
PWMU.CO – Pesantren Aisyiyah Quranic Boarding School (PTQ Aisyiyah) Ponorogo mengadakan studi tiru ke Pondok Modern Aisyiyah Islamic Boarding School (PM-AIBS) Bojonegoro.
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 45 peserta yang terdiri atas keluarga besar PTQ Aisyiyah, Badan Pembina Pesantren (BPP), serta Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Ponorogo.
Kunjungan ini bertujuan untuk berdiskusi dan mempelajari sistem pengelolaan serta kepemimpinan pesantren di AIBS Bojonegoro. Ilmu yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan di PTQ Aisyiyah Ponorogo agar terus berkembang ke depannya.
Pimpinan AIBS Bojonegoro, Ustaz Adib Susilo, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada para hafizah dari PTQ Aisyiyah Ponorogo.
“Kami berdoa dan menganggap kalian sebagai keluarga. Kedatangan AQBS Ponorogo ini yang pertama adalah untuk bersilaturahmi, dan yang kedua untuk belajar bersama mengenai sistem pengelolaan pondok pesantren. Melalui forum ini, kita akan berdiskusi serta bertukar wawasan seputar kepesantrenan,” ujarnya.
Sementara itu, Ustaz Syarifan Nurjan, selaku perwakilan Badan Pembina Pesantren PTQ Aisyiyah Ponorogo, mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk belajar dari AIBS Bojonegoro.
“Dulu kami bernama Pesantren Tahfizhul Quran (PTQ) Aisyiyah, tetapi setelah mendapat inspirasi dari AIBS Bojonegoro, kami mengubahnya menjadi Aisyiyah Quranic Boarding School (AQBS). Mungkin perbedaan utama kami dengan AIBS terletak pada fokus hafalan Quran-nya. Kami pernah bermimpi memiliki laboratorium Quran, dan semoga kelak AQBS bisa mewujudkan impian tersebut,” ujarnya.
Ia juga berharap AQBS Ponorogo dapat belajar lebih banyak tentang manajemen pesantren dan pengembangan organisasi santri, khususnya dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang telah berjalan di AIBS Bojonegoro.

Sejarah dan Perkembangan AQBS Ponorogo
Ketua PDA Ponorogo menambahkan bahwa AQBS Ponorogo awalnya bernama Pesantren Mahasiswa Aisyiyah (PMA). Namun, karena kurang berkembang dan keterbatasan tempat, akhirnya pada 2014 didirikan pondok tahfiz.
“Saat itu, pesantren ini masih belum berkembang pesat karena berbagai faktor, seperti belum memiliki bangunan sendiri, pengelola yang masih sibuk dengan tugas lain, serta kurikulum yang belum memiliki panduan dari Pimpinan Pusat atau Wilayah Aisyiyah. Akibatnya, kami kurang memiliki arah yang jelas,” paparnya.
Namun, ia bersyukur karena saat ini AQBS Ponorogo sudah mengalami perkembangan yang signifikan. Bahkan, pembangunan pondok sendiri ditargetkan selesai pada Mei 2025.
“Melalui kunjungan ini, kami ingin belajar lebih dalam tentang strategi penerimaan santri baru (PSB) serta sistem kurikulum pembelajaran di AIBS Bojonegoro,” tambahnya.
Rangkaian Kegiatan dan Diskusi
Setelah sesi pembukaan, para peserta diajak berkeliling kompleks PM-AIBS Bojonegoro untuk melihat langsung fasilitas pesantren, seperti amal usaha, ruang kelas, dan asrama santri.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan forum diskusi yang dibagi menjadi dua sesi. Para asatizah AQBS, BPP, dan PDA berdiskusi dengan pimpinan serta pengurus AIBS Bojonegoro, sementara santriwati AQBS belajar bersama staf pembantu pengasuhan santriwati dan IPM AIBS.
Studi tiru ini berlangsung dengan lancar dan diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai simbol silaturahmi dan kerja sama antara kedua pesantren.