Siswa SD Muhammadiyah 1 Kebomas (SD Muri) antusias mengikuti kegiatan Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) yang dikemas dengan suasana interaktif dan menyenangkan. Salah satu daya tarik kegiatan Mabit kali ini adalah “Kuis Siapa Hebat” yang membuat siswa aktif berinteraksi sekaligus menikmati kegiatan belajar di luar kelas.
Kegiatan Mabit digelar Jumat (2/10/2026) setelah pelaksanaan KTS 1. Bagi siswa SD Muri, kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda yang ditunggu-tunggu karena tidak hanya berisi pembinaan iman dan ketakwaan, tetapi juga dikemas dengan berbagai aktivitas yang tidak membuat siswa merasa jenuh.
Ketua kegiatan Mabit, M. Hilmi Fakhruddin, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut bahkan kerap ditanyakan oleh siswa.
“Sering kali siswa-siswi bertanya, Ustadz Hilmi kapan Mabit,” ungkap Hilmi.
Suasana Mabit semakin terasa ketika kegiatan dilaksanakan di Lapangan B yang berada di sekitar Masjid Perguruan Muhammadiyah Kebomas. Pada malam hari, lapangan dihiasi deretan lampu-lampu kecil yang menyala di sekitar masjid dan lingkungan penduduk.
Pohon-pohon jambu air yang berderet di sisi kanan dan kiri lapangan, ditambah udara yang sejuk serta angin yang berembus perlahan, membuat suasana kegiatan semakin nyaman. Para siswa duduk berkelompok di tengah lapangan dengan suasana yang tidak terlalu terang, tetapi juga tidak gelap.
Kemeriahan terlihat ketika siswa mengikuti “Kuis Siapa Hebat”. Siswa kelas V, Wally M. Zafran Rama Ardiansyah, bersama kelompoknya tampak bersorak hingga meloncat-loncat kegirangan ketika memperoleh skor tinggi. Tangan mereka terangkat sebagai bentuk kegembiraan melihat perolehan nilai kelompok.
M. Hilmi Fakhruddin, S.Pd., selaku ketua kegiatan Mabit, telah mempersiapkan konsep kegiatan tersebut sebelum KTS 1 dengan berkolaborasi bersama guru IT, Abdul Rokhim Ashari, S.Pd.
“Agenda Mabit memang setelah KTS 1 selesai sebagai bentuk kegiatan untuk siswa, ustadz dan ustadzah untuk bersuka ria, berinteraksi dengan teman beda kelas, serta berkumpul kegiatan yang positif, menyenangkan hati, pikiran fresh kembali agar serius tapi santai dan ceria,” tegas Hilmi.
Meski dikemas dengan permainan dan aktivitas interaktif, tujuan utama Mabit tetap pada pembinaan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Kegiatan diisi dengan shalat berjamaah, murottal, serta shalat sunnah qiyamul lail agar menjadi kebiasaan positif bagi siswa.

Dalam kegiatan tersebut, siswa dibagi ke dalam kelompok secara acak. Setiap kelompok terdiri atas siswa kelas IV, V, dan VI dengan mempertimbangkan kompetensi masing-masing siswa.
“Kuis Siapa Hebat” menjadi salah satu kegiatan yang membuat Mabit terasa berbeda. Kuis tersebut tidak hanya berisi satu bidang pengetahuan, tetapi memadukan berbagai materi, seperti IPAS, Matematika, serta pengetahuan Al Islam dan KMD.
Peserta kuis merupakan siswa yang mengikuti kegiatan Mabit. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok, sedangkan guru bertugas sebagai pendamping. Ketika kuis dimulai, perangkat telepon genggam yang digunakan untuk permainan dipinjamkan kepada masing-masing kelompok, sementara guru menjauh dari kelompok agar siswa dapat mengikuti kuis secara mandiri.
Kuis tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas sekaligus bertujuan menciptakan suasana interaktif selama kegiatan Mabit. Selain itu, permainan tersebut melatih kekompakan dan solidaritas antarsiswa.
Tingkat kesulitan soal dibuat berbeda pada setiap tahapan. Kuis menggunakan media Kahoot dengan waktu menjawab setiap soal sekitar 7–10 detik.
Dalam “Kuis Siapa Hebat” terdapat tiga babak. Babak pertama merupakan penyisihan yang diikuti 16 kelompok. Selanjutnya, enam kelompok melaju ke babak semifinal, kemudian tiga kelompok terbaik bertanding di babak final.
Suasana outdoor membuat permainan semakin meriah. Ketika siswa mampu menjawab soal dengan cepat dan benar, sorak-sorai langsung terdengar dari masing-masing kelompok. Perolehan skor yang muncul secara langsung juga menambah antusiasme peserta.
Pada babak final, tiga kelompok dengan skor tertinggi ditetapkan sebagai juara pertama, kedua, dan ketiga.
Melalui kegiatan Mabit tersebut, para guru berharap keimanan dan ketakwaan siswa semakin mendalam dan melekat. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong interaksi antara siswa dan guru dalam memperluas pengetahuan keagamaan maupun pengetahuan umum.





0 Tanggapan
Empty Comments