
PWMUBenarkah Shalat Berjamaah Wajib Hukumnya? Kajian oleh Dr Zainuddin MZ Lc MA, Direktur Markaz Turats Nabawi Pusat Studi Hadits
PWMU.CO – Salah satu referensi kajian teman salafi adalah kitab Al-Wajiz – Ensiklopedi Fikih Islam dalam al-Quran dan al-Sunah karya Abdul Adzim bin Badawi al-Khalafi.
Buku edisi Indonesianya diterbitkan pustaka al-Sunah, Jakarta, edisi ke-4 tahun 2007 sebagai rujukan diskusi bersama. Itulah sebabnya diskusi lebih lanjut menggunakan buku pintar mereka, agara lebih fokus dan lebih efektif.
Paparan dalam Al-Wajiz
Pada sub pokok bahasan ke-8 dalam Bab Shalat Jamaah, hal 259-262 dipaparkan sebagai berikut: Shalat berjamaah adalah fardhu ain terhadap setiap individu kecuali yang mempunyai udzur:
1. Hadits Abu Hurairah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ، فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ، فَيُؤَذَّنَ لَهَا، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ، فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ، أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا، أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ، لَشَهِدَ العِشَاء»
Abu Hurairah ra. bersabda: Demi Zat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sungguh aku hendak menyuruh untuk dicarikan kayu bakar, aku akan menyuruh (para sahabat) mengerjakan shalat, lalu ada yang mengumandangkan adzan untuk shalat (berjamaah), kemudian aku akan menyuruh sahabat (lain) agar mengimami mereka, kemudian aku akan berkeliling memeriksa orang-orang (yang tidak shalat berjamaah), kemudian akan aku bakar rumah mereka. Demi Zat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, andaikata seorang di antara mereka mengetahui bahwa ia akan mendapat daging yang gemuk atau dua paha unta yang baik, niscaya ia akan hadir dalam shalat Isya’ (berjamaah).
(Muttafaq alaihi. Fathul Bari: II: 125, nomor: 644 dan lafadz ini adalah miliknya. Muslim: I: 451, hadits: 651 semakna. Aunul Ma’bud: II: 251, no.: 544. Ibnu Majah: I: 259, no.: 791, Ibnu Majah tidak ada kalimat terakhirnya. Dan Nasai: II: 107 persis dengan lafadz Bukhari).
2. Hadits Anu Hirairah
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ، فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ، فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى، دَعَاهُ، فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَجِب»
Abu Hurairah ra. berkata: Seorang yang buta menghadap Nabi saw seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak mempunyai pemandu yang akan menuntun aku ke masjid. Kemudian ia memohon keringanan kepada Nabi saw. (untuk tidak berjamaah), sehingga ia (boleh) shalat wajib di rumahnya. Lalu Nabi saw memberinya keringanan. Tatkala ia berpaling (hendak pulang), Nabi saw memanggilnya seraya bertanya: Apakah Anda mendengar suara adzan untuk shalat? Ia menjawab: Ya. Maka Nabi saw. bersabda: (Kalau begitu) Anda wajib memenuhi seruan adzan itu. (Shahih. Mukhtashar Muslim: 320. Muslim: 1: 452, no.: 653. Nasai: II: 109)
3. Hadits Abdullah bin Mas’ud
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا، فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ، فَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى، وَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى، وَلَعَمْرِي، لَوْ أَنَّ كُلَّكُمْ صَلَّى فِي بَيْتِهِ، لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ رَأَيْتُ الرَّجُلَ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ
Abdullah (bin Mas’ud) ra berkata: Barangsiapa senang bertemu Allah di hari kiamat kelak dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia memperhatikan shalat lima waktu ketika ia diseru mengerjakannya, karena sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabimu sunah-sunah yang berdasar petunjuk, dan sesungguhnya shalat lima waktu (dengan berjamaah) termasuk sunah yang berdasar petunjuk itu. Andaikata kamu sekalian shalat di rumah masing-masing sebagaimana orang-orang yang menyimpang dari shalat (wajib) di rumahnya, berarti kamu telah meninggalkan sunah Nabimu. Jika kamu telah meninggalkan sunah Nabimu berarti kamu telah sesat. Tidaklah seseorang bersuci dengan sempurna, kemudian ia berangkat shalat ke satu masjid dari sekian banyak masjid ini, melainkan Allah menuliskan baginya untuk setiap langkah yang ia lakukan satu kebaikan dan dengannya Dia mengangkatnya satu derajat dan Dia menghapus satu kesalahannya. Aku telah melihat kami (dahulu) dan tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah dari kalangan sahabat kecuali orang munafik yang sudah dikenal kemunafikannya, dan sungguh telah ada seorang dibawa ke masjid dengan dipapah oleh dua lelaki lalu didirikannya pada shaf. (Shahih. Shahih Ibnu Majah: no.: 631. Muslim: I: 453, no.: 257 dan 654. Nasai: II: 108. Aunul Ma’bud: II: 254, no.: 546 dan Ibnu Majah: I: 255, no.: 777.
4. Hadits Ibnu Abbas
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
Dinarasikan Ibnu Abbas ra., Nabi saw. bersabda: Barangsiapa mendengar panggilan (adzan), lalu ia tidak memenuhinya, maka sama sekali tiada shalat baginya, kecuali orang-orang yang mempunyai udzur. (Shahih. Shahih Ibnu Majah, n.: 645. Ibnu Majah: I: 260, no.: 793. Mustadrak Hakim: I: 245. Baihaqi III: 174).
Demikianlah paparan dalam al-Wajiz, sehingga penyusun buku menyimpulkan bahwa shalat berjamaah hukumnya wajib.
Analisis
Perlu dipahami bahwa dari dalil-dalil di atas tidak ditemukan dalil yang sharih (jelas) Allah dan Rasul-Nya mewajibkan atau mensunahkan shalat berjamaah, bahkan tidak ditemukan ancaman bagi yang meninggalkannya, kecuali digolongkan orang munafik. Itupun bukan hadits, melainkan atsar.
Maka sangat wajar jika terjadi perbedaan pendapat ulama sesuai dengan manhaj (pola fikir) dan dari sudut mana cara istimbat hukumnya.
Entah untuk yang keberapa kalinya kita mengingatkan, bahwa hasil ijtihad itu bisa benar, bisa salah. Maka tak elok jika muncul pernyataan yang benar adalah begini dan begini. Setiap kita berupaya mencari yang lebih dekat dengan tuntunan untuk dijadikan pijakan dalam menjalani ketaatan kepada Allah swt.
Berikut ini saya uraikan penjelasan argumentasi yang mewajibkan shalat berjamaah. Karena fakus tulisan ini ditujukan untuk mengkritisi kitab al-Wajiz, maka saya memulainya studi telaah argumentasi yang dipaparkannya.
1. Hadits Abu Hurairah
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: (أَخَّرَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّم الْعِشَاءَ الْآخِرَةَ ذَاتَ لَيْلَةٍ حَتَّى كَادَ يَذْهَبُ ثُلُثُ اللَّيْلِ أَوْ قُرَابُهُ) (ثُمَّ جَاءَ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَرَآهُمْ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّم عِزِينَ مُتَفَرِّقِينَ, فَغَضِبَ غَضَبًا شَدِيدًا مَا رَأَيْنَاهُ غَضِبَ غَضَبًا أَشَدَّ مِنْهُ) (فَقَالَ: إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا) (وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ, لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَلَاةِ فَتُقَامَ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ) (ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ) (يَسْمَعُونَ النِّدَاءَ) (ثُمَّ لَا يَشْهَدُونَ الصَلَاةَ) (وفي رواية: صَلَاةَ الْعِشَاءِ) (وفي رواية: يَتَخَلَّفُونَ عَنْ الْجُمُعَةِ) (فَأُحَرِّقَ) (بِحُزَمِ الْحَطَبِ بُيُوتَهُمْ) (عَلَى مَنْ فِيهَا) (وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ, لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَظْمًا سَمِينًا, أَوْ مِرْمَأَتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ)
Abu Hurairah ra. berkata: (Rasulullah saw. mengakhirkan shalat Isya’ hingga hendak berlalunya sepertiga malam atau sedurasi itu) (Lalu Nabi masuk masjid, dan menyaksikan para sahabat berjamaah dengan berkelompok. Lalu Nabi saw. sangat marah yang kami tidak pernah melihat sebelumnya) (Sabdanya: Shalat yang paling berat bagi munafik adalah shalat Isya’ dan Subuh. Sekiranya mereka mengetahui pahalanya maka mereka akan mendatanginya walaupun sambil merangkak) (Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, aku ingin menyuruh menghimpun kayu bakar, lalu menyuruh shalat, lalu aku menyuruh seorang mengimami umat) (lalu aku pergi diiringi beberapa orang yang membawa ikatan kayu bakar menuju kaum) (yang mereka mendengar adzan) (namun tidak mendatanginya) (dalam riwayat: Yakni shalat Isya’) (dalam riwayat lain, tidak mengikuti shalat Jum’at) (Lalu aku membakar) (rumah mereka dengan ikatan kayu bakar itu) (termasuk siapa saja yang berada di dalamnya) (Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sekiranya mereka mengetahui akan mendapatkan daging yang gemuk atau dua paha unta yang baik, niscaya ia akan mengikuti shalat Isya’).
(HR Bukhari: 618, 626, 2288; Muslim: 651, 652; Abu Dawud: 548; Ahmad: 3816, 7903, 8134, 8890, 10975).
Kontek hadits ini pada shalat Isya’ dan Subuh, walaupun ada juga riwayat shalat Jum’at. Tujuan Rasulullah saw agar mereka mendapat pahala yang luar biasa yakni “daging yang gemuk atau dua paha unta yang baik”, maka porsinya bukan membatalkan orang yang shalat sendirian, melainkan menunjukkan keutamaan shalat Subuh dan Isya’ secara berjamaah.
Kemudian jenis hadits ini adalah hadits hamiyah (sekedar keinginan Nabi) yang tidak berdampak hukum, bahkan tidak mungkin Nabi saw. melakukannya. Jika dipraktekkan, maka Nabi dan beberapa sahabat yang mendampinginya tidak ikut shalat berjamaah, dan bukankah sebaik-baik shalat wanita dikerjakan di rumah. Di samping itu di rumah ada anak-anak yang belum mukalaf shalat.
2. Hadits Ibnu Umi Maktum
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أُمِّ مَكْتُومٍ رضي الله عنه قَالَ: (جِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ) (إِنِّي رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ, شَاسِعُ الدَّارِ) (وَلَا أَقْدِرُ عَلَى قَائِدٍ كُلَّ سَاعَةٍ) (يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ) (وَالْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ) (فَهَلْ تَجِدُ لِي رُخْصَةً أَنْ أُصَلِّيَ فِي بَيْتِي؟) (فَرَخَّصَ لِي فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ) (حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ, حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ؟) (قُلْتُ: نَعَمْ, قَالَ: مَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً) (فَحَيَّ هَلًا)
Abdullah bin Umi Maktum ra. berkata: (Aku menghadap Nabi saw. dan berkata: Wahai Rasulullah) (aku adalah seorang buta, rumahku jauh) (tidak mampu berdiri untuk setiap saat) (dan tidak ada orang yang menuntun aku ke masjid) (sementara kota Madinah banyak binatang berbisa dan binatang buas) (apakah tuan berkenan memberiku rukhsah (keringanan) untuk shalat di rumah) (Lalu Nabi saw. memberinya keringanan). Ketika aku berpaling Nabi pun memanggil aku seraya bersabda: Apakah anda mendengar suruan adzan) (mari shalat, mari menuju kemenangan?) (Aku menjawab: Ya. Maka Nabi saw. bersabda: Aku tidak memberimu keringanan) (marilah berjamaah).
(HR Muslim: 653; Abu Dawud: 552, 553; Nasai: 850, 851; Ibnu Majah: 792; Ahmad: 14991, 15529, 15530; Baihaqi: 4727)
Hadits inilah yang diceritakan Abu Hurairah tentang kehadiran orang buta kepada Nabi saw untuk minta keringan tidak mengikuti shalat berjamaah. Walaupun rumahnya jauh, tidak memiliki pemandu sementara Madinah banyak binatang berbisa dan buas yang dapat membahayakan orang buta, namun Nabi saw. tidak memberinya keringanan untuk shalat di rumahnya.
Pada kisah orang buta lainnya (Itban bin Malik), justru Rasulullah saw yang mendatangi rumahnya dan mengimami dia di rumahnya. Periksa dalil berikutnya, yakni dalil lain nomor: 7.
Dengan demikian kapan orang buta diharap Nabi untuk tetap mengikuti shalat berjamaah, dan kapan pula justru para imam yang mendatangi rumahnya.
Pada masalah keringanan, bagi yang berpandangan wajib tentunya berkonotasi pada kewajiban. Padahal tidak selamanya begitu. Wanita yang ada udzur haid atau nifas saat ia belum tawaf wada’ juga diberi keringan oleh Rasulullah saw. Padahal tawaf wada’ bukan dari kewajiban atau rukun haji.
Maka tidak adanya keringanan bagi orang buta untuk shalat sendiri di rumah tidak otomatis dapat diistimbat hukumkan kewajiban shalat berjamaah.
3. Hadits Abdullah bin Mas’ud
وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: (مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا, فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ, فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صلى اللهُ عليه وسلَّم سُنَنَ الْهُدَى) (وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى: الصَّلَاةَ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُؤَذَّنُ فِيهِ) (وَإِنِّي لَا أَحْسَبُ مِنْكُمْ أَحَدًا إِلَّا لَهُ مَسْجِدٌ يُصَلِّي فِيهِ فِي بَيْتِهِ, فَلَوْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ وَتَرَكْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ, لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ, وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ) (وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ) (عَنْ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ) (مَعْلُومُ النِّفَاقِ) (أَوْ مَرِيضٌ, وَإِنْ كَانَ الْمَرِيضُ لَيَمْشِي بَيْنَ رَجُلَيْنِ)(حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ)
Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: (Siapa yang bangga melihat Allah besuk dalam kondisi muslim, supaya memelihara shalat lima waktu saat diseru. Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan Nabi kalian sunah sesuai petunjuk) (Dan termasuk di dalamnya adalah shalat di masjid yang dikumandangkan adzan) (Aku tidak berharap kalian yang memiliki masjid kecuali shalat padanya daripada shalat di rumahnya. Sekiranya kalian shalat di rumah dan meninggalkan masjid, maka kalian telah meninggalkan sunah Nabimu. Jika demikian maka kalian akan sesat) (Dalam pandangan kami tidaklah seorang menghindar) (dari shalat berjamaah kecuali ia munafik) (yang nyata) (atau sedang sakit, padahal orang sakitpun telah dituntun dua orang) (sehingga dapat berdiri pada shaf).
(HR Muslim: 654; Abu Dawud: 550; Nasai: 849; Ibnu Majah: 777; Ahmad: 4355.)
Ini adalah atsar sahabat, bukan hadits Nabawi. Pada prinsipnya atsar tidak dapat dijadikan hujah (argumentasi) karena bukan wahyu, melainkan memahami wahyu.
4. Hadits Ibnu Abbas
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّ (مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأتِهِ, فلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ) (قَالُوا: وَمَا الْعُذْرُ؟ قَالَ: خَوْفٌ, أَوْ مَرَضٌ)
Dinarasikan Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw. bersabda: (Barangsiapa mendengar adzan dan tidak mau mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali mempunyai udzur) (Mereka bertanya, apa udzurnya? Nabi saw bersabda: Kondisi takut atau sakit).
(HR Hakim: 895, 896; Ibnu Hibban: 2064; Abu Dawud: 551; Ibnu Majah: 793; Baihaqi: 4826, 5431).
Redaksi “tidak ada shalat baginya”, tentu tidak dapat diartikan tidak sah shalat yang mendengar adzan dan tidak berjamaah, karena ditemukan qarinah kebenaran shalat wajib sendirian.
Argumentasi Lain
Ada baiknya untuk dipaparkan dalil-dalil lainnya sebagai berikut
1. Frman Allah At-Taubah 18
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat. (at-Taubah: 18).
2. Firman Allah An-Nisa’ 102
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ
Apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. (an-Nisa’: 102).
3. Firman Allah An-Nur 36–37
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (an-Nur: 36–37).
4. Firman Allah Al-Baqarah 43
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (al-Baqarah: 43).
Semua ayat di atas tidak menunjukkan kewajiban shalat berjamaah, andaikan ada perintah. Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ tidak otomatis perintah menjurus kepada kewajiban, karena ditemukan dalil bolehnya shalat wajib secara sendirian.
Memakmurkan masjid wujudnya juga bermacam-macam, maka tidak setiap jenis memakmurkan masjid masuk kategori kewajiban.
Pada shalat dalam kondisi perang pun bukan merupakan indikasi untuk kewajiban shalat berjamaah, karena dalam hadits shahih kondisi perang dan sakit termasuk udzur orang tidak shalat berjamaah.
5. Hadits Malik bin Huwairits
وَعَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ اللَّيْثِيِّ رضي الله عنه قَالَ: (أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فِي نَفَرٍ مِنْ قَوْمِي) (وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ, فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ يَوْمًا وَلَيْلَةً, وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَحِيمًا رَفِيقًا, فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَقْنَا) (إِلَى أَهَالِينَا) (سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا) (مِنْ أَهْلِنَا) (فَأَخْبَرْنَاهُ, فَقَالَ: ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ, وَمُرُوهُمْ) (فَلْيُصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا وَصَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا) (وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي, فَإِذَا حَضَرَتْ الصَلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ, وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ)
Malik bin Huwairits al-Laitsi ra berkata: (Aku menghadap Nabi saw. bersama beberapa orang dari kaumku) (waktu itu kami para pemuda sebaya, kami pun bermukim di sisi Nabi selama dua puluh hari), Nabi saw. ternyata sosok yang sayang pada kami. Ketika beliau mengira kami telah merindukan kampung halaman) (pada keluarga kami) (yang lama kami tinggalkan) (Maka beliau bersabda: Pulanglah, bermukimlah bersama mereka, ajarilah dan perintahlah mereka) (shalat ini pada saat ini dan shalat itu pada waktunya) (shalatlah kalian seperti tata cara shalatku. Jika datang waktu shalat, hendaklah seorang kalian mengumandangkan adzan, yang paling tua bertindak menjadi imam).
(HR Bukhari: 602, 605, 685, 6008; Muslim: 674; Nasai: 635; Ahmad: 15636, 20548).
Wujud perintah dalam hadits ini tidak mungkin mengarah pada kewajiban berjamaah, karena ditemukan bolehnya shalat wajib sendirian dan shalat wajib berjamaah adalah lebih utama.
6. Hadits Abu Darda’
عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (مَا مِنْ ثَلَاثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلَا بَدْوٍ ((لَا يُؤَذَّنُ) (وَلَا تُقَامُ فِيهِمْ الصَّلَاةُ إِلَّا قَدْ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمْ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ (
Dinarasikan Abu Darda’ ra, Rasulullah saw. bersabda: Tidaklah ada tiga orang dalam satu perkampungan atau pedalaman) (yang tidak mengumandangkan adzan) (dan tidak menegakkan shalat, kecuali setan akan menguasainya. Maka berjama’ahlah kalian, karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian.
(HR Abu Dawud: 547; Nasai: 847; Ahmad: 21758, 27554).
Perintah shalat berjamaah dalam hadits ini tidak lebih dari sebuah anjuran, dan adanya ancaman Nabi saw. tersebut (karena serigala hanya memangsa kambing yang sendirian) sama sekali tidak mengarah pada kewajibannya, melainkan pada keutamaan shalat yang dilakukan secara berjamaah.
7. Hadits Mahmud bin Rabi’
وَعَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: (أَتَى عِتْبَانُ بْنُ مَالِكٍ رضي الله عنه وَهُوَ مِمَّنْ شَهِدَ بَدْرًا مِنْ الْأَنْصَارِ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ, قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي وَأَنَا أُصَلِّي لِقَوْمِي, فَإِذَا كَانَتْ الْأَمْطَارُ سَالَ الْوَادِي الَّذِي بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ, فَلَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ آتِيَ مَسْجِدَهُمْ فَأُصَلِّيَ بِهِمْ, فَوَدِدْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَنَّكَ تَأتِينِي فَتُصَلِّيَ فِي بَيْتِي, فَأَتَّخِذَهُ مُصَلًّى, فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: سَأَفْعَلُ إِنْ شَاءَ اللهُ, قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه حِينَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ, فَاسْتَأذَنَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَأَذِنْتُ لَهُ) (فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى قَالَ: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ مِنْ بَيْتِكَ؟) (فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ الْبَيْتِ, فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَبَّرَ) (وَصَفَفْنَا خَلْفَه” فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ) (ثُمَّ سَلَّمَ, وَسَلَّمْنَا حِينَ سَلَّمَ)
Mahmud bin Rabi’ al-Anshari ra. berkata: (Itban bin Malik –ia seorang peserta perang Badar- mendatangi Rasulullah saw. seraya berkata: Wahai Rasulullah, aku telah buta dan aku mengimami kaumku. Jika hujan turun maka airnya meluap antara aku dan mereka, dan aku tidak dapat mendatangi masjid untuk shalat bersama mereka. Maka aku berharap tuan mendatangi rumahku dan tuan shalat di rumahku, aku siapkan tempat shalatnya. Lalu Nabi saw. bersabda: Akan aku lakukan insya Allah. Itban berkata: Maka Nabi beserta Abu Bakar mendatangi rumah saat meningginya matahari. Nabi pun minta izin dan aku mengizinkannya) (sebelum beliau duduk, Nabi bertanya: Dimana aku shalat?) (Lalu aku beri isyarat pada sisi rumahku. Lalu beliau bertakbir) (kami pun membentuk shaf di belakangnya. Lalu beliau shalat dua rakaat) (lalu salam, dan kami pun ikut salam).
(HR Bukhari: 414, 415, 840; Muslim: 33; Ibnu Majah: 755).
Hadits ini merupakan hadits taqrir bolehnya shalat wajib sendirian yang mempertajam hadits Ibnu Umi Maktum bahwa perintah Nabi agar tetap mendatangi shalat jamaah atau tidak diberikannya rukhsah untuk shalat sendirian bukan berari wajib shalat berjamaah.
8. Hadits Abu Musa
وَعَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَارِغًا صَحِيحًا فَلَمْ يُجِبْ, فلَا صَلَاةَ لَهُ
Dinarasikan Abu Musa al-Asy’ari ra., Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa mendengar seruan adzan dalam kondisi longgar dan sehat namun ia tidak menghadirinya, maka tidak ada shalat baginya.
(HR Hakim: 899 dan Baihaqi: 5378. Periksa Irwa’: 551).
Penjelasan terhadap hadits ini sama dengan hadits periwayatan Ibnu Abbas. Yakni dalil ke-4 dari kitab Wajiz yang intinya sabda Nabi “tidak ada shalat baginya”, bukan berarti tidak sah shalatnya.
9. Hadits Ubai bin Ka’ab
وَعَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله عنه قَالَ: (صَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا صَلَاةَ الصُّبْحِ) (فرَأَى مِنْ أَهْلِ الْمَسْجِدِ قِلَّةً, فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ) (أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ) (فَقَالَ: أَشَهِدَ فُلَانٌ الصَلَاةَ؟ قَالُوا: لَا, قَالَ: فَفُلَانٌ؟ قَالُوا: لَا، قَالَ: إِنَّ هَاتَيْنِ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ أَثْقَلِ الصَلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ, وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا) (مِنَ الْفَضْلِ فِي جَمَاعَةٍ) (لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا, وَالصَّفُّ الْأَوَّلُ عَلَى مِثْلِ صَفِّ الْمَلَائِكَةِ وَلَوْ تَعْلَمُونَ فَضِيلَتَهُ لَابْتَدَرْتُمُوهُ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ, فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عزَّ وجل)
Ubai bin Ka’ab ra. berkata: (Nabi saw. shalat Subuh) (beliau menyaksikan yang hadir hanya sedikit. Ketika usai shalat) (Nabi menghadap kami) (seraya bersabda: Apakah fulan mengikuti shalat? Mereka menjawab: Tidak. Sabdanya: Dan fulan? Mereka menjawab: Tidak. Lalu Nabi bersabda: Dua shalat ini memang dirasa sangat berat oleh munafik. Sekiranya mereka mengetahui pahalanya) (yang utama dilakukan secara berjamaah) (tentu mereka akan mendatanginya walaupun sambil merangkak. Shaf terdepan seperti shaf malaikat) (sekiranya kalian mengetahui pahalanya tentu kalian bersegera dan shalat seseorang bersama temannya itu lebih banyak pahalanya dari pada shalat sendirian, shalat kalian dengan dua temannya lebih banyak pahalanya dari pada dengan seorang teman, dan makin banyak pesertanya makin dicintai Allah swt.)
(HR Abu Dawud: 554; Nasai: 843; Ahmad: 21303, 21309, 21310; Darimi: 1269; Abdurrazaq: 2004).
Hadits ini tidak layak dijadikan dalil kewajiban shalat berjamaah, karena intinya hanya menjelaskan keutamaan shalat berjamaah, khususnya untuk shalat Subuh. Makin banyak jamaahnya makin besar pahalanya.
Shalat Sendirian
Ditemukan pembenaran shalat wajib yang dilakukan secara sendirian, baik dari hadits maupun dari atsar sahabat. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Hadits Mihjan al-Dili
وَعَنْ مِحْجَنٍ الدِّيلِيِّ رضي الله عنه قَالَ: (أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ صَلَّيْتُ فِي أَهْلِي, فَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَجَلَسْتُ, فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم) (قَالَ لِي: مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ؟ أَلسْتَ بِرَجُلٍ مُسْلِمٍ؟ فَقُلْتُ: بَلَى وَلَكِنِّي كُنْتُ قَدْ صَلَّيْتُ فِي أَهْلِي, فَقَالَ لِي: إِذَا جِئْتَ فَصَلِّ مَعَ النَّاسِ, وَإِنْ كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ فِي أَهْلِكَ)
Mihjan al-Dili ra. berkata: (Aku mendatangi Rasulullah saw. dan aku sudah shalat sendiri di rumah. Ketika shalat diiqamati, akupun duduk -tidak ikut shalat-. Ketika Nabi saw. usai shalat) (Beliau bersabda padaku: Apa yang menghalangi anda tidak ikut shalat, bukankah anda seorang muslim? Aku menjawab: Benar, namun aku sudah menjalaninya di rumahku. Maka Nabi saw. bersabda: Jika anda datang, ikutlah berjamaah bersama umat, walaupun anda telah melakukannya di rumah).
(HR Nasai: 857; Ahmad: 16440; Malik: 296; Thabrani dalam Kabir: 20/293, hadits: 696; Abdurrazaq: 3932).
2. Hadits Yazid bin Aswad
وَعَنْ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ الْعَامِرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: (حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَجَّةَ الْوَدَاعِ، قَالَ: فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَلَاةَ الصُّبْحِ) (فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ ((بِمِنًى) (فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ انْحَرَفَ) (جَالِسًا وَاسْتَقْبَلَ النَّاسَ بِوَجْهِهِ، فَإِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ مِنْ وَرَاءِ النَّاسِ لَمْ يُصَلِّيَا مَعَ النَّاسِ، فَقَالَ: ائْتُونِي بِهَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ) (فَجِيءَ بِهِمَا تُرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا فَقَالَ: مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا؟ فَقَالَا: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا, قَالَ: فلَا تَفْعَلَا, إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ, فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ)
Yazid bin Aswad al-Amiri ra. berkata: (Kami pergi haji bersama Nabi saat haji wada’. Kami shalat Subuh bersama Nabi) (di masjid Khif) (di Mina). (Ketika selesai, beliau bergeser) (sambil duduk dan memandangi umat. Tiba-tiba beliau menyaksikan dua orang di sisi belakang umat yang tidak ikut shalat berjamaah. Sabdanya: Hadirkan kedua orang itu) (Lalu keduanya dihadapkan kepada beliau dalam kondisi ketakutan. Nabi bertanya: Apa yang menghalangi kalian berdua tidak shalat bersama kami? Keduanya menjawab: Wahai Rasulullah, kami sudah shalat di tempat kami. Sabdanya: Janganlah kalian lakukan. Jika kalian telah shalat di tempatmu kemudian kalian mendatangi masjid berjamaah, maka shalatlah bersama mereka, maka bagi kalian bernilai tambahan (sunah).
(HR Tirmidzi: 219; Nasai: 858, 1334; Ahmad: 17509, 17510, 17511).
3. Hadits Fadhalah al-Laitsi
وَعَنْ فَضَالَةَ اللَّيْثِيِّ رضي الله عنه قَالَ: (أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْلَمْتُ, وَعَلَّمَنِي, حَتَّى عَلَّمَنِي الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ لِمَوَاقِيتِهِنَّ, فَقُلْتُ لَهُ: إِنَّ هَذِهِ لَسَاعَاتٌ أُشْغَلُ فِيهَا, فَمُرْنِي) (بِأَمْرٍ جَامِعٍ إِذَا أَنَا فَعَلْتُهُ أَجْزَأَ عَنِّي) (فَقَالَ لِي: إِنْ شُغِلْتَ, فلَا تُشْغَلْ عَنْ الْعَصْرَيْنِ, قُلْتُ: وَمَا الْعَصْرَانِ؟) (قَالَ: صَلَاةٌ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ, وَصَلَاةٌ قَبْلَ غُرُوبِهَا)
Fadhalah al-Laitsi ra. berkata: (Aku menghadap Nabi dan memeluk Islam dan beliau mengajari aku shalat lima waktu. Aku berkata: Itu saat sibukku, maka perintahlah aku) (hal yang komplit jika aku kerjakan mencukupi bagiku). (Nabi bersabda: Jika anda sibuk, maka jangan tinggalkan dua masa. Aku bertanya: Apa itu) (Nabi bersabda: shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan sebelum tenggelamnya (Ashar).
(HR Abu Dawud: 428; Ahmad: 19046. Periksa: Shahihah: 1813).
4. Hadits Musa bin Salamah al-Hudzali
وَعَنْ مُوسَى بْنِ سَلَمَةَ الْهُذَلِيِّ قَالَ: (كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما بِمَكَّةَ, فَقُلْتُ:) (كَيْفَ أُصَلِّي إِذَا كُنْتُ بِمَكَّةَ إِذَا لَمْ أُصَلِّ مَعَ الْإِمَامِ) (وَأَنَا بِالْبَطْحَاءِ؟) (فَقَالَ: رَكْعَتَيْنِ, تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم)
Musa bin Salamah al-Hudzali berkata: (Kami bersama Ibnu Abbas di Mekah. Lalu aku berkata:) (Bagaimana aku shalat di Mekah jika tidak berjamaah) (saat aku di Batha’) (Ia berkata: Shalatlah dua rakaat, begitulah sunah Nabi saw.).
(HR Muslim: 688; Nasai: 1443, 1444; Ahmad: 1862, 1996, 3119).
5. Hadits Nafi’
وَعَنْ نَافِعٍ قَالَ: أَقَامَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنهما بِمَكَّةَ عَشْرَ لَيَالٍ يَقْصُرُ الصَّلَاةَ, إِلَّا أَنْ يُصَلِّيَهَا مَعَ الْإِمَامِ, فَيُصَلِّيهَا بِصَلَاتِهِ
Nafi’ berkata: Ibnu Umar ketika berada di Mekah selama sepuluh hari selalu meng-qashar shalat, kecuali jika shalat berjamaah, maka ia mengikuti imam (shalat sempurna).
(HR Malik: 344).
Berjamaah Hanyalah Afdhal
Secara sharih (jelas) Rasulullah saw menyatakan bahwa shalat berjamaah itu lebih utama dibanding shalat seorang secara sendirian. Hal ini menjadi pisau analisis yang paling tajam, bahwa shalat wajib secara sendiri itu dibenarkan.
Inilah klimak dari kelemahan orang yang berpendapat bahwa shalat berjamaah hukumnya wajib. Dan hadits-hadits serta atsar yang dipaparkan sebelumnya Shalat Wajib Sendirian juga mempertajam benarnya shalat wajib secara sendirian.
1. Hadits Abu Hurairah
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ، تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً) وفي رواية: (صَلَاةٌ مَعَ الْإِمَامِ, أَفْضَلُ مِنْ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ صَلَاةً يُصَلِّيهَا وَحْدَهُ) وفي رواية: (صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ, تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ) (كُلُّهَا مِثْلُ صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ) (وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ, ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَلَاةَ، لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً) (مِنْ بَيْتِهِ إِلَى مَسْجِدِهِ) (إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً , وَحَطَّ عَنْهُ خَطِيئَةً) (حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ, فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ, كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتِ الصَلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ) (لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ) (وَتُصَلِّي عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ) (يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ) (اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ) (اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ, اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ) (مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ)
Dinarasikan Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda: (Shalat seorang berjamaah, melebihi pahalanya terhadap shalatnya di rumah, atau di pasar sebesar dua puluh lima derajat). Dalam riwayat lain: (Shalat berjamaah bersama imam, lebih utama dua puluh lima derajat dari pada shalat sendirian). Dalam riwayat lain: Shalat seorang berjamaah melebihi shalatnya sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat) (semuanya seperti shalatnya sendirian di rumah) (Yang sedemikian itu jika seorang wudhu dengan sempurna, lalu ia mendatangi masjid yang tiada niat kecuali shalat, maka tidaklah ia sekali melangkah) (dari rumah ke masjid) (kecuali Allah mengangkat satu derajat, dan menghapus satu kesalahan) (sampai ia masuk masjid. Jika telah masuk masjid, ia dalam posisi shalat saat menunggunya) (tidak ada yang menghalanginya berbalik ke rumah kecuali untuk shalat) (Para malaikat juga selalu mengucapkan shalawat baginya selama ia berada di tempat duduknya) (Mereka berucap: Ya Allah sejahterahkanlah dia) (rahmatilah dia) (ampunilah dia dan terimalah tobatnya) (Selama ia belum berhadats, dan tidak menyakiti temannya).
(HR Bukhari: 465, 619, 2013; Muslim: 649, 650; Abu Dawud: 470; Nasai: 705; Ibnu Majah: 799; Ahmad: 7681, 10854; Thabrani dalam Kabir: 10098).
2. Hadits Abu Sa’id al-Khudri
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: صَلاَةُ الجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الفَذِّ بِخَمْسٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً3
Abu Sa’id al-Khudri ra. mendengar Rasulullah saw. bersabda: Shalat berjamaah lebih diutamakan daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh lima derajat.
(HR Bukhari: 619; Ibnu Majah: 788; Ahmad: 11538; Abu Ya’la: 1361).
3. Hadits Ibnu Umar
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Dinarasikan Abdullah ibn Umar ra, Rasulullah saw. bersabda: Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.
(HR Bukhari: 619; Muslim: 650; Ibnu Hibban: 2052; Tirmidzi: 215; Nasai: 837; Ibnu Majah: 789; Ahmad: 5332; Malik: 288).
4. Hadits Anas
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Dinarasikan Anas ra., Rasulullah saw. bersabda: Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian sebanyak dua puluh lima derajat. (HR Thabrani dalam Ausath: 2178; Dhiya’: 2214).
5. Hadits Aisyah
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Dinarasikan Aisyah ra, Rasulullah saw. bersabda: Shalat berjamaah lebih utama dibandingkan shalat sendirian sebanyak dua puluh lima derajat. (HR Nasai: 839; Ahmad: 24267).
Hadits-hadits di atas menyebutkan tentang keutamaan shalat berjamaah dari pada shalat sendirian, hal ini tidak menunjukkan kewajiban melakukan shalat berjamaah. Shalat sendirian masih mendapatkan pahala, hanya tidak sebanyak pahala shalat berjamaah.
Perbuatan yang masih mendapat pahala bukanlah sesuatu yang tidak boleh dikerjakan. Apabila tidak boleh dikerjakan tentu dilarang, dan bagi yang mengerjakan tentu tidak diterima dan tidak diberi pahala atau bahkan berdosa.
Catatan Akhir
Ikamat dikumandangkan, lalu sajian makan dihidangkan atau keinginan hajat besar dan kecil tak tertahan atau rasa kantuk tak terhindar, maka kenapa tidak mengedepankan shalat berjamaah, justru sebaliknya.
Jika shalat berjamaah wajib, tentunya urusan-urusan sepele seperti ini supaya diabaikan sehingga kewajiban shalat berjamaah dapat dilaksanakan secara maksimal. Jika seorang harus menyelesaikan makan dahulu atau buang hajatnya terlebih dahulu atau tidurnya, maka dapat dipastikan ia tidak dapat shalat berjamaah. (*)
Editor Mohammad Nurfatoni
Edisi lebih singkat dari artikel ini pernah dimuat oleh majalah Matan.