Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Paradoks Ekosistem Kesehatan Nasional

Iklan Landscape Smamda
Paradoks Ekosistem Kesehatan Nasional
Oleh : dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes. Dosen Manajemen Pelayanan Kesehatan FK Umsura

“Tetangga Sibuk Membangun Rumah Sakit, Kita Sibuk Membangun Perdebatan tentang Papan Nama Rumah Sakit”

Di sebuah kawasan bernama ASEAN, ada perlombaan yang unik. Bukan lomba lari, bukan lomba makan kerupuk, melainkan lomba menarik pasien internasional. Hadiahnya bukan piala, tetapi devisa miliaran dolar, lapangan kerja, investasi, inovasi, dan reputasi global.

Di sisi kiri arena, Singapura berlari dengan strategi yang sederhana: informasi yang jelas, promosi yang faktual, dan pelayanan yang terukur. Hasilnya? Industri medical tourism mereka menghasilkan ratusan juta dolar setiap tahun dan menjadi salah satu mesin ekonomi berbasis layanan kesehatan.

Di sisi kanan, Malaysia tidak kalah kreatif. Mereka membangun sistem yang terintegrasi melalui Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC). Rumah sakit, pemerintah, sektor pariwisata, hotel, hingga maskapai penerbangan bermain dalam satu orkestra. Bukan berarti tanpa masalah, tetapi mereka memahami satu prinsip ekonomi: jika pasien asing datang, uang ikut datang.

Thailand bahkan lebih berani. Negeri Gajah Putih itu menjadikan layanan kesehatan sebagai bagian dari strategi nasional. Rumah sakit dipromosikan layaknya destinasi wisata premium. Operasi jantung pada pagi hari, pijat tradisional pada sore hari, lalu berfoto di pantai pada malam hari. Agak sulit bersaing dengan paket seperti itu.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Nah, di sinilah unsur paradoks sekaligus komedinya dimulai.

Indonesia memiliki lebih dari 280 juta penduduk, ribuan rumah sakit, dokter-dokter hebat, serta banyak pusat layanan kesehatan yang kualitasnya tidak kalah dengan negara-negara tetangga. Namun sering kali energi nasional justru habis untuk memperdebatkan apakah suatu bentuk komunikasi kesehatan dianggap promosi, edukasi, informasi, atau promosi yang menyamar sebagai edukasi yang berpura-pura menjadi informasi.

Akibatnya, ketika negara lain sibuk membangun ekosistem, kita justru sibuk membangun terminologi.

Ironisnya, data menunjukkan bahwa setiap tahun banyak warga Indonesia tetap mencari layanan kesehatan ke luar negeri. Mereka membawa koper, paspor, dan tentu saja devisa. Fenomena ini bukan semata-mata soal kualitas dokter. Banyak penelitian menunjukkan bahwa faktor akses informasi, transparansi biaya, kemudahan layanan, kepastian proses, dan pengalaman pasien sangat menentukan pilihan mereka.

Paradoksnya terletak di sini: kita memiliki sumber daya medis yang kuat, tetapi sering kali kurang percaya diri untuk menceritakannya kepada dunia.

Dalam ilmu ekonomi kesehatan, nilai suatu layanan tidak hanya ditentukan oleh kualitasnya, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mengetahui bahwa kualitas tersebut ada. Produk terbaik di dunia pun akan sulit dipilih apabila tidak terlihat.

SMPM 5 Pucang SBY

Maka persoalan utamanya mungkin bukan siapa yang paling hebat. Persoalannya adalah siapa yang paling mampu membangun narasi, kepercayaan, dan ekosistem.

Karena di era digital, kemenangan tidak selalu menjadi milik yang terbaik.

Sering kali, kemenangan justru menjadi milik mereka yang mampu membuat dunia mengetahui bahwa mereka terbaik.

Sementara itu, tetangga sibuk mengundang pasien dari berbagai negara. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton yang sangat ahli menjelaskan mengapa mereka menang. Kita sangat pandai berdebat, piawai mencari dasar teori, tetapi sering kali lemah dalam eksekusi.

Salah satu penghalang terbesar yang kerap disebut adalah tembok bernama regulasi. Regulasi tentu dibutuhkan untuk menjaga tata kelola, tetapi regulasi yang lahir tanpa melihat persoalan secara komprehensif berpotensi menghambat lahirnya ekosistem yang sehat dan kompetitif.

Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan duduk bersama memikirkan masa depan ekosistem kesehatan nasional. Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, organisasi profesi, Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), perguruan tinggi, pelaku industri kesehatan, hingga masyarakat perlu diajak berbicara dalam satu meja untuk mencari solusi terbaik.

Sebab pada akhirnya, tujuan kita bukan memenangkan perdebatan.

Tujuan kita adalah membangun ekosistem kesehatan Indonesia yang mampu memberikan pelayanan terbaik bagi rakyatnya sekaligus memiliki daya saing di tingkat global.

Ayo maju, Indonesiaku!

Revisi Oleh:
  • Satria - 12/06/2026 21:15
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu