Banjir Bantuan Fasilitas, Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa Asuhan Din Syamsuddin

268233
Pasang Iklan Murah
Pesantren Modern Internasional Dea Malela Sumbawa. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Bantuan fasilitas, baik dari pemerintah maupun swasta, terus mengalir untuk Pesantren Modern Internasional (PMI) Dea Malela, di Kampus Olat Utuk, Dusun Pamangong, Kecamatan Lenangguar, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Salah satunya dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang pada Jumat lalu (1/11/19) diserahkan oleh Rektor Prof Dr Sofyan Arif berupa satu unit mobil Toyota Avanza.

Serah terima bantuan berlangsung dalam Apel Kepanduan Hizbul Wathan (HW) dengan Inspektur Upacara Prof Din Syamsuddin, pendiri pesantren tersebut.

Prosesi penyerahan bantuan, didahului dengan penyerahan kunci mobil oleh Wakil Rektor II UMS Dr Sarjito kepada Prof Sofyan Arif. Kunci lantas diserahkan kepada pimpinan PMI Ustadz Dea Guru Ahmad Nahid MPd, diiringi tampilan marching band santri yang menggairahkan.

Rektor UMS Sofyan Arif (kiri) saat penyerahan kunci mobil pada Dea Guru Ahmad Nahid. (Nadjib Hamid/PWMU.CO)

“Dengan ini saya serahkan satu unit mobil, mudah-mudahan dapat digunakan untuk operasional pondok modern ini dalam menjalankan misinya,” tutur Sofyan Arif. “Semoga bantuan ini bukan yang terakhir,” imbuhnya memberi harapan.

“Atas nama PMI Dea Malela kami mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar UMS atas bantuan ini,” ucap Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2015, itu seraya menyebut beberapa nama yang hadir dan pernah memberikan bantuan. Seperti Bendahara Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Suyatno, yang ketika menjadi Rektor Uhamka membantu seperangkat alat-alat marching band.

Kemudian Prof Achmad Jainuri, yang pada 25 September 2019 menyumbang tiga gazebo. “Tiga gazebo tersebut bukan saja sangat bermanfaat bagi para santri. Tapi juga menambah keindahan Kampus PMI Dea Malela yang berlokasi di perbukitan ini,” ujar Din.

Di salah satu gazebo sumbangan Prof Ahmad Jainuri (tengah). (Nadjib Hamid/PWMU.CO)

Juga Prof Dr Syaiful Bakhri, Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang beberapa waktu lalu membantu dua unit mobil. Termasuk komisaris SCTV dan Indosiar, yang membantu Videotron out door seberat 1,6 ton.

“Sebenarnya Videotron ini sudah lama dikirim. Tapi baru bisa ditayangkan hari ini (Jumat, 1/11/19), karena perlu waktu lama untuk memasang kerangkanya,” jelas Din.

Disebutkan pula, sebelumnya beberapa rektor universitas Muhammadiyah di Jawa Timur juga telah memberikan bantuan untuk PMI, yaitu Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

“Itulah rezeki yang kita terima. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT. Dan, terpenting dengan dukungan fasilitas-fasilitas ini, proses pendidikan bisa berlangsung baik. Anak-anak bisa belajar dengan tenang dan tekun, agar menjadi santri-santri teladan,” pesan Ketua Dewan Pertimbangan MUI itu.

Penulis (depan) bersama Din Syamsuddin dan tamu lainnya seang berkeliling pesantren. (Nadjib Hamd/PWMU.CO)

Pesantren ini memang baru didirikan pada 2016. Tapi perkembangannya sangat pesat. Berada di kawasan perbukitan nan indah, meski jauh di tengah hutan, tapi beberapa fasilitas mewah sudah dibangun. Misalnya, gedung asrama tiga lantai untuk santri putera, dan asrama tiga lantai untuk puteri. Dua masjid berlantai dua, dan dua perpustakaan berlantai tiga, serta auditorium besar dua lantai. Semuanya tertata apik.

Untuk menyambut tamu-tamu VIP, tersedia rumah berlantai dua, dan gedung berlantai tiga. Kemudian beberapa rumah tinggal untuk guru yang sudah berkeluarga. Tak terkecuali, lapangan futsal, dan lapangan sepak bola. Juga kedai santri, bantuan dari ACT yang diresmikan sehari setelah menerima bantuan mobil dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Bersama santri dan santriwati usai upacara penyerahan. (Najdb Hamid/PWMU.CO)

“Perkembangan PMI luar biasa. Baru tiga tahun berdiri, sudah sebesar ini,” komentar Prof Dr Syaifuddin Iskandar, mantan Rektor Universitas Samawa (Unsa) Sumbawa, saat ikut menyaksikan penyerahan bantuan tersebut. “Tidak ada pesantren mana pun yang seperti ini.” Nama Samawa diambil dari salah satu suku yang mendiami Pulau Sumbawa.

Untuk sementara, lembaga pendidikan formal PMI meliputi SMP dan SMA, dengan jumlah santri sebanyak 320 anak, yang berasal dari berbagai provinsi dan manca negara.

“Santri dari luar negeri ada 50 anak, yaitu dari Rusia, Thailand, Timor Leste, Kamboja, Vietnam, Malaysia dan Filipina,” ungkap Din sembari menjelaskan rencana ke depan untuk melengkapi dengan perguruan tinggi. (*)

Penulis Nadjib Hamid. Editor Mohammad Nurfatoni.

Mobil bantuan UMS. (Nadjib Hamid/PWMU.CO)