Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rezeki Tidak Datang dengan Menunggu: Saatnya Bergerak, Berdoa, dan Berserah

Iklan Landscape Smamda
Rezeki Tidak Datang dengan Menunggu: Saatnya Bergerak, Berdoa, dan Berserah
Ilustrasi: OpenAI
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Ada orang yang setiap pagi berangkat kerja sebelum matahari benar-benar tinggi. Ia mengejar bus, menembus kemacetan, membuka laptop, melayani pelanggan, atau berdiri di balik etalase toko. Sore hari ia pulang dengan tubuh lelah.

Namun, ada satu hal yang membuatnya terus berjalan: keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan cara yang baik tidak pernah sia-sia di hadapan Allah.

Di sisi lain, ada seseorang yang sedang menunggu pekerjaan. Ia berdoa setiap malam agar segera mendapat rezeki. Tetapi setelah salat Subuh, ia kembali tidur. Lamaran kerja tidak dikirim. Keterampilan tidak ditambah. Peluang tidak dicari.

Ia berharap rezeki datang mengetuk pintu, sementara pintunya sendiri tidak pernah dibuka.

Di sinilah kita perlu memahami bahwa menjemput rezeki bukan hanya soal bekerja. Ia adalah perjalanan yang mempertemukan usaha, doa, dan tawakal.

Ketiganya bukan pilihan yang bisa dipisahkan. Usaha tanpa doa mudah membuat manusia merasa semua keberhasilan adalah hasil kekuatannya sendiri. Doa tanpa usaha bisa berubah menjadi penantian yang pasif.

Sementara tawakal tanpa ikhtiar sering disalahpahami sebagai alasan untuk tidak bergerak. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan.

Usaha: Ikat Dulu Untamu

Ada sebuah kisah sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. apakah ia perlu mengikat untanya lalu bertawakal, atau melepaskannya kemudian bertawakal.

Rasulullah saw menjawab: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR Tirmidzi)

Pesannya jelas: tawakal bukan pengganti usaha. Tawakal justru hadir setelah ikhtiar dilakukan.

Allah SWT berfirman: “Dialah yang menjadikan bumi mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.” (QS Al-Mulk: 15)

Al-Qur’an juga mengingatkan: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS An-Najm: 39)

Karena itu, mengirim lamaran pekerjaan, membuka usaha kecil, belajar keterampilan baru, memperbaiki kualitas pekerjaan, membangun jaringan, menabung, dan berani mencoba kembali setelah gagal adalah bagian dari ikhtiar.

Kadang rezeki tidak datang dalam bentuk uang. Ia datang sebagai kesempatan. Sebagai pertemuan dengan orang baik. Sebagai ilmu baru. Sebagai keberanian untuk memulai. Atau bahkan sebagai kegagalan yang menyelamatkan kita dari pilihan yang sebenarnya tidak baik.

Maka, jangan hanya bertanya, “Kapan rezeki saya datang?” Sesekali tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang sudah saya lakukan untuk menjemputnya?”

Tetapi manusia memiliki batas. Kita bisa bekerja keras, tetapi tidak bisa memaksa hasil. Kita bisa menyusun rencana, tetapi tidak bisa mengendalikan semua keadaan. Kita bisa mengetuk seribu pintu, tetapi hanya Allah yang menentukan pintu mana yang akhirnya terbuka.

Di situlah doa menjadi penting. Doa bukan tanda kelemahan. Doa adalah pengakuan bahwa di balik seluruh ikhtiar kita ada kekuasaan Allah.

Allah SWT berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan.” (QS Ghafir: 60)

Dan dalam ayat lain: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.” (QS Al-Baqarah: 186)

Bayangkan seorang ibu yang setiap pagi menyiapkan bekal untuk anaknya. Ia mungkin tidak tahu bagaimana perjalanan hidup anaknya kelak. Ia tidak mampu mengendalikan dunia yang akan dihadapi sang anak. Tetapi ia bisa mengantarkan anaknya dengan doa.

Begitu pula kita. Ada saat ketika ikhtiar sudah maksimal, tetapi hasil belum juga terlihat. Pada saat seperti itu, doa membuat hati tetap memiliki tempat untuk bersandar.

Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah saw adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqan thayyiban, wa ‘amalan mutaqabbalan.

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” (HR Ibnu Majah)

Doa ini menarik karena rezeki ditempatkan berdampingan dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima. Artinya, rezeki yang kita cari bukan sekadar banyak, tetapi juga baik.  Bukan hanya besar jumlahnya, tetapi juga membawa keberkahan.

Sebab, apa gunanya penghasilan bertambah jika ketenangan justru berkurang? Apa gunanya rumah semakin besar jika hati semakin sempit? Apa gunanya rekening bertambah jika hubungan dengan keluarga, sesama manusia, dan Allah justru semakin jauh?

Tawakal: Setelah Berlari, Belajar Melepaskan

Ada fase dalam hidup ketika kita harus berhenti menghitung hasil. Bukan berhenti berusaha, melainkan berhenti memaksa Allah mengikuti keinginan kita.

Kita sudah mengirim lamaran. Sudah membuka usaha. Sudah belajar. Sudah berdoa. Sudah mencoba berkali-kali. Tetapi hasilnya belum seperti yang diharapkan. Pada titik itu, tawakal menjadi tempat hati beristirahat.

Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS At-Talaq: 3)

SMPM 5 Pucang SBY

Tawakal bukan berarti menyerah sebelum berjuang. Tawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah setelah seluruh kemampuan terbaik kita dikerahkan.

Rasulullah saw. menggambarkannya dengan sangat indah: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR Tirmidzi)

Perhatikan burung itu. Ia tidak tinggal di sarang sambil menunggu makanan jatuh dari langit. Ia terbang. Ia mencari. Ia bergerak. Tetapi ia tidak pernah membawa pulang kepastian. Burung hanya membawa ikhtiar. Allah yang menyediakan rezeki.

Bukankah kehidupan manusia juga demikian?  Kita hanya mampu membawa usaha. Sedangkan hasil akhirnya tetap berada dalam genggaman Allah.

Barangkali bagian paling berat dari tawakal adalah menerima kenyataan ketika doa kita belum terwujud seperti yang kita inginkan.

Seorang pencari kerja sudah berulang kali mengikuti wawancara, tetapi selalu gagal. Seorang pedagang sudah berusaha menjaga kualitas dagangan, tetapi pembeli belum juga ramai.

Seorang petani sudah menanam dengan sungguh-sungguh, tetapi cuaca tidak bersahabat. Seorang anak muda sudah belajar bertahun-tahun, tetapi peluang yang ditunggu belum datang.

Pada saat seperti itu, manusia mudah bertanya, “Mengapa Allah belum memberikan?” Padahal mungkin pertanyaannya perlu digeser menjadi:

“Apa yang sedang Allah ajarkan kepada saya melalui proses ini?”

Tawakal membuat kita tidak mudah berburuk sangka kepada Allah. Bukan berarti kita tidak boleh sedih. Bukan berarti kita tidak boleh kecewa.

Kita boleh menangis. Kita boleh lelah. Kita boleh mengakui bahwa perjalanan ini berat. Tetapi setelah itu, kita bangkit lagi.

Sebab seorang yang bertawakal tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti percaya kepada Allah.

Tiga Tanda Tawakal yang Sehat

Ada beberapa tanda sederhana yang bisa menjadi cermin bagi diri kita. Pertama, hati lebih tenang meski hasil belum terlihat. Bukan karena masalah sudah selesai, melainkan karena kita percaya bahwa Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Kedua, tidak mudah berprasangka buruk kepada Allah. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, kita belajar mengatakan, “Mungkin ini bukan yang terbaik untuk saya.” Kalimat sederhana itu kadang menjadi penyelamat hati.

Ketiga, tetap bersyukur. Syukur bukan hanya ketika mendapatkan apa yang diinginkan.

Syukur juga ketika Allah memberi kita kekuatan untuk melewati sesuatu yang tidak kita inginkan.

Karena boleh jadi rezeki terbesar bukanlah sesuatu yang masuk ke tangan kita, tetapi sesuatu yang Allah jauhkan dari kehidupan kita.

Umar bin Khattab r.a. pernah mengingatkan agar seseorang tidak meninggalkan usaha mencari rezeki hanya dengan berkata, “Ya Allah, berilah aku rezeki.”

Sebab ia tahu bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak. Pesan itu terasa sangat relevan di tengah kehidupan yang serba cepat.

Kita tidak cukup hanya berharap. Kita harus bergerak. Tetapi kita juga tidak boleh mengandalkan kekuatan diri sendiri sampai lupa kepada Pemilik segala rezeki.

Maka, mungkin inilah trilogi sederhana yang perlu kita bawa setiap hari:

Usaha: bukti bahwa kita menghargai nikmat dan kesempatan dari Allah.

Doa: bukti bahwa kita sadar tidak mampu berjalan sendirian.

Tawakal: bukti bahwa setelah berusaha dan berdoa, kita percaya kepada keputusan Allah.

Ketiganya bertemu dalam satu kata: sabar. Sabar ketika sedang berusaha. Sabar ketika sedang menunggu. Sabar ketika hasil belum sesuai harapan. Dan sabar untuk tetap percaya bahwa Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan rezeki hamba-Nya.

Sebab rezeki bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita dapatkan, tetapi juga tentang dari mana ia datang, bagaimana cara mendapatkannya, dan untuk apa ia digunakan.

Maka, jangan hanya mengejar rezeki. Jemputlah rezeki dengan cara yang Allah sukai. Ikat untamu. Berdoalah kepada Pemilik rezeki. Lalu lepaskan hasilnya kepada Allah. Sebab tugas kita adalah berikhtiar sebaik mungkin. Sedangkan hasil akhirnya adalah wilayah Allah.

Dan di situlah hati belajar menemukan ketenangan: berlari dalam usaha, mengetuk langit dengan doa, lalu beristirahat dalam tawakal. (*)

SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu