
PWMU.CO – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia (RI), Prof Dr Abdul Mu’ti MEd, membahas Kerangka Precise, Process, and Product (3P) dalam kuliah tamu yang digelar oleh Universitas Negeri Malang (UM) dengan tema “Implementasi Deep Learning dalam Peningkatan Mutu Pendidikan untuk Semua” pada Kamis (13/02/2025) di Aula GKB A20 Lantai 9.
Beliau memberikan pandangan mendalam mengenai pendekatan pembelajaran yang berkualitas. Konsep ini tidak hanya menitikberatkan pada hasil pembelajaran, tetapi juga menyoroti proses dan ketepatan dalam mencapai hasil yang optimal.
- Precise (Ketepatan)
Faktor precise menekankan pentingnya ketepatan dalam menentukan tujuan pembelajaran, materi, dan metode. Dalam pendidikan berbasis Deep Learning, ketepatan berarti mampu mengidentifikasi kebutuhan peserta didik secara spesifik dan kontekstual. Misalnya, materi yang diajarkan harus relevan dengan kebutuhan dunia nyata serta memperhatikan keberagaman peserta didik. Prof Abdul Mu’ti menyebutkan bahwa ketepatan ini sangat penting dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif.
Nilai precise ini mencerminkan spirit Muhammadiyah yang selalu mengedepankan pendidikan yang memberdayakan, berkeadilan, dan berpihak pada semua lapisan masyarakat. Dengan ketepatan, pendidikan mampu menciptakan solusi konkret untuk tantangan global, termasuk ketimpangan akses pendidikan.
- Process (Proses)
Komponen process adalah inti dari kerangka 3P. Prof Abdul Mu’ti menekankan bahwa kualitas hasil pembelajaran sangat bergantung pada prosesnya. Deep Learning tidak hanya sekadar mentransfer informasi, tetapi lebih kepada transformasi pengetahuan, di mana peserta didik diarahkan untuk memahami makna mendalam dari apa yang dipelajari.
Proses pembelajaran yang baik melibatkan eksplorasi, diskusi, dan refleksi, sehingga peserta didik tidak hanya menghafal, tetapi juga mampu menghubungkan pengetahuan baru dengan konteks yang lebih luas.
Proses ini selaras dengan pendekatan tadabbur dalam nilai-nilai Islam, di mana peserta didik diajak untuk merenungi dan memahami hikmah di balik ilmu pengetahuan.
Muhammadiyah melalui amal usaha pendidikannya telah lama mengaplikasikan nilai process ini dengan mendorong pembelajaran aktif dan kolaboratif, serta mengintegrasikan pendidikan berbasis nilai moral dan spiritual.
- Product (Produk)
Hasil akhir atau product dalam kerangka 3P tidak hanya merujuk pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik. Prof Abdul Mu’ti menegaskan bahwa product yang ideal adalah peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, moral, dan spiritual yang kuat.
Pendekatan ini mendorong pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga individu yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Dalam konteks Muhammadiyah, product ini mencerminkan tujuan pendidikan untuk menciptakan insan kamil yang beriman, berilmu, dan beramal saleh.
Integrasi Kerangka 3P dengan Pendidikan Inklusif
Kerangka 3P menjadi landasan yang kokoh dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang sesuai dengan visi Education for All. Dengan memperhatikan ketepatan, proses, dan produk, sistem pendidikan dapat merangkul keberagaman, baik dari sisi kebutuhan peserta didik maupun konteks sosial-budaya mereka.
Nilai-nilai inklusif ini sejalan dengan misi Muhammadiyah yang selalu mengedepankan pendidikan berkeadilan. Pendidikan inklusif yang berbasis Deep Learning tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya persaudaraan, toleransi, dan pemberdayaan.
Kerangka 3P yang digagas Mendikdasmen ini menawarkan pendekatan holistik dalam meningkatkan mutu pendidikan. Dengan memadukan nilai-nilai Islam berkemajuan, pendidikan dapat menjadi instrumen transformasi sosial yang menciptakan generasi berakhlak mulia, berpengetahuan luas, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Sebagai bagian dari visi Muhammadiyah, kerangka ini menjadi panduan yang relevan untuk menghadapi tantangan pendidikan masa kini dan masa depan.(*)
Penulis Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin Editor Zahrah Khairani Karim