Ingin Sukses dan Bahagia? Maksimalkan Tiga Antena dalam Diri Manusia Ini

408
Pasang Iklan Murah
M Arodhi di SDMM (Ria Pusvita Sari/ PWMU.CO)

PWMU.CO – Kepala Klinik Pendidikan MIPA (KPM) Cabang Surabaya-Jawa Timur Drs H M Arodhi menjelaskan tiga ‘antena’ yang harus dimaksimalkan jika ingin meraih sukses dan bahagia.

Tiga antena yang dimaksud, kata Arodhi, pertama fisik (kerja keras). Ia mengatakan, Allah sudah memberikan kepada kita sebuah antena. Antena pertama sudah ditanam di dalam tubuh kita oleh Yang Maha Kuasa, yaitu panca indera.

iklan

Ia kemudian mencontohkan kisah Lalu Muhammad Zohri, seorang pelari muda 100 meter Indonesia yang berhasil meraih medali emas dan menjadi juara dunia pada Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 yang berlangsung di Tampere, Finlandia.

“Ia memaksimalkan fungsi kakinya sehingga menjadi juara lari. Bapak Ibu apanya yang sudah dimaksimalkan? Sudah dapat apa?” tanyanya kepada guru dan karyawan SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) Gresik di aula, Sabtu (24/8/19).

Menurutnya, kalau kita ingin orang lain mendapatkan sesuatu, maka kita pun harus introspeksi, apa yang sudah kita maksimalkan. Misalnya mata, sudah berapa buku yang kita baca. Anak-anak pun juga begitu. Secara panca indera, kira-kira apa yang bisa kita maksimalkan sehingga mereka bisa berkompetisi antar sekolah. Misalnya lari, renang, menyanyi, dan lain-lain.

Ia menegaskan, masalah yang banyak terjadi adalah kita belum melakukan pemaksimalan terhadap panca indera, tetapi sudah mengeluh, mengapa tidak berprestasi. “Salah sendiri, sudah dikasih antena tapi belum dimaksimalkan. Jadi janganlah sering menuduh Allah itu gak adil. Masa sekolah saya sudah seperti ini kok gak dikasih prestasi-prestasi,” tegasnya.

Sebagai guru sekolah dasar, lanjutnya, usaha kita untuk memaksimalkan panca indera misalnya performance (penampilan). Selain itu juga harus sehat dan segar. Termasuk fungsi-fungsi panca indera itu harus diterampilkan. “Misalnya terampil bernyanyi, bermain alat musik, guru-guru matematika bisa terampil menyelesaikan puzzle atau rubik, menulis, menggambar, dan lain-lain,” jelasnya mencontohkan.

Suasana pembinaan guru dan karyawan ‘Cara Berpikir Suprarasional’. (Ria Pusvita Sari/PWMU.CO)

Antena kedua adalah akal (kerja cerdas). Kalau akal ini kita maksimalkan fungsinya, maka akan menghasilkan produk-produk, ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya orang lain akan memberi penghargaan. Begitu juga guru, harus terus mengembangkan diri. “Jika tidak mau, maka kufur nikmat. Sudah dikasih akal tapi tidak mau dikembangkan,” tuturnya.

Arodhi menegaskan, penting bagi guru untuk terus menambah wawasannya, minimal ikut pelatihan atau seminar. Baginya, menambah ilmu dari internet tidak ada tantangan tersendiri karena kita pasti memilih sesuai kesukaan kita saja. “Tapi kalau ikut kegiatan orang lain, kita ditantang untuk mau menerima atau tidak. Nah mikir di sini (otak), ada pertarungan akademik,” paparnya. “Itu yang terpenting.”

Jika antena pertama kita sudah kalah karena kompetisi dan yang kedua juga kalah karena usia mungkin, maka kapan kita bisa menjadi orang hebat. Arodhi menjelaskan, Allah masih memberi kita satu antena, yang jika ini tidak dimaksimalkan, maka selesailah semua. “Apa itu? qslbun (kalbu), hati,” tegasnya.

Suksesnya orang yang memaksimalkan hatinya, kata Arodhi, bisa melompati suksesnya orang yang hanya memaksimalkan antena fisik dan akalnya. “Nah kekuatan ini harus dimiliki dengan cara yang benar, yang disebut suprarasional,” ungkapnya.

Trainer Suprarasional Read1 Human School (RHS) itu mengatakan, ketika hati dihidupkan, maka segala sesuatu akan dimudahkan oleh Allah. Ia menuturkan, kalau sekolah ini ingin menjadi sekolah yang luar biasa, maka kalbu-kalbu dari masing-masing warga sekolah harus berkontribusi sehingga akan besar tabungan jiwanya. “Tapi kalau ada yang membocorinya, maka akan berkurang,” ujarnya.

Ia mengingatkan, memaksimalkan tiga antena sangat penting, sebab akal melahirkan kerja cerdas, panca indera melahirkan kerja keras, dan hati melahirkan kerja ikhlas. “Dan ingat, orang yang sukses itu, orang yang mendahulukan kalbunya,” pesannya. (*)

Kontributor Ria Pusvita Sari. Editor Mohammad Nurfatoni.