Belajar Alquran Harus pada Guru, kalau Tidak Bisa Jadi Setan Gurunya

67
Pasang Iklan Murah
Suasana Kajian Raboan pegawai PWM Jatim. (Aan/PWMU.CO)

PWMU.CO – Kajian Reboan Pegawai Sekretariat Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur kembali diadakan di Gedung Muhammadiyah Jatim Jalan Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Rabu (26/6/19).

Kali ini kajian mengangkat materi tentang membaca Alquran secara tartil. Ngaji Raboan kali ini didampingi oleh Rudi Utomo.

iklan

Staf Majelis Pembina Kesehata Umum (MPKU) PWM Jatim itu memulai kajian dengan membaca surat Al Fatihah secara bersama-sama. Setelah itu satu per satu pegawai Sekretariat PWM Jatim diminta membacanya secara tartil.

Rudi mengatakan, membaca Alquran itu yang penting adalah makhraj hurufnya harus benar dulu alias membacanya harus tartil. Kemudian baru membaca tahsin dan belajar untuk melagukan bacaan Alquran.

“Tak kalah penting belajar Alquran itu harus tetap ada gurunya agar bisa mengarahkan kita. Kalau tidak ada gurunya, bisa jadi setan adalah gurunya,” ujarnya.

Sementara, Sang Pengampu Kajian Raboan Afifun Nidlom menyatakan, setiap Muslim tidak boleh berhanti untuk belajar mengaji Alquran sepanjang hanyatnya. Hal itu penting untuk memperbaiki kualitas bacaan Alquran.

“Kita tidak boleh berpuas diri dengan bacaan Alqurannya. Toh, ternyata begitu disimak secara seksama bisa jadi bacaan kita ada yang masih keliru. Nah, itulah pentingnya kita belajar mengaji sepanjang hayat,” tuturnya. (Aan)