Gerhana Bulan Tanggal 14 Dzulqa’dah saat Puasa Ayyamul Bidh, Begini Tata Cara Shalatnya sesuai Tuntunan Nabi

2112
Pasang Iklan Murah
Dr Syamsuddin (Dok)

PWMU.CO – Bulan Dzulqa’dah adalah salah satu dari empat Bulan Suci Islam atau Ashurul Hurum. Namun Dzulqa’dah tahun 1440 H terasa lebih istimewa karena akan ada gerhana bulan.

Puasa Ayyamul Bidh
Puasa tiga hari bulan terang ini akan terjadi pada Selasa-Kamis 13-15 Dzulqa’dah 1440 H atau 16-18 Jui 2019.

iklan

Gerhana Bulan
Gerhana bulan akan terjadi pada hari Rabu tanggal 14 Dzulqa’dah 1440 atau 17 Juli 2019, dengan fase-fase sebagai berikut:

1. Kontak awal pada pukul 03:04:48 WIB
2. Puncak gerhana pukul 04:33:14 WIB dengan magnitudo 65 persen.
3. Akhir gerhana pukul 06:01:40 WIB.

Dengan demikian shalat gerhana bisa dilaksanakan sebelum Subuh, bisa juga setelah Subuh. Namun yang afdhal adalah sebelum Subuh.

Sebagaimana keterangan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Jilid III, kata ‘idza’ dalam penggalan hadis, “wa idza ra’aitumuhuma” adalah kata keterangan (dzaraf zaman) yang meniscayakan kesegeraan (yufidu alfawra).

Gerhana Bulan Tanggal 14?
Pada ghalibnya gerhana itu terjadi saat bulan purnama. Sedangkan dalam pandangan awam bulan purnama identik dengan tanggal 15.

Mengapa masih tanggal 14 sudah gerhana. Menurut ustdz Fatchurrahman Tsani, pakar ilmu falak Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, Yaumul Bidl adalah tanggal 13, 14, 15. Umur rata-rata bulan Qamariyah adalah 29,531 hari. Dan separuhnya adalah 14,752 hari.

Berarti separuh umur bulan (saat purnama) adalah antara tanggal 14 dan 15. Tidak mungkin tgl 13 atau 16. Jadi tak perlu bingung. Bulan purnama bisa tanggal 14, bisa juga tanggal 15.

Tata Cara Shalat Gerhana

Berdasarkan Keputusan Mu’tamar Tarjih XX di Garut tahun 1396 H/1976 M dan ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan surat No. C/1-0175/77, inilah tata cara melaksanakan shalat gerhana:

Pertama, apabila terjadi gerhana matahari atau bulan, maka imam dianjurkan mengajak masyarakat melakukan shalat gerhana berjamaah dengan serua: “Ash-Shalatu Jami’ah”. Tanpa adzan dan iqamah, sebagaimana hadits riwayat Bukhari dari Aisyah RA.

Kedua, shalat gerhana dikerjakan sebanyak dua rakaat. Pada setiap rakaat berdiri dua kali, rukuk dua kali, dan sujud dua kali.

Ketiga, pada tiap berdiri membaca surah Alfatihah dan surat yang panjang dengan suara nyaring. Sehingga dalam setiap rakaat ada dua kali bacaan surah Alfatihah dan surah lain dari Alquran. Bacaan pada berdiri yang kedua lebih pendek dari yang pertama.

Keempat, pada tiap rukuk membaca tasbih lama-lama. Bacaan tasbih pada rukuk yang kedua lebih pendek dari pada yang pertama. Berdasarkan hadid riwayat Bukhari, Muslim, dan Ahmad dari Aisyah RA.

Kelima, selesai shalat imam berkhutbah menyampaikan peringatan dan mengingatkan jamaah akan tanda-tanda kebesaran Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist yang artinya: “Pada masa hidup Rasulullah SAW pernah terjadi gerhana matahari, lalu beliau keluar ke masjid, kemudian beliau bertakbir sedangkan orang banyak ikut bershaf-shaf di belakangnya.

Lalu beliau membaca bacaan panjang-panjang kemudian bertakbir untuk rukuk lama sekali, kemudian mengangkat kepalanya lalu mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakalhamdu.” Kemudian beliau berdiri lalu membaca bacaan panjang-panjang tetapi lebih pendek dari yang pertama kemudian bertakbir untuk rukuk lama sekali tetapi lebih pendek dari yang pertama.

Kemudian mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah, Rabbana wa lakalhamdu”, lalu bersujud. Kemudian pada rakaat kedua beliau kerjakan seperti itu, sehingga seluruhnya merupakan empat kali rukuk dan empat kali sujud.

Dan matahari lalu nampak terang sebelum shalat selesai. Kemudian beliau bangkit berkhutbah dengan menyampaikan puji kepada Allah sebagaimana mestinya dan beliau mengatakan: Matahari dan bulan keduanya adalah tanda kebesaran Allah swt, gerhana tidak disebabkan oleh kematian dan kelahiran seseorang. Dan jika kamu menyaksikan hal itu maka segeralah shalat.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad dari Aisyah RA)

Imam juga menganjurkan agar masyarakat banyak berdoa, membaca istighfar, shadaqah dan segala amalan yang baik. Berdasarkan hadist yang artinya, “Pernah terjadi gerhana matahari, maka bangkitlah Nabi SAW shalat, dan bersabda: Apabila kamu saksikan hal yang serupa itu, maka segeralah kerjakan shalat, panjatkan doa dan mohon ampun kepada Allah.” [HR. al- Bukhari, Muslim, Ahmad dari Abu Musa al Asy’ari]. Juga riwayat al-Bukhari dari Aisyah dengan lafadz: “Apabila kamu saksikan hal itu, maka panjatkanlah doa kepada Allah dan bacalah Takbir dan kerjakan shalat dan bershadaqahlah.”

Gerhana Bulan Sebagian (GBS) 17 Juli 2019 bisa diamati dari wilayah Amerika Selatan, Eropa, Asia, dan Australia. Pengamat di seluruh wilayah Indonesia bisa mengamati GBS meski tidak seluruh proses bisa diamati.

Untuk wilayah Indonesia barat, gerhana Bulan dimulai lewat tengah malam sampai saat matahari terbit. Sedangkan untuk wilayah Indonesia tengah dan timur, gerhana baru dimulai saat menjelang fajar. Tidak ada wilayan Indonesia yang bisa mengamati seluruh proses gerhana karena Bulan sudah terbenam dalam kondisi gerhana.

Masyarakat Indonesia cukup beruntung karena bisa menyaksikan sebagian bulan menjadi gelap meskipun tidak seluruh proses gerhana bisa diamati. Ini terjadi karena bulan sudah terbenam saat gerhana masih berlangsung.

Durasi total GBS itu berlangsung selama 5 jam 33 menit 43 detik. Dari keseluruhan gerhana, 65 persen permukaan bulan akan berada dalam bayang-bayang bumi selama 2 jam 57 menit 56 detik.

Gerhana tersebut juga akan menjadi gerhana bulan umbra terakhir sampai dengan tahun 2021 kelak. Selama tahun 2020, gerhana yang terjadi adalah gerhana bulan penumbra yang menyebabkan bulan tampak lebih redup.

Marilah kita tingkatkan amal ibadah kita di bulan suci Dzulqa’da ini, apalagi saat terjadi fenomena alam gerhana bulan yang bertepatan dengan puasa ayyamul bidh. (*)

Kolom oleh Dr H Syamsuddin MA, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim yang membidangi Majelis Tarjih dan Tajdid.