Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS) sukses menyelenggarakan Workshop Pemikiran Islam Progresif selama dua hari, Selasa-Rabu (23-24/9/2025) di Aula Masjid AR Fachruddin lantai 2, Kampus III UMM.
Dengan mengangkat tema “Membumikan Islam Berkemajuan: Merawat Tradisi Intelektualisme Islam Progresif dalam Era yang Berubah”, kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Dr. Azhar Ibrahim Alwee, dosen Department of Malay Studies, NUS.
Dalam pemaparannya, Azhar Ibrahim menegaskan pentingnya merawat tradisi intelektualisme Islam progresif, yaitu Islam yang berpihak pada kemajuan, bertumpu pada nalar kritis, dan tetap berakar pada nilai-nilai luhur keislaman.
“Islam progresif bukan sekadar jargon, melainkan cara berpikir yang menekankan keadilan, keberpihakan pada kemanusiaan, serta keberanian membaca perubahan zaman,” ujar Azhar.
Ia juga menekankan bahwa dunia Muslim, termasuk Indonesia, tengah menghadapi tantangan serius berupa gelombang konservatisme, pragmatisme politik, dan hegemoni kapitalisme global.
“Di tengah situasi tersebut, intelektualisme Islam progresif hadir untuk memberikan pencerahan agar umat tidak kehilangan arah,” tambahnya.
Kepala PSIB UMM, Zaenal Abidin, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kerja sama lintas negara ini menjadi bagian dari ikhtiar memperluas cakrawala pemikiran Islam berkemajuan.
“Dengan hadirnya tokoh akademisi internasional seperti Azhar Ibrahim, kita ingin memperkaya tradisi intelektual Muhammadiyah dan Islam Indonesia agar semakin kontekstual, kritis, dan relevan dengan perkembangan global,” jelas Zaenal.
Menurutnya, wacana Islam berkemajuan yang digagas Muhammadiyah perlu terus didialogkan dengan tradisi intelektual global. Hal itu, lanjutnya, merupakan modal penting agar Islam tidak hanya menjadi wacana lokal, tetapi juga mampu berkontribusi pada peradaban dunia.
Para Peserta Antusias
Workshop ini dihadiri puluhan peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, peneliti, dan pegiat pemikiran Islam. Selama dua hari, mereka antusias terlibat dalam diskusi mendalam melalui paparan materi, sesi tanya jawab, dan diskusi kelompok.
Banyak peserta mengaku mendapat pencerahan baru dari perspektif yang ditawarkan. Menurut mereka, diskusi ini membuka mata bahwa Islam progresif bukan sekadar konsep akademik, melainkan praksis sosial yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui forum ini, PSIB UMM berharap dapat terus menyelenggarakan kegiatan serupa, baik berupa workshop, kuliah umum, maupun penelitian bersama dengan lembaga internasional.
“Ini merupakan langkah awal untuk memperluas jaringan intelektual. Harapannya, wacana Islam berkemajuan dapat semakin mengakar di Indonesia sekaligus memberi kontribusi bagi dunia internasional,” tegas Zaenal Abidin saat menutup acara. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments