Rapat Kerja dan Orientasi Majelis/Lembaga itu digelar di Magetan pada Sabtu-Ahad, 6-7 Februari 2016. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya usai Raker, saya merasa agak masyghul. Maklum saja, Raker menunjuk saya sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Struktur lain-lainnya dibicarakan nanti saat di Surabaya.
Pemred ini memaksa saya untuk berpikir serius bagaimana mengatur ritme kerja PWMU. Bagaimana PWMU bisa lahir dan terpenting, adalah hidup terus. “Ujian sebuah media itu jangkanya 3, 6 dan 12 bulan. Kalau bisa melewati tahap ini, insyaallah media itu akan tetap jalan dan eksis,” begitu almarhum Nadjib Hamid saat memotivasi hidup PWMU.
Sesampainya Surabaya, kami di Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) tidak berpikir bagaimana launching portal ini, dan sejenisnya. Yang jadi bahasan lebih bagaimana portal ini tetap eksis dengan konten yang berkuantitas. Bisa posting banyak, begitu gampangannya. Kualitas, dipikir sambil jalan.
Pada masa-masa itu, rapat LIK mungkin setiap pekan dilakukan di kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim. Dan, rata-rata datang semua. Agus Wahyudi, Rully Anwar, Nurfatoni, Faishol Taselan, Fiqih Arfani, Agus Setiawan, Zainal Arifin, Radius Setiawan, Arifah W, dan lain-lain.
Tak lupa Trio Malang Nashrullah, Jamroji, dan Ridlo, juga bisa dikata selalu hadir. Bahkan, penasehat kami, Rohman Budijanto juga aktif memantau diskusi kami di grup WhatApps.
Untuk melemaskan jari dalam mengelola PWMU, kami mulai memposting konten sejak 10 Februari 2016. Latihan melemaskan jari, begitu bahasa yang sering digunakan Agus Wahyudi. Selama 3 hari pertama, konten yang diupload hanya 1 tulisan. Motto yang kami gunakan adalah “pokoknya ada”.
Barulah mulai tanggal 13 Februari 2016, kami agak serius mengisi konten. Konten PWMU mulai lebih dari 3 tulisan setiap hari. 5 hari kemudian, kami sudah mampu setidaknya 5 tulisan dalam sehari. Hari-hari itu, kami diuntungkan dengan momen Musyawarah Daerah (Musyda) di banyak Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jatim.
Setelah merasa mampu konsisten membuat konten lebih dari 10 dalam sehari, barulah kami merasa perlu ada launching. Butuh acara seremonial agar PWMU.CO punya akta lahir, punya “milad”.
Rapat LIK memutuskan launching digelar sederhana. Berbarengan dengan Kajian Bulanan PWM. Patut diketahui, sejak periode Prof Syafiq A. Mughni (2005-2010), PWM Jatim rutin mengadakan Kajian Bulanan. Pengusul temanya adalah Majelis/Lembaga secara bergiliran. Sementara yang diundang adalah Ketua-Sekretaris Majelis/Lembaga di tingkat PDM, serta Wakil Ketua PDM yang membidangi.
Kajian Islam Ramah vs Islam Marah
Untuk bulan Maret 2016, LIK yang mengusulkan tema Kajian. Setelah dibahas di rapat PWM, disetujui: Islam Ramah vs Islam Marah. Narasumbernya 2 pakar: Dr M. Saad Ibrahim dan Prof Yunahar Ilyas. Saad adalah Ketua PWM Jatim saat itu. Sementara Yunahar adalah Wakil Ketua PP Muhammadiyah yang saat itu juga Wakil Ketua Umum MUI.

Kajian bulanan PWM Jatim yang juga launching PWMU itu diselenggaran pada Jum’at, 18 Maret 2016. PWMU sepekan sebelum kegiatan, 11 Maret, telah membuat woro-woro di Portal. Judulnya “Diskusi: Islam Ramah vs Islam Marah”.
Proses launching itu sudah ditulis Agus Wahyudi dalam “Baru Turun Panggung, Beritanya Sudah Tayang: Kisah Launching PWMU.CO”. Launching memang terlihat sederhana, bahkan sangat sederhana. Sebab, hanya bermodal 5 lembar kertas. Masing-masing diprintkan huruf P, W, M, U, serta CO.
Ketika harus maju naik panggung, saya kebagian pegang huruf P. Sementara Pak Najib pegang huruf W, Pak Saad huruf M, Pak Yunahar huruf U, serta Pak Thohir Luth huruf CO. Rully Anwar-lah yang mengatur semua itu. Yang uniknya, para tokoh selain saya itu kok juga mau-mau saja.
Usai launching, tantangan bayi PWMU agar hidup ini dimulai. Sebagai langkah awal, kami mengajukan pada PWM agar memfasilitasi 1 karyawan khusus PWMU. Setelah melalui seleksi 100-an pelamar, terpilihlah Aan Haryanto. Statusnya adalah karyawan PWM yang diperbantukan di PWMU sebagai wartawan. Saat itu lho ya.
Mengkaryakan Karyawan Kantor PWM
Untuk mengabarkan perjalanan Muhammadiyah Jatim, setiap hari Kamis, saya pasti akan menghadap Kepala Kantor PWM Jatim. Almarhum Chusnul Choliq. Tujuannya untuk mengetahui kegiatan PWM selama sepekan ke depan. Semua kegiatan memang dirapatkan pada setiap Jum’at setelah Jum’atan.
Setelah tahu, barulah kami bergerak. Misalnya pimpinan PWM menghadiri kegiatan di PDM tertentu, jika kami “kenal” dengan pengurus PDM-nya, kami titip yang bersangkutan merangkap reporter. Setidak-tidaknya menjadi “narasumber” yang bercerita saat kami menghubunginya.
Atau kami mengirim satu-satunya reporter PWMU, Aan, untuk ikut kegiatan itu. Jalan paling darurat adalah kami “mengkaryakan” semua karyawan PWM. Para karyawan PWM yang mendampingi pimpinan PWM maupun Majelis/Lembaga yang berkegiatan, kami minta merangkap sebagai wartawan.
Tugas Mas Faris yang resminya driver Ketua PWM, mendapat tambahan. Sebagai reporter yang mengirim foto dan juga bercerita tentang isi kegiatan. Tugas tambahan juga diterima karyawan lain. Kegiatan Dikdasmen otomatis tanggung jawab reportenya pada Mas Mushodiq dan Mas Huda. Tabligh dan Tarjih, kami ke mas Nidlom. Kesehatan ke Mas Rudi.
Sementara untuk kegiatan yang diikuti Pak Nadjib, Pak Biyanto, dan Pak Nur Cholis, kami punya request tersendiri. Selain mengisi acara, kami meminta ketiganya juga sebagai reporter sekaligus menulis kegiatannya. Kami hanya bagian upload.

Dalam perjalanan itu, saya mengamati warga Persyarikatan ternyata lebih suka bercerita lewat WA. Mungkin inilah yang membuat email PWMU sepi kiriman. Mungkin terlalu repot jika harus mengirim tulisan lewat email dengan segala keribetannya. Berbeda dengan WA yang memang lebih praktis.
Melalui rapat redaksi, kami memutuskan bahwa selain lewat email, berita juga bisa dikirim lewat WA. Putusan itu kami upload dalam berita pada 24 Juni 2016, “Menulis di PWMU Hanya dengan SMS ke 081233867797”. Begitu awal judulnya. Tapi karena sesuatu hal, akhirnya berpindah ke nomor “0858-5961-4001”.
Bagi saya, PWMU adalah pelopor penggunaan WA untuk lalu lintas pengiriman berita. Bahkan, saat itu belum ada media lain yang menggunakan WA untuk korespondensi.
Dugaan kami memang benar. Usai pengumuman itu, kiriman tulisan ke PWMU lewat WA meledak. Kami menyebut para pengirim ini sebagai kontributor. Sebagai sesuatu yang “baru” saat itu, tentu mengelola kontributor dan tulisannya memang tidak mudah. Dalam beberapa kasus, redaksi kami harus melakukan wawancara ulang dengan kontributor.
Berita Laporan Kegiatan
Pada masa-masa awal itu, konten PWMU saat itu memang lebih banyak yang laporan “kulit”. Beritanya kebanyakan laporan kegiatan, begitu Pak Nadjib membahasakannya.
“Laporan kegiatan” ini bisa kita contohkan dalam, misalnya ceramah seorang tokoh. Tulisan yang dikirim sudah memenuhi 5 W, tapi 1 H-nya seringkali terabaikan. Judul berita misalnya, “Pengajian Akbar Dihadiri Sekian Ribu Jamaah”, kegiatannya apa, di mana, kapan, siapa, dan mengapa, memang lengkap.
Tapi “bagaimana” kegiatan itu berlangsung hampir gersang. Dalam pengajian akbar itu misalnya, apa yang disampaikan sang penceramah hampir tidak dimunculkan. Itulah PR yang diberikan Pak Nadjib kepada kami saat jumlah kontributor PWMU mulai membludak.
Redaksi PWMU pun berusaha untuk merubah mindset pemberitaan itu. Kami seringkali menempatkan “isi ceramah” –jika itu sebagai pengajian– sebagai bagian penting judul. Termasuk memindahkannya dari tulisan terbawah yang dikirim kontributor, menjadi tulisan terpenting.
“Tolong dibaca lagi tulisan yang dikirim dan tulisan yang sudah jadi di PWMU, ya. Tolong dibandingkan dan dipelajari,” begitu berulangkali saya berpesan di Grup Kontributor.
Yang jelas, baik redaksi maupun kontributor memang harus sama-sama meningkatkan kualitas. Dalam segala zaman maupun kondisi, agar PWMU tidak “ketinggalan” dalam sisi kuantitas, lebih-lebih kualitas.
Dan, terpenting: kontributor bagi saya adalah bagian besar dari PWMU. PWMU tanpa kontributor bukanlah apa-apa. Apalagi kontributor PWMU adalah relawan yang tak berbayar. Menulis, mengambil foto, mengirim ke redaksi, membagikan tulisan, dan memviralkannya.






0 Tanggapan
Empty Comments