Pengamat LIPI Siti Zuhro: Politik Taqlid Bukan Kultur Muhammadiyah

161
Pasang Iklan Murah
Dari kiri: Aribowo, Arif Budiman, Siti Zuhro, dan Zainuddin Maliki. (Foto Uzlifah/pwmu.co)

PWMU.CO – Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pro Dr R Siti Zuhro MA memuji sikap politik Muhammadiyah. Menurutnya, ormas yang berdiri sejak 1912 itu selalu solid dalam bersikap. “Dalam konstelasi politik taqlid, yaitu hanya ikut-ikutan, (itu) bukan merupakan kultur Muhammadiyah,” kata Wiwik—panggilan akrabnya.

Dalam acara Silaturrahim dan Konsolidasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim yang digelar di Aula KH Mas Mansur Jalan Kertomenanggal Surabaya, Ahad (23/7), Wiwik juga membahas tentang politik aliran. ”Klasifikasi abangan, priyayi, dan santri telah menyebabkan afiliasi dalam politik,” ungkapnya.

iklan

(Baca: Haedar Nashir: Jangan Remehkan Politik Muhammadiyah)

Dalam afiliasi itu, ujarnya, kaum priyayi dan santri sering diklasifikasikan ke dalam NU dan Masyumi sedangkan kaum abangan ada di PNI dan PKI. Tapi, setelah Orde Baru tumbang, politik aliran sudah tidak relevan lagi. “Lambat laun politik aliran berkurang tapi tidak sepenuhnya hilang,” jelas dia.

Menurutnya, pasca-Orde Baru tidak ada pemenang pemilu yang mutlak. Sementara itu perolehan suara partai Islam dari pemilu 1999 sampai 2014 selalu anjlok. “Secara umum meskipun penduduk mayoritas Islam tapi kekuatan politik Islam hanya 43, 69 persen,” papar Wiwik. “Dari perolehan suara partai Islam, PPP-lah yang sangat kasihan, banyaknya malapetaka karena friksi yang tidak jelas membuat suaranya merosot tajam.”

(Baca juga: Jelaskan 6 Manhaj Muhammadiyah, Haedar Nashir Ajak Umat Islam Bersatu jika Ingin Berkuasa)

Wiwik menyampaikan perlunya redifinisi tentang partai aliran. Dia mencontohkan Gerinda yang bukan representasi Islam tapi dikonotasikan perwakilan Islam. Menyinggung soal Pemilu 2019, Wiwik mengatakan bahwa melihat fakta yang ada, yaitu pasangan calon dengan para partai pendukungnya, maka sebenarnya pemerintah tidak perlu khawatir sehingga mengambil kebijakan presidential threshold 20 persen.

Dia juga memprediksi jika Jokowi yang merupakan representasi kalangan abangan besar kemungkinan akan mendapat lawan utama dari kaum santri.

Untuk itu, Wiwik berharap bahwa Muhammadiyah bisa memunculkan sosok yang menjadi pengayom Islam. “Starting point, untuk pemilu ke depan Muhammadiyah harus bisa memayungi Islam, tidak hanya kadernya,” pesannya. (Uzlifah)

Nampak sebagian peserta Silaturrahim dan Konsolidasi PWM Jatim. (Foto Uzlifah/pwmu.com)