
PWMU.CO – Suasana di Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Baratajaya Surabaya pada Kamis (6/2/2025) pagi, dipenuhi dengan semangat dan keceriaan.
Alunan musik Jawa yang rancak dan suara kidung jula-juli terdengar mengiringi kegiatan Guest Teacher Learning, yang diikuti oleh 95 siswa kelas IV.
Mereka mengenakan berbagai kostum ala Jawa Timuran, siap untuk belajar tentang kebudayaan Jawa Timur.
Kegiatan bertajuk Mengenal Kebudayaan Jawa Timur ini merupakan bagian dari implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang mengangkat tema kearifan lokal, khususnya mengenai Kidungan dan Parikan Jawa Timuran.
Sekolah Kreatif Baratajaya mendatangkan guru tamu, Ketut Santoso, seorang Budayawan Jawa Timur yang akrab dipanggil Kak Tobi, untuk membawakan materi.
Sebelumnya, para siswa telah diberi tugas untuk menggambar berbagai elemen kebudayaan Jawa Timur, seperti karapan sapi, bambu runcing, patung Suroboyo, Tugu Pahlawan, tari remo, reog ponorogo, jaranan, nasi tumpeng, pakaian adat Jawa Timuran, dan lainnya. Hasil karya mereka dipamerkan di halaman sekolah.
Kak Tobi memulai sesi dengan memberikan contoh ucapan selamat dalam Bahasa Jawa. “Sugeng enjing itu selamat pagi, sugeng dalu itu selamat malam, sugeng sonten itu selamat sore, dan sugeng rawuh itu selamat datang,” ujarnya.
Ia lalu melanjutkan dengan menyapa siswa menggunakan Jula Juli, pantun atau syair Jawa Timuran yang disampaikan dengan lagu. Tidak hanya itu, Kak Tobi juga mengajak siswa untuk bernyanyi dan menari bersama dalam lagu Rek Ayo Rek, yang membuat seluruh siswa tertawa dan terlibat aktif.

Dalam penjelasannya, Kak Tobi menyebutkan salah satu kesenian tradisional Jawa Timur, yaitu Ludruk, yang merupakan teater rakyat yang mengisahkan cerita rakyat dan kehidupan keseharian, biasanya disertai dengan alat musik gamelan.
Ia juga mengajak beberapa siswa untuk memerankan cerita Sawunggaling dalam Ludruk, yang menggambarkan kisah kesaktian seorang pahlawan Jawa, Raden Sawunggaling.
“Sawunggaling adalah seorang adipati Surabaya yang dikenal gagah berani melawan Belanda,” terang Kak Tobi.
Dia juga menceritakan asal-usul nama Sawunggaling dan kisah heroik mengenai ayahnya, Jayengrono, yang merupakan seorang adipati di Surabaya.
Di tengah acara, Kak Tobi mengajukan pertanyaan tentang Gubernur Jawa Timur dan Walikota Surabaya, yang langsung dijawab serempak oleh para siswa, “Gubernur Jawa Timur Ibu Khofifah dan Walikota Surabaya Eri Cahyadi.”
Di akhir sesi, Kak Tobi mengajak para siswa untuk lebih mencintai budaya Jawa Timur, terutama Surabaya, dengan menyemangati mereka menggunakan tepuk Arek Suroboyo.
“Tepuk Arek Suroboyo… Semangat… Belajar… Menjadi… Yang terbaik… Suroboyo… Pasti jaya!” serunya, yang disambut dengan semangat oleh seluruh siswa.
Shofwan Hidayat MPd, guru kelas IV, menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan dan mengajak siswa untuk melestarikan budaya dan tradisi Jawa Timur. “Selain itu, kami ingin anak-anak semakin cinta dengan budaya dan tradisinya sendiri,” ungkapnya.
Siswa kelas IV, M. Maulana Ibrahim Al-Gozali, sangat senang dengan kegiatan ini. “Aku senang bisa belajar tentang Jawa Timur. Acaranya seru! Aku tadi diajak main ludruk bersama Kak Tobi. Aku berperan jadi Joko Berek,” ujarnya dengan antusias.
Sebagai penutup, para siswa juga belajar membuat makanan tradisional, yakni gethuk lindri. Mereka bergantian memotong gilingan singkong yang diolah menjadi gethuk, dan menikmati hasilnya bersama-sama.
Kegiatan ini berhasil memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus edukatif bagi siswa, memperkenalkan mereka lebih dalam pada kekayaan budaya Jawa Timur yang penuh warna. (*)
Penulis Riska Oktaviana Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan