Dalam hidup, tidak semua yang tampak indah adalah anugerah, dan tidak semua yang terasa pahit adalah musibah.
Ada kalanya Allah menghadirkan kejadian-kejadian yang mengguncang batin manusia, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguji seberapa kokoh iman yang tertanam di dalam dada.
Pada setiap peristiwa yang Allah hadirkan di sekitar kita, selalu tersimpan hikmah bagi siapa pun yang mau jujur pada dirinya dan mau belajar.
Kematian mengajarkan bahwa hidup ini fana. Kehilangan mengingatkan bahwa apa pun yang kita genggam hanyalah titipan.
Kegagalan menegur kesombongan, dan keberhasilan pun sesungguhnya adalah ujian: apakah kita tetap rendah hati atau justru lalai.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan sesuatu yang terus diuji oleh waktu, keadaan, dan godaan.
Dalam urusan amal, kita sering terlena. Merasa sudah berada di jalan yang benar, merasa aman dengan kebiasaan ibadah yang telah lama dilakukan.
Padahal, tidak ada satu pun manusia yang mendapat garansi husnul khatimah hanya karena masa lalu yang baik.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)
Inilah mengapa para ulama dan orang-orang saleh terdahulu justru semakin takut kepada Allah seiring bertambahnya usia. Mereka rajin berdoa agar hati tetap diteguhkan. Bukan karena kurang amal, tetapi karena sadar betapa rapuhnya iman manusia tanpa pertolongan Allah.
Di sinilah falsafah Jawa menemukan relevansinya: “Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman.”
Jangan mudah kagum, jangan larut dalam penyesalan, jangan gampang terkejut, dan jangan manja.
Ojo gumunan mengajarkan kita agar tidak silau pada dunia. Jabatan, harta, dan popularitas bisa berubah dalam sekejap.
Banyak orang yang hari ini dielu-elukan, esok hari dilupakan. Jika iman bertumpu pada dunia, maka ketika dunia runtuh, iman pun ikut goyah.
Ojo getunan menuntun kita untuk tidak tenggelam dalam penyesalan masa lalu. Menyesal boleh, tapi berhenti di sana justru melemahkan. Islam mengajarkan taubat dan harapan, bukan keputusasaan.
Ojo kagetan melatih mental agar tidak mudah kaget saat diuji. Hidup memang tidak pernah benar-benar tenang.
Ujian adalah keniscayaan. Orang yang imannya dangkal mudah panik, sementara yang imannya tertanam kuat akan lebih tenang menghadapi gelombang kehidupan.
Ojo aleman adalah ajaran ketangguhan. Terlalu dimanja oleh kenyamanan membuat manusia rapuh. Padahal, iman seringkali justru tumbuh dalam kesulitan.
Kita sering menjumpai orang yang saat hidupnya lapang, ibadahnya longgar. Namun ketika diuji sakit, kehilangan, atau kegagalan, justru kembali mendekat kepada Allah.
Sebaliknya, ada pula yang awalnya tampak saleh, tetapi ketika diuji kenikmatan, perlahan menjauh dari nilai-nilai yang dulu ia pegang.
Sejarah pun memberi banyak pelajaran. Betapa banyak orang yang memulai hidup dengan iman yang tampak kuat, tetapi di tengah jalan tergelincir karena tidak siap menghadapi ujian dunia. Na‘udzubillah.
Karena itu, Allah menghadirkan ujian bukan semata untuk menyakiti, melainkan sebagai “rem” agar manusia tidak melampaui batas. Kadang rasa sedih, takut, dan kecewa justru menjadi cara Allah menjaga hamba-Nya agar kembali sadar: kita ini lemah, dan sangat membutuhkan-Nya.
Jika hari ini kita merasa sedih karena belum istiqamah, takut akan masa depan iman, atau menyesal atas kelalaian, itu bukan tanda kebinasaan. Justru bisa jadi itu pertanda hati masih hidup. Yang berbahaya adalah ketika hati tak lagi merasa apa-apa.
Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Maka tugas kita bukan menghindari ujian, melainkan menguatkan iman. Menancapkannya lebih dalam, dengan doa, muhasabah, dan kesadaran bahwa tanpa Allah kita bukan siapa-siapa.
Hidup ini adalah perjalanan panjang menuju Allah. Jalan yang dilalui tidak selalu lurus dan mulus. Ada tanjakan, ada tikungan tajam, bahkan jurang yang mengintai.
Namun dengan iman yang terus dirawat, dengan sikap ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman, insya Allah kita diberi kekuatan untuk tetap melangkah.
Semoga Allah senantiasa menjaga iman yang tertancap di dalam dada kita, meneguhkan hati hingga akhir hayat, dan mengumpulkan kita dalam husnul khatimah.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments