Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rumah Terdampak Gempa, Kader Aisyiyah Nagekeo Tetap Bergerak Bantu Kelompok Rentan

Iklan Landscape Smamda
Rumah Terdampak Gempa, Kader Aisyiyah Nagekeo Tetap Bergerak Bantu Kelompok Rentan
pwmu.co -

Nagekeo menjadi salah satu titik pusat gempa utama di Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni gempa besar bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Di tengah bencana yang melanda, kader Aisyiyah terus bergerak membantu masyarakat meskipun turut terdampak bencana.

Salah satunya Ketua PDA Nagekeo, Istianah. Bersama anggota keluarganya, Istianah mendirikan Posko Aisyiyah Nagekeo secara mandiri di halaman rumahnya yang terletak di RT 10 Alorongga, Kelurahan Baisatu, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Pada Rabu (26/8/2026), Istianah menyampaikan rumahnya terdampak bencana dengan kategori kerusakan sedang. Plafon rumah hancur, sementara sejumlah bagian dinding mengalami retak.

Namun, ia bersyukur masih memiliki bangunan kos-kosan yang tidak terdampak banyak. Di lokasi tersebut, ia bersama keluarga membuka Posko Aisyiyah Daerah Nagekeo.

Posko tersebut menjadi tempat berkumpulnya relawan sekaligus pusat penerimaan dan penyaluran bantuan bagi masyarakat terdampak gempa.

Istianah mengatakan kondisi bencana membuat kelompok rentan menjadi pihak yang membutuhkan perhatian lebih. Mereka meliputi bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan penyandang disabilitas.

“Kami terdampak juga, tapi ada keluarga dan saudara kita yang lebih memerlukan, yang lebih menderita dari kami. Di kondisi bencana seperti ini, kelompok rentan menjadi yang paling membutuhkan perhatian. Bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan penyandang disabilitas memiliki kebutuhan khusus yang tidak bisa ditunda. Karena itu, kami berusaha memastikan bantuan yang datang dapat segera disalurkan kepada mereka yang paling membutuhkan,” ujar Istianah.

Sejak awal bencana, PDA Nagekeo berkoordinasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan berbagai pihak untuk memastikan bantuan menjangkau kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.

Sasaran utama bantuan Aisyiyah adalah kelompok rentan, seperti perempuan, bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan penyandang disabilitas.

Bantuan awal diperoleh dari Pemuda Peduli Nagekeo (PPN). Dana tersebut kemudian dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti sembako, susu, popok, pembalut, kebutuhan ibu hamil dan menyusui, serta obat-obatan ringan.

Dalam kondisi kebutuhan masyarakat yang mendesak, Istianah bahkan berinisiatif meminjam dana kepada bendahara Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Nagekeo. Langkah tersebut dilakukan agar kebutuhan bantuan dapat segera dibelanjakan dan disalurkan sebelum bantuan dari Pimpinan Pusat Aisyiyah diterima.

“Kondisi sangat rentan dengan keadaan masyarakat di sini. Maka saya berinisiatif meminjam uang kepada bendahara IAI Nagekeo. Alhamdulillah, sebelum cairnya uang dari PPA, kami sudah bisa belanja dan menyalurkan bantuan,” tuturnya.

Posko Aisyiyah Nagekeo juga menjadi tempat singgah bagi relawan yang datang dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Bandung, dan Sulawesi.

Mereka membawa bantuan menggunakan kendaraan dan menginap di bangunan kos milik keluarga Istianah yang berada di samping rumah utama.

Di tengah keterbatasan akses akibat kondisi jalan yang masih sulit dilalui dan sejumlah titik mengalami longsor, penyaluran bantuan dilakukan dengan berbagai cara.

Untuk wilayah yang masih dapat dijangkau, bantuan diantar langsung oleh Istianah bersama kader Aisyiyah lainnya menggunakan mobil maupun sepeda motor.

SMPM 5 Pucang SBY

Sementara untuk wilayah yang lebih jauh, bantuan dititipkan melalui relawan, LSM, maupun pihak lain yang memiliki akses menuju kecamatan atau desa tujuan.

Istianah menyebutkan, bantuan bahkan disalurkan hingga sekitar 20 kilometer dari posko.

Selain itu, banyak pengungsi yang juga langsung mendatangi Posko Aisyiyah setelah mengetahui Aisyiyah menyediakan bantuan.

“Kadang ada pengungsi dari jauh datang yang mengungsi di pegunungan, karena lihat di media sosial, datang kesini menangis-menangis meminta bantuan, mereka tidak ada uang, sudah mengungsi, jadi butuh popok, butuh minyak, susu, maka kami kasih,” terang Istianah.

Kondisi tersebut semakin menantang karena pada beberapa hari pertama pascabencana, banyak toko dan pusat perbelanjaan masih tutup.

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Istianah harus mencari dan memesan barang dari luar Kabupaten Nagekeo, termasuk dari Ende dan Ngada.

“Pas hari ketiga bencana, kami belanja di luar kabupaten karena di sini belum ada yang buka. Ada yang di Ende, di Ngada. Kami kebetulan ada koneksi dengan apotek, sehingga kami pesan susu, minyak, dan kebutuhan lainnya,” jelasnya.

Ketika sejumlah toko mulai kembali buka pada hari keempat, kebutuhan barang meningkat karena banyak pihak juga melakukan pembelian untuk bantuan kemanusiaan.

Harga sejumlah kebutuhan pun mengalami kenaikan. Istianah mencontohkan harga susu yang sebelumnya sekitar Rp42.000 meningkat menjadi Rp50.000.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat membantu tetap dijaga keluarga Istianah.

Keempat anggota keluarganya bahkan terlibat dalam respons kebencanaan melalui posko yang berbeda. Istianah bergerak bersama Posko Aisyiyah, suaminya bersama Posko Laskar Manggala, putrinya menjadi koordinator Pemuda Peduli Nagekeo di wilayahnya, sementara putranya terlibat bersama WIS Indonesia.

Bagi Istianah, keterlibatan dalam membantu masyarakat terdampak merupakan bentuk pengabdian yang dilakukan dengan ikhlas.

Meskipun keluarganya sendiri mengalami dampak gempa, ia memilih untuk tetap hadir membantu warga yang kondisinya lebih membutuhkan.

“Ini adalah ketetapan Allah. Kita harus tetap bersabar dan bersyukur, tetap bersemangat dan terus berjuang. Semoga bencana ini segera berakhir, sehingga masyarakat Nagekeo dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa,” harap Istianah.

Revisi Oleh:
  • Satria - 02/09/2026 23:28
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu