Pusat Muhammadiyah Bukan di Jakarta atau Yogyakarta, tapi ….

250
Pasang Iklan Murah
Najih Prastiyo saat memberikan meteri Baitul Arqam di PRM Penganggungan

PWMU.CO – Sesungguhnya ummat Islam dilarang meninggalkan generasi yang lemah. Baik lemah secara mental maupun secara keilmuan. Demikian paparan Sekretaris Majelis Pendidikan Kader (MPK PWM) Jawa Timur Najih Prastiyo mengawali materi dalam Baitul Arqam Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Penanggungan, Klojen Kota Malang.

”Salah satu poin penting dalam berorganisasi adalah menjadikan kita kuat dalam segala hal,” kata Najih di hadapan para peserta Baitul Arqam yang hadir di Homestay Sumber Urip Jl Raya Tlekung 138 Batu, Jum’at (16/6) malam.

iklan

(Baca: Ini Ranting Muhammadiyah yang Secara Mandiri Bisa Adakan Baitul Arqam dan Baitul Arqam, Tonggak Awal Pengkaderan Islam)

Najih mengungkapkan manusia disebutkan Allah SWT dalam al-Qur’an sebagai An-Nas yang berarti manusia yang saling membutuhkan. Kemudian, Al-Insan dan Al-Basyar yang berarti manusia taat beribadah, Abdullah yang berarti manusia mengabdi dan khalifah yang artinya wakil. Lebih tepatnya, wakil Allah untuk bisa mengurus bumi.

”Karena itulah kita butuh komunitas atau organisasi untuk mengurus bumi ini. Coba saja kalau di dunia ini tidak ada organisasi, maka  dunia ini akan diatur sesuai dengan isi kepala masing- masing,” tegas Najih.

Pada hakekatnya, lanjut Najih sebagai mahluk sosial, manusia tidak akan mau masuk surga sendiri. ”Bila kita masih mikir untuk diri sendiri, maka belum bisa menjadi Khalifah,” tuturnya.

(Baca juga: Ini Asal Muasal Baitul Arqam dalam Pengkaderan Muhammadiyah dan DANA untuk Penguatan Jaringan dan Isu-Isu Keperempuanan)

Pria asal Lamongan ini lalu mencontohkan di Australia misalnya, bila ada tetangga yang miskin, maka mereka merasa sungkan. ”Fungsi lain dari berorganisasi adalah untuk bisa memikirkan kebaikan bersama. Unsur sosial itulah yang dibutuhkan oleh seorang organisatoris,” terangnya.

Lebih lanjut Najih mengingatkan bahwa Allah SWT menyerukan manusia untuk berdakwah. ”Bila mengaku kader Muhammadiyah, maka ada kewajiban mengajak. Dan yang harus kita ajak yang pertama kali adalah orang yang terdekat atau keluarga kita,” paparnya.

Nah, apabila bicara tentang Muhammadiyah, maka pusatnya tidak di Jakarta, tapi di ranting. ”Bila mau bangun Muhammadiyah, maka kuatkan dulu ranting yang ada,” ujar Najih memberi semangat peserta.

(Baca juga: IMM Jangan Latah dan Tidak Berpendirian)

Maka dari itu, lanjut Najih kita harus bersyukur apabila ada ide cerdas untuk gerakan Muhammadiyah di tingkat ranting. Karena Ranting Muhammadiyah itu ibarat pondasi dan tiangnya adalah  visi maupun misi. Sedangkan dindingnya adalah kebersamaan, atapnya adalah rasa memiliki, dan perabotnya adalah kegiatan, serta catnya adalah keinginan hati para pemiliknya.

Sementara pada tataran negara, sebut Najih Muhammadiyah mempunyai peran sangat penting  yang harus dijaga bersama. ”Siapa lagi yang mau menjaga kalau bukan kita kader Muhammadiyah,” selorohnya.

Aktivis IMM ini dengan tegas mengatakan tidak akan ada barokahnya bila kader hanya numpang nama dalam struktur Muhammadiyah. Apalagi, ikut Muhammadiyah hanya grubyak-grubyuk.”Berorganisasi harus didasari dengan keinginan dan keikhlasan dalam berjuang, bila tidak maka tidak akan bisa memperindah organisasi,” tandasnya. (uzlifah/aan)