Rangkaian kegiatan Studi Wisata dan Napak Tilas SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) pada Kamis (4/6/2026), menghadirkan pengalaman berharga bagi 109 siswa kelas VI.
Kegiatan diawali dengan kunjungan ke kawasan Kauman Yogyakarta, tepatnya di Masjid Gedhe Kauman dan Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan pada pukul 08.30–09.30 WIB.
Sebanyak 109 siswa yang terbagi dalam empat rombongan kelas, yaitu kelas 6 Raja Ampat, 6 Karimun Jawa, 6 Nusa Penida, dan 6 Labuan Bajo, terlebih dahulu berkumpul di halaman Masjid Gedhe untuk melakukan sesi foto bersama.
Setelah itu, masing-masing kelas didampingi oleh dua orang pemandu (guide) yang menjelaskan sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan dan perkembangan dakwah Muhammadiyah di Kauman.
Para siswa diajak menelusuri berbagai lokasi bersejarah, mulai dari Masjid Gedhe Kauman, makam Nyai Ahmad Dahlan, Langgar Kidul, hingga tempat-tempat yang menjadi saksi perjuangan pendiri Muhammadiyah tersebut.
Penjelasan yang disampaikan para pemandu membuat para siswa semakin memahami sejarah yang selama ini mereka pelajari di sekolah.
Haidar, siswa kelas 6 Nusa Penida, mengaku sangat tertarik saat mengunjungi Langgar Kidul. Menurutnya, kunjungan tersebut memberikan pengalaman berbeda karena ia dapat melihat langsung bukti sejarah yang selama ini hanya dibacanya dalam buku Kemuhammadiyahan.
“Selama ini saya hanya membaca kisah perjuangan KH Ahmad Dahlan di buku. Ternyata tempatnya masih ada dan bisa dikunjungi langsung. Rasanya seperti melihat sejarah yang hidup,” ungkap Haidar.
Usai menelusuri kawasan Kauman, rombongan SDMM melanjutkan perjalanan menuju kawasan Malioboro. Di pusat wisata dan perdagangan Kota Yogyakarta tersebut, para siswa diberikan kesempatan untuk menikmati suasana khas Jogja sekaligus mencari oleh-oleh untuk keluarga di rumah.
Selain berbelanja, kegiatan ini menjadi sarana belajar bagi siswa untuk berinteraksi dengan masyarakat serta berlatih melakukan transaksi secara mandiri. Menariknya, beberapa siswa telah membuat rencana khusus sebelum berbelanja.
“Beberapa teman sudah janjian membeli celana kulot gajah Thailand untuk dipakai setelah kegiatan rafting di Sungai Oyo,” ujar Abim dari kelas 6 Raja Ampat sambil tersenyum.
Di tengah perjalanan menyusuri Malioboro, Ferdi dari kelas 6 Labuan Bajo mengusulkan agar perjalanan kembali ke Terminal Ngabean dilakukan dengan mencoba transportasi khas Yogyakarta.
“Kalau kembali ke parkiran bisa naik andong, bentor, atau Trans Jogja, Ustadz, supaya bisa merasakan transportasi khas Jogja,” katanya.
Ide tersebut kemudian mendapat sambutan positif. Setelah seluruh siswa selesai berbelanja, Nur Asiyah, S.Pd.I., selaku Ketua Jenjang Kelas VI, memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menentukan sendiri moda transportasi yang akan digunakan menuju Terminal Ngabean.
Pilihan yang tersedia adalah andong, bentor, Trans Jogja, atau berjalan kaki. Dari 109 siswa, tidak ada satu pun yang memilih berjalan kaki.
“Kami sudah merasakan berjalan kaki dari Terminal Ngabean menuju Kauman, jadi kali ini ingin mencoba transportasi yang lain,” ujar Ziyad.
Melalui kegiatan sederhana tersebut, para siswa belajar mengambil keputusan dan mempertimbangkan pilihan sesuai kebutuhan masing-masing. Muhyyi dari kelas 6 Labuan Bajo memilih naik andong karena ingin merasakan sensasi kendaraan tradisional yang masih beroperasi di tengah Kota Yogyakarta.
“Saya memilih andong karena ingin merasakan pengalaman naik kendaraan khas Jogja,” tuturnya.
Sementara itu, Abiyyu dari kelas 6 Nusa Penida memilih bentor karena dianggap lebih cepat dan terjangkau. Berbeda lagi dengan Syafiq dari Raja Ampat, serta Giri dan Cena dari Nusa Penida, yang memilih menggunakan Trans Jogja karena dinilai lebih hemat.
Keseruan napak tilas di Kauman dan pengalaman belajar kehidupan di Malioboro menjadi kenangan yang tidak terlupakan bagi seluruh peserta studi wisata SDMM tahun 2026.
Selain mendapatkan wawasan sejarah perjuangan KH Ahmad Dahlan, para siswa juga belajar tentang kemandirian, interaksi sosial, hingga pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pengalaman di Kauman dan Malioboro ini sangat berkesan bagi anak-anak. Semoga perjalanan ini dapat menambah semangat mereka untuk terus belajar dan melanjutkan perjuangan di jenjang pendidikan berikutnya,” ungkap Mia, guru kelas 6 Labuan Bajo.
Kegiatan studi wisata dan napak tilas ini menjadi bukti bahwa belajar tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata yang mampu menghadirkan pelajaran berharga bagi kehidupan para siswa di masa depan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments