
Ustadz Bahrus Surur MAg bersama peserta egiatan Tarhib Ramadhan 1446 H oleh Pimpinan Cabang Aisyiyah Kota Sumenep, Rabu (5/2/2025). (Vieki Ardhina/PWMU.CO).
PWMU.CO – Pimpinan Cabang Aisyiyah Kota Sumenep mengadakan kegiatan Tarhib Ramadhan 1446 H, Rabu (5/2/2025). Bertempat di Pendopo rumah Keluarga H. Moh. Saleh-Hj. Mardhatillah, Tarhib kali ini menghadirkan penceramah Ustadz Bahrus Surur MAg.
Ketua PCA Kota Sumenep, Nurul Hidayati, berujar bahwa penyelenggara sengaja mengadakan agenda tersebut lebih awal. “Karena tidak hanya sekali, tetapi akan diadakan 4 kali pertemuan. Khusus 2 kalinya akan dibahas Fiqqun-Nisaa’ fi Ramadhan” ujar Nurul.
Dalam ceramahnya, Ustadz Bahrus Surur mengingatkan beberapa persiapan yang dapat seorang muslim lakukan untuk mempersiapkan Ramadhan.
Bertobat kepada Allah
Persiapan pertama adalah bertobat dan kembali kepada petunjuk Allah. Sejatinya bertaubat diperlukan dan bisa dilakukan setiap saat.
Sebab, hampir semua orang pasti tidak lepas dari dosa dan kesalahan.
Hanya saja, bertaubat sebelum memasuki bulan Ramadhan menunjukkan betapa seseorang itu memiliki keseriusan dalam memuliakan bulan suci tersebut.
Dengan demikian, ketika seseorang memasuki bulan Ramadhan tidak ada lagi sekat-sekat yang bisa mengahalanginya dari amal shaleh. Allah Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nuur ayat 31:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
Kemudian persiapan kedua adalah berdoa memohon kepada Allah agar tersampaikan ke bulan Ramadhan. Pasalnya, Ramadhan adalah bulan keberkahan yang hanya Allah berikan kepada para hamba pilihan Allah.
Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan tersebut dengan baik. Di antara kebiasaan para salaf adalah senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar tersampaikan ke bulan Ramadhan dan mendapat kekuatan untuk memaksimalkan ibadah di dalamnya.
Bahkan, ada kisah menarik sebagaimana termaktub dalam Lathaif al-Ma’arif, Mu’alla bin Al-Fadhl, salah satu ulama tabiu’t-tabiin.
“Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan” ujarnya.
“Kemudian, selama enam bulan saat dan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan” tambah Bahrus.
Adapun di antara doa yang para salaf contohkan adalah seperti riwayat dari Yahya bin Abi Katsir:
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً
“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”
Bersegera Mengganti Hutang Puasa
Selanjutnya persiapan ketiga ialah bersegera untuk mengganti puasa yang tertinggal. Salah satu kewajiban yang penting untuk diperhatikan sebelum memasuki Ramadhan adalah hutang puasa.
Siapa pun yang memiliki tanggungan puasa yang belum terlunasi, hendaknya segera melunasinya. Qadha puasa tidak mesti dilakukan setelah bulan Ramadhan, di bulan Syawal secara langsung.
Namun, boleh untuk menundanya sampai bulan Sya’ban, asalkan sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Diriwayatkan dari Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa ‘Aisyah r.a. mengatakan:
كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ
“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu meng-qadhanya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).
Persiapan keempat, mempelajari hukum-hukum seputar Ramadhan Ilmu merupakan modal utama dalam beramal. Tanpa ilmu maka akan kehilangan petunjuk dalam beribadah.
Efeknya, kalau ia semangat maka akan jatuh dalam kesesatan, atau bisa juga ia akan tertinggal, tidak bisa memperbanyak amal karena tidak mengetahuinya. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata:
“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”
Persiapan Kelima, mempersiapkan diri dengan amal-amal kebaikan. Memperbanyak amal merupakan salah satu bentuk keseriusan dalam memuliakan datangnya Ramadhan.
Terutama pada bulan Sya’ban, Rasulullah SAW mengisinya dengan memperbanyak berpuasa di bulan ini sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan.
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid r.a. bahwasanya ia berkata, “Ya Rasulullah! Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan di banding bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?”
Beliau menjawab, “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan amalan-amalan diangkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya suka jika amalanku diangkat dalam keadaan saya sedang berpuasa,” (HR. An-Nasa’i).
Kurangi Kegiatan Minim Manfaat
Adapun persiapan keenam, meninggalkan atau setidaknya mengurangi hal-hal yang kurang bermanfaat. Perbuatan yang sering menguras waktu kita adalah bermain-main dengan medsos.
Kita bisa berjam-jam dengan medsos. Bosan dengan What’sApp, pindah ke Facebook atau Instagram. Lelah dengan ketiga ganti lagi dengan YouTube atau TikTok. Tanpa terasa kita sudah bermedsos dua jam.
Padahal, jika disuruh membaca Al-Quran, belum sampai seperempat jam (lima belas menit) badan dan pikirannya rasanya sudah sangat capek. Sampai setengah jam, punggung terasa sakit semua, lalu mengantuk dan tidur. Empat puluh lima menit kita sudah dapat 1 juz.
Namun, jika mendapat pilihan ingin masuk surga atau neraka, maka tidak satupun yang akan memilih neraka. Seorang teman meyakinkan bukankah kalau di neraka nanti bisa berkumpul dengan para artis yang suka pamer auratnya? Dia hanya tertawa saja.
Persiapan ketujuh, merencanakan diri dengan amal-amal kebaikan. Buat program pribadi. Mau jalan-jalan saja direncanakan, masa’ mau puasa tidak ada persiapan sama sekali.
Tidak usah muluk-muluk. Misalnya, di bulan Ramadhan nanti saya ingin one day one juz; merencanakan bagi-bagi kurma untuk sepuluh orang perhari; mengirim air gelas untuk lima masjid, berbagi nasi bungkus kepada para abang becak dan pasukan kuning; dan sebagainya.
Terakhir atau persiapan kedelapan adalah menyiapkan niat yang ikhlas. Jangan ada dusta di antara kita dengan Allah.
Mempersiapkan niat berarti membersihkan hati dari segala macam riya’ (ingin dihargai, dilihat atau diperhatikan), sum’ah (ingin didengar orang lain), ujub (bangga dengan puasa Ramadhan dan amal ibadahnya) dan segala tendensius yang bukan karena Allah.
Inilah persiapan hati yang penting bagi semua orang yang hendak melakukan ibadah puasa dengan segala rangkaian ibadah lainnya.
Penulis Vieki Ardhina, Editor Danar Trivasya Fikri