Ada-ada saja ulah anggota Ikatan Keluarga Ponpes Al-Ishlah (IKPI) Sendangagung. Di saat prosesi pelantikan Pengurus IKPI Pusat periode 1447-1450 H tengah berlangsung khidmat di panggung utama Maidanul Ma’had, Ahad (27/9/2026) pukul 14.00 WIB, satu angkatan ini justru terciduk sedang mojok.
Mereka adalah alumni angkatan lulusan 1995 MA Al-Ishlah. Secara diam-diam, mereka membuat kesepakatan untuk bertemu dan bernostalgia di gazebo depan Gedung MA Al-Ishlah Putra, jauh dari keramaian tenda pelantikan.
Seperti terlihat dalam foto, belasan alumni itu duduk lesehan di gazebo kayu sambil tertawa lepas. Ada yang mengenakan baju pink secara kompak, ada pula yang berbaju batik dan berpeci.
Meski cuaca panas bercampur debu yang disapu angin kencang dari arah Cematan Akeh ke Kelengan, mereka tampak begitu menikmati suasana temu kangen.
Gelak tawa saling bersahutan. Mereka membicarakan berbagai hal tentang masa lalu, mengulik peristiwa yang terjadi 35 tahun lalu ketika masih menjadi santri di Sendangagung.
“Moment kumpul konco begini sangat mahal, apalagi ada teman dari Jakarta yang datang. Ndewek kudu iso hormat, Yo gak? Kita harus bisa menghormat, ya kan,” ujar Rojib yang menjadi guide untuk teman seangkatannya, sambil tertawa.
Khoirun Naim alias Boim pun menyempatkan hadir dan ikut menyumbang kerasnya suara tawa, meskipun harus meninggalkan mitra kerjanya di lapangan SMPM 12 Paciran.
“Nek wes ngene lali umur, Kabeh mbalik cilik lali sak untoro nek wes nduwe putu. Kalau sudah begini lupa usia, seakan kembali muda dan lupa untuk sementara kalau sudah punya cucu,” celetuk Boim, yang disambut tawa ngakak satu gazebo.
Alasan mereka mangkir pun cukup klasik. Tenda pelantikan disebut lengang, lebih banyak kursinya daripada yang duduk. Ditambah panas yang menyengat, gazebo yang teduh terasa lebih menggoda untuk dijadikan tempat temu kangen.
Namun, tidak semua anggota yang tidak mengikuti pelantikan karena mojok. Sebagian memiliki alasan lain yang juga tidak kalah masuk akal.
“Beberapa anggota IKPI yang tidak hadir pelantikan ada juga yang karena kunjungan, maklum mereka juga wali santri, moment kunjungan juga sulit ditinggalkan oleh orang tua,” jelas Sriwelas, pengurus IKPI.
Bahkan, ada kabar yang lebih seru dari angkatan lain.
“Ada juga satu angkatan yang malah ke pantai Klayar, mumpung kumpul mereka kemudian bikin acara manganan,” celetuk salah seorang alumni yang tidak mau disebut namanya, sambil terkekeh.
Menanggapi fenomena mojok tersebut, salah satu pengurus IKPI Pusat, Ikhwanus Syarif, menanggapinya dengan santai dan penuh syukur.
“Ala kulli hal, kegiatan pelantikan IKPI berjalan lancar dan khidmat, dan patut disyukuri meskipun tidak harus diikuti seluruh anggota IKPI,” pungkasnya.
Memang, di Puncak Dasawarsa ke-4 ini, reuni menjadi salah satu magnet utama. Pelantikan boleh jadi merupakan acara resmi, tetapi temu kangen antarangkat adalah obat rindu yang tak ternilai harganya.
Yang penting, silaturahmi tetap berjalan dan Al-Ishlah tetap di hati.





0 Tanggapan
Empty Comments