang memasuki Batch 3 ini dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 27 September 2026 mendatang.
MHW Batch 3 akan mengangkat sosok dr. Soetomo, tokoh pergerakan nasional sekaligus salah seorang yang memiliki jejak penting dalam perjalanan Muhammadiyah di Surabaya.
Sejumlah lokasi yang berkaitan dengan perjalanan hidup dan kiprah dr. Soetomo akan menjadi tujuan dalam kegiatan ini.
“Kami sudah menyiapkan sedikitnya empat sampai lima objek bersejarah yang akan dikunjungi. Sekarang dalam proses finalisasi,” ujar Sekretaris Panitia MHW Wildan Nanda Rahmatullah di sela rapat persiapan di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal, Surabaya, Jumat (11/9/2026).
Menurut Wildan, pemilihan dr. Soetomo sebagai tokoh yang ditelusuri dalam MHW Batch 3 bukan tanpa alasan. Dokter yang dikenal sebagai salah seorang pendiri Budi Utomo itu ternyata memiliki hubungan erat dengan Muhammadiyah, khususnya dalam bidang kesehatan dan pelayanan sosial.
Dr. Soetomo tercatat aktif sebagai kader Muhammadiyah dan pernah terlibat dalam pengelolaan bidang kesehatan. Ia juga pernah menjadi penasihat medis Pimpinan Pusat atau Hoofdbestuur (HBKO) Muhammadiyah di Surabaya.
“Banyak catatan sejarah yang sampai kini masih terus kami telusuri. Salah satunya bagaimana dr. Soetomo yang dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional ternyata memiliki peran dalam perkembangan Muhammadiyah, terutama di bidang kesehatan,” kata Wildan.
Salah satu jejak penting dr. Soetomo dalam Muhammadiyah, terang Wildan, adalah pendirian Poliklinik Muhammadiyah di Jalan Sidodadi No. 57, Surabaya, pada 1924.
Poliklinik tersebut didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat, khususnya rakyat miskin yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Pelayanan medis diberikan secara gratis.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa gagasan dr. Soetomo tentang perjuangan tidak berhenti pada gerakan kebangsaan. Semangat perjuangan juga diwujudkan melalui pelayanan kesehatan dan kerja-kerja kemanusiaan. Dia bahkan mengaku bangga menjadi bagian dari Muhammadiyah.
Sekitar 1925 hingga akhir hayatnya, dr. Soetomo tercatat pernah menjadi penasihat medis atau penasihat kesehatan Hoofdbestuur Kaoem Moeslimin (HBKO) Muhammadiyah.
“Kedekatannya dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, termasuk KH Mas Mansur, juga menjadi bagian dari sejarah yang menarik untuk ditelusuri dalam MHW Batch 3,” papar alumnus Ilmu Sejarah Unair itu.
Dalam konteks tersebut, kiprah dr. Soetomo memperlihatkan bagaimana nasionalisme, pelayanan kesehatan, dan gerakan sosial dapat bertemu dalam satu ruang perjuangan.
Wildan mengatakan MHW dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan berjalan menyusuri sejumlah lokasi. Kegiatan ini menjadi cara untuk membawa peserta lebih dekat dengan sejarah melalui tempat-tempat yang menjadi saksi perjalanan tokoh dan gerakan Muhammadiyah.
Karena itu, lokasi yang dipilih tidak hanya dipertimbangkan berdasarkan keberadaan bangunan atau situs bersejarah. Panitia juga menelusuri keterkaitan tempat tersebut dengan perjalanan dr. Soetomo dan perkembangan Muhammadiyah di Surabaya.
“Banyak catatan sejarah yang sampai kini masih terus kami dalami. Kami ingin peserta tidak hanya mengetahui nama dr. Soetomo, tetapi juga melihat jejak perjuangannya secara lebih dekat,” ujarnya.
MHW Batch 3 merupakan kegiatan kolaboratif yang melibatkan Majelis Pustaka, Informasi dan Digitalisasi (MPID) PWM Jawa Timur, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PWM Jawa Timur, dan PWMU.CO.
Kolaborasi tersebut mempertemukan kepentingan sejarah, literasi, kesehatan, dan jurnalistik dalam satu kegiatan.
MHW Batch 1 sebelumnya menelusuri jejak Muhammadiyah di kawasan Genteng dan Tunjungan. Adapun Batch 2 mengajak peserta menyusuri jejak dakwah Muhammadiyah di kawasan Ampel. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments