Sekolah Muhammadiyah Kramat yang Siswanya Cuma 22 Ini Bertahan Hidup Berkat Budidaya Ikan

1563
Pasang Iklan Murah
Total 22 siswa MI Al-Islamiyah Muhammadiyah Kramat (foto Faizin)
Total 22 siswa MI Al-Islamiyah Muhammadiyah Kramat (foto Faizin)

PWMU.CO – Saat banyak lembaga pendidikan yang biaya operasionalnya bergantung pada iuran siswa (SPP) dan subsidi pemerintah, sekolah Muhammadiyah yang satu ini malah sudah lama mengembangkan sumber pendapatan alternatif.

MI Al-Islamiyah Muhammadiyah Kramat yang berada di Kecamatan Duduksampeyan Gresik, sudah berdiri sejak 50 tahun yang lalu. Karena minimnya jumlah siswa dan kemampuan wali murid, sebagian operasional sekolah ini didapatkan dari usaha budidaya ikan di tambak.

(Baca: Perjuangan Sekolah Laskar Pelangi di Tengah Gemerlap Metropolitan (1): SD Muhammadiyah 13 Surabaya Masih Tempati Lahan PT KAI)

Besaran SPP yang hanya Rp 30 ribu tentu tidak bisa menutupi kebutuhan operasional sekolah, pengembangan, dan menggaji 7 tenaga pendidik. “Masih ada SPP dan BOS namun biaya operasional juga ditutupi dari hasil tambak,” terang Ibnu Chazam, salah satu pengajar di MIM Kramat kepada pwmu.co (8/12).

Betapa tidak, saat ini jumlah murid yang dimiliki hanya 22 anak. “Bahkan ada kelas yang jumlah muridnya hanya dua, yaitu kelas 5,” lanjutnya. Bahkan beberapa tahun sebelumnya ada kelas yang kosong, alias tidak ada muridnya.

(Baca juga: Dirikan BUS, Sekolah Muhammadiyah Ini Mampu Gratiskan Biaya untuk Siswanya)

Ada dua petak tambak yang dialokasikan untuk operasional MI dengan luas sekitar 7.000 meter persegi. Tambak ini sendiri merupakan amal usaha yang terintegrasi dengan pengelolaan masjid. “Total ada 8 petak tambak. Yang 2 petak untuk MI, 1 petak untuk TK, dan 5 petak untuk kebutuhan masjid,” lanjutnya.

Minimnya jumlah murid karena warga Muhammadiyah yang minoritas di Desa Kramat tersebut. Sedangkan warga non-Muhammadiyah memiliki lembaga pendidikan sendiri. Meskipun begitu, pengelola sekolah bertekad untuk selalu mengembangkan kualitas pendidikannya. “Termasuk mengajak para alumni dan warga yang sudah tersebar di mana-mana untuk membantu pengembangan sekolah ini,” ujarnya lagi.

Desa Kramat Duduksampeyan sendiri menyimpan sejarah “model pendidikan Islam berbasis masyarakat” yang cukup terkenal. Dulu banyak orang bahkan dari luar kota yang “nyantri” ke desa ini ketika masih banyak ulama-ulama Muhammadiyah yang hidup di sana. (Faizin)