
PWMU.CO – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kalibaru, Banyuwangi melalui Lembaga Rukun Kematian Muhammadiyah (RKM), mengadakan acara silaturahmi anggota RKM di Masjid Al-Ihsan Kalibaru, Kamis (13/2/2025). Kegiatan ini diisi dengan pengajian oleh mubaligh asal Universitas Jember, Khoirul Anam ST MT PhD yang membawakan materi berjudul Detik-detik Sakaratul Maut.
Dalam sambutannya, Ketua RKM H Suwoko mengajak seluruh anggota RKM untuk senantiasa menjalin silaturahmi, karena silaturahmi merupakan salah satu bentuk komitmen bersama saat RKM didirikan. Selanjutnya, H. Suwoko mengajak anggota untuk memperbarui semangat.
“Dakwah merawat jenazah adalah dakwah yang tidak mudah, mengingat masyarakat di sekitar kita masih banyak yang belum melaksanakan perawatan jenazah sebagaimana tuntunan Islam,” pungkasnya.
Mengawali ceramahnya, Khoirul Anam mengingatkan kepada jamaah bahwa tujuan hidup setiap manusia adalah beribadah kepada Allah. Namun, masih banyak manusia yang belum tahu apa tujuan hidupnya.
“Hidup kita dalam sehari semalam adalah 24 jam. Ibadah kita kepada Allah nyaris tidak pernah lebih dari sepertiga 24 jam dalam sehari. Sepertiga yang lain untuk bekerja, dan sepertiga yang lainnya lagi untuk keluarga. Akan tetapi, sepertiga waktu kita belum maksimal kita manfaatkan untuk beribadah kepada Allah, padahal tujuan hidup kita adalah beribadah kepada Allah.”
“Allah telah memerintahkan kepada manusia untuk kebahagiaannya di hari akhirat, tetapi manusia lebih suka menghabiskan waktunya untuk kepentingan dunia. Berjam-jam bekerja, mencari uang untuk kepentingan dunia, untuk bersenang-senang di dunia, padahal dunia itu adalah perhiasan yang menipu.”
Setiap proses kematian terdapat peristiwa yang menegangkan dan menyakitkan. Setiap manusia akan selalu lari dari kematian, berusaha menjauhi kematian meskipun kematian itu pasti akan datang. Sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surat Qaf ayat 19:
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.”
Kedahsyatan, tekanan himpitan, dan tekanan kematian pasti akan datang.
Dalam beberapa hadis Nabi diceritakan bahwa saat-saat sakaratul maut adalah saat yang sangat menyakitkan. Fatimah, yang kala itu menyaksikan saat-saat akhir kematian Nabi, mengatakan:
“Alangkah berat penderitaanmu, Ayahku.”
Kemudian Nabi menjawab:
“Tidak akan ada lagi penderitaan setelah ini.”
Jika Nabi saja merasakan betapa beratnya menghadapi kematian, bagaimana dengan kita, manusia yang jauh dari sempurna dibandingkan Nabi?
Dalam hadis yang lain, Nabi mengatakan bahwa sakaratul mautnya orang-orang beriman itu mudah dan ringan dibandingkan sakaratul mautnya orang-orang kafir. Bagi orang beriman, keluarnya roh dari jasad seperti menetesnya cucuran air dari kantong air. Kemudian ruh dimasukkan ke dalam kain kafan oleh malaikat, diberi wewangian, lalu dibawa menghadap Allah SWT.
Bagi orang kafir, keluarnya ruh dari jasad disambut oleh malaikat berwajah gelap dengan sikap kasar. Mereka berkata:
“Wahai jiwa yang keji, bersiaplah menuju kemurkaan Allah.”
Kemudian ruh tersebut dicabut dengan kasar.
“Sebagai orang beriman, tugas kita sekarang adalah menjaga iman kita masing-masing. Perjalanan kita belum kita ketahui kapan akan berakhir. Hari ini kita beriman, belum tentu esok atau lusa iman masih menempel di dada kita masing-masing. Maka tugas kita adalah menjaga agar iman kita tetap setia berada dalam dada kita masing-masing hingga maut menjemput kita. Jangan pernah sombong dengan amal kita. Syukuri terus iman yang ada dalam diri kita. Fokus hidup kita hanya untuk kepentingan akhirat,” pungkas Khoirul Anam mengakhiri tausiahnya.
Penulis Sarwito Editor Zahra Putri Pratiwig