
Oleh Achmad Rowie Fattah – Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
PWMU.CO – Tak terasa bulan Rajab sudah terlewati. Artinya, sebulan berikutnya kita akan memasuki bulan Ramadhan. Bulan Rajab dan Ramadhan merupakan yang mulia. Yang perlukita tahu, antara bulan Rajab dan Ramadhan tersebut, ada bulan Sya’ban yang tidak kalah mulianya. Sayangnya, kebanyakan bulan ini terlewati begitu saja, padahal ada kemuliaan padanya. Disebut Sya’ban karena orang-orang Arab terdahulu yatasya’buna (berpencar dan berpisah) di bulan ini untuk mencari air.
Dalam sejarahnya di masa itu, orang-orang Arab Jahiliyyah membuat kelompok-kelompok untuk mencari sumber-sumber air. Hal itu sebagai persiapkan diri untuk menghadapi datangnya bulan Ramadhan — yang pada wilayah Jazirah Arab terkenal panasnya.
Kegiatan yang berpencar atau menyebar itu Namanya tasa’ub dan keadaannya dinamakan Sya’ban. Masyarakat Arab saat itu memulainya dengan berkumpul untuk kemudian melakukan penyebaran mencari sumber-sumber air. Setelah mendapatkannya, mereka menampung dan mengumpulkannya untuk persiapan saat datangnya bulan Ramadhan.
Pada masa Islam, aktivitas itu mengalami pengembangan makna tentang nama bulan Sya’ban tersebut. Pengembangan makna itu mencakup pada semua nama bulan dalam tahun Hijriyah, tidak terkecuali juga bulan Sya’ban. Jika sebelumnya makna Sya’ban hanya penanda iklim atau cuaca, pada masa Islam bermakna sebagai persiapan diri untuk menyambut bulan Ramadhan — dalam pengertian religiusitas atau ibadah.
Sya’ban menjadi salah satu bulan yang terbaik untuk menjalankan serangkaian ibadah. Yaitu untuk mempersiapkan jiwa dalam menyambut bulan Ramadhan. Pada bulan Sya’ban ini, juga bisa kita manfaatkan untuk menyempurnakan ibadah kita yang kurang sempurna yang kita lakukan sebelumnya. Dalam kitab Lathaif al ma’arif Karya Ibnu Rajab al-Hanbali, ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang keutamaan di bulan Sya’ban.
Ibadah sebagai bentuk latihan
Sebagai manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangan, maka terkadang untuk bisa melakukan berbagai kebaikan itu membutuhkan latihan. Terlebih lagi dalam rangka menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah. Jika kita sudah melatih atau membiasakan diri untuk berpuasa dan melakukan amal kebajikan lainnya, insyaallah pada bulan Ramadhan akan lebih bisa merasakan manisnya keimanan dari ibadah yang kita lakukan. Bukankah setiap kebiasaan itu memerlukan latihan agar terbiasa dalam pelaksanaannya?
Seseorang yang belum terbiasa dengan rangkaian serangkaian ibadah — yang apalagi panjang — pasti akan merasa berat dan terbebani. Sebaliknya, bagi yang sudah terbiasa melakukan ibadah — seperti puasa, sholat, dzikir, dan lain sebagainya — pasti akan lebih bisa merasakan manisnya ibadah. Karena itu, tujuan dari ibadah pada bulan Sya’ban ini untuk melatih jiwa dan fisik dalam menyambut Ramadhan dalam kondisi taat kepada Allah Swt.
Diangkatnya amal manusia dan dilaporkan pada Allah Swt
Usamah bin Zaid meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw sering berpuasa di bulan Sya’ban, bahkan lebih sering daripada pada bulan Rajab. Para sahabat pun mengkonfirmasi tentang keutamaan bulan Sya’ban langsung kepada Rasulullah. Nabi pun menjelaskan bahwa dalam bulan tersebut Allah mengangkat semua amalan manusia. Nabi menginginkan saat Allah mengangkat amalannya, beliau dalam keadaan berpuasa.
Secara umum ada 2 hikmah bagi yang sedang berpuasa, yakni: puasanya akan menjaganya dan meningkatnya amal perbuatannya. Seseorang yang berpuasa akan menjaga dirinya dari perbuatan maksiat. Hal itu tumbuh karena kekhawatiran seseorang untuk mengurangi pahala atau bahkan membatalkan puasanya. Saat potensi kemaksiatan tidak muncul, maka ketaatanlah yang akan mewarnai kehidupan seseorang. Banyak amalan baik yang akan terlibat jika seseorang berpuasa dengan keimanan yang sungguh-sungguh.
Bulan untuk mendekatkan diri pada Allah
Bulan Sya’ban memberikan banyak pelajaran penting bagi umat islam. Pada bulan ini agar kita bisa intropeksi diri dari kesalahan yang kita lakukan. Juga mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan melakukan amalan kebajikan. Hanya dengan meningkatkan ibadah, kita dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Sebagian salaf berkata bahwa orang yang berdzikir kepada Allah ditengah orang yang lalai, seperti bertahan saat pasukan kalah dalam medan pertempuran. Kelalaian oleh banyak orang daripada ingat kepada Allah hanya akan mendatangkan azab-Nya. Tetapi hal itu tidak terjadi jika masih ada hambaNya yang melakukan dzikir sebagai bentuk pengagungan kepada-Nya.
Bulan penuh pengampunan
Sunan Ibnu Majah menjelaskan bahwasanya pada malam nisfu Sya’ban, Allah akan turun ke langit dunia untuk memberikan ampunan dan mengabulkan semua doa-doa. Semoga pada malam tersebut para manusia bangun dan meminta segala hajatnya kepada Allah, serta memohon pengampunan atas dosa kepadaNya.
Terdapat hadis riwayat Imam Ahmad berkenaan dengan Aisyah istri Rasulullah yang mencari Rasul saat tidak berada di rumah Aisyah. Ummul Mukminin itu melihat Rasulullah Saw sedang berada di pemakaman Baqi dengan menengadah ke langit. Beliau berkata bahwasanya Allah turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban dan mengampuni banyak dosa seperti jumlah bulu domba Bani Kalb.
Dalam hadist lain Ibnu Majah meriwayatkan, dari Abu Musa al-Asy’ari bahwa Rasulullah bersabda: sesungguhnya Allah melihat seluruh mahluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni semua mahluk-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang saling bermusuhan.
Dari semua riwayat yang telah terpaparkan, seharusnya menjadi motivasi bagi kita agar menyempatkan diri untuk meningkatkan ibadah pada bulan Sya’ban yang agung ini. Berusaha untuk meninggalkan kemaksiatan serta meningkatkan amal saleh, agar bisa mendapatkan ampunan Allah serta dapat bertemu bulan Ramadhan. Amiinn…. (*)
Editor Notonegoro