Baru saja kembali dari perjalanan 4 hari 3 malam ke Bogor untuk mengikuti Pelatihan Guru Olimpiade Matematika SD di Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Ini bagian dari rangkaian seleksi program Sekolah Unggulan MIPA Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Saya benar-benar excited sekaligus grogi saat pertama kali tiba di sana.
Materi yang diberikan benar-benar menantang, terutama geometri dan kombinatorik. Jujur saja, otak saya terasa panas sekali saat mencoba memahaminya.
Rasanya seperti dipaksa berpikir level dewa. Setiap soal diberikan, saya harus benar-benar fokus dan menghabiskan waktu lebih lama dari yang lain. Tapi, tantangan inilah yang membuat pelatihan ini seru dan bikin ketagihan.
Malam pertama di Bogor, saya duduk di teras penginapan sambil menikmati hawa sejuk kota ini. Pikiran saya masih penuh dengan apa yang saya pelajari hari itu. Di tengah kesunyian malam, saya sadar sesuatu: guru yang baik bukanlah guru yang bisa menjawab semua pertanyaan siswa, tapi guru yang bisa membuat siswa bertanya dan terus ingin belajar. Pengalaman ini benar-benar membuka wawasan sebagai seorang pendidik.
Hari kedua dan ketiga berjalan super sibuk. Diskusi panas, permainan matematika yang seru, dan tentu saja materi-materi yang bikin kepala pusing. Tapi anehnya, saya semakin semangat! Saya bertemu dengan banyak guru hebat dari berbagai daerah, saling berbagi pengalaman dan strategi mengajar. Komunitas ini luar biasa, penuh dukungan dan inspirasi.
Pembelajaran Matematika
Malam kedua di Bogor, otak saya rasanya lagi “kebakaran”—dalam artian positif! Seharian penuh aktivitas berpikir, main, dan diskusi tentang berbagai ide untuk pembelajaran matematika yang lebih baik. Meski capek, tapi hati ini senang sekali karena merasa produktif dan berkembang.
Menyelesaikan materi olimpiade memang punya tantangan tersendiri. Soal olimpiade tidak mengandalkan prosedur baku. Guru harus mampu melihat pola dari sudut yang tidak biasa, menghubungkan konsep dari berbagai sub-bidang matematika, dan menerapkan strategi seperti invarian, prinsip sangkar merpati, atau simetri secara kreatif.
Dalam geometri, sering diperlukan pemahaman mendalam tentang transformasi (refleksi, rotasi), kesebangunan, trigonometri, dan penggunaan koordinat atau vektor secara strategis. Di kombinatorik, rentan terhadap overcounting atau undercounting, sering muncul kasus kecil yang mudah diabaikan, tetapi mengubah hasil akhir, serta penyelesaian memerlukan pengorganisasian sistematis (kasus kecil, modulasi, atau penggunaan diagram pohon).
Soal olimpiade dirancang untuk diselesaikan dalam waktu terbatas, tetapi kompleksitasnya tinggi. Maka, guru harus cepat memilih pendekatan yang paling efisien, tanpa trial-error berlebihan.
Pelatihan yang berlangsung pada 13-16 Januari 2026 ini benar-benar membuka mata tentang pentingnya terus belajar dan mengembangkan diri sebagai pendidik. Sekarang, saya pulang dengan semangat baru untuk menerapkan ilmu kombinatorik dan geometri “gila” ini di kelas olimpiade. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments