
PWMU.CO – Sampah plastik masih menjadi masalah lingkungan yang mendesak di Indonesia. Produksi plastik yang tinggi, namun pengelolaannya belum optimal, menyebabkan limbah plastik menumpuk dan mencemari lingkungan. Jika tidak ditangani dengan baik, sampah plastik dapat mencemari tanah, air, bahkan masuk ke rantai makanan manusia.
Namun, ada solusi sederhana dan ramah lingkungan yang dapat dilakukan oleh masyarakat, termasuk anak-anak sekolah, yaitu Ecobrick.
Ecobrick merupakan metode pengolahan sampah plastik dengan cara memasukkan plastik bekas ke dalam botol hingga padat, sehingga bisa digunakan sebagai bahan bangunan alternatif.
Untuk meningkatkan kesadaran dan kebiasaan baik dalam mengelola sampah plastik, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 31 Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) melakukan edukasi dan pembuatan Ecobrick di MI Muhammadiyah 2 Banyuurip, Kecamatan Ujung Pangkah. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa sekolah dalam upaya pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Ecobrick: Potensi Inovasi Ramah Lingkungan di MI Muhammadiyah 2 Banyuurip
Dalam program ini, mahasiswa KKN 31 UMG memberikan edukasi kepada siswa tentang dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan dan bagaimana Ecobrick bisa menjadi solusi. Siswa tidak hanya diberikan sosialisasi, tetapi juga diajak langsung untuk mempraktikkan pembuatan Ecobrick.
Salah satu guru MI Muhammadiyah 2 Banyuurip mengatakan, “jika pemanfaatan sampah melalui Ecobrick sudah pernah dilakukan namun belum tuntas. Karenanya Tim KKN 31 UMG membantu menuntaskan hal tersebut.”
MI Muhammadiyah 2 Banyuurip ini juga aktif dalam pengumpulan sampah botol plastik. Hal tersebut dilakukan karena sampah botol plastik dapat digunakan jadi barang bermanfaat, jika dibiarkan saja hanya akan mencemari lingkungan, sehingga MIM 2 Banyuurip memiliki wadah sendiri.
Dari permasalahan dan potensi yang ada. Mahasiswa KKN 31 UMG memberikan inovasi gapura dari Ecobrick sampah plastik yang akan dijadikan gapura untuk masuk ke perpustakaan sekolah. Dan program tersebut dibantu oleh siswa-siswi MI Muhammadiyah 2 Banyuurip.

Pemotongan Pita Gapura Ecobrick
Pemotongan pita gapura Ecobrick di depan pintu perpustakaan ini dilaksanakan disaat upacara hari Senin, 17 Februari 2025. Dalam upacara ini, ketua kelompok KKN Kelompok 31 di Desa Banyuurip, Muhammad Gilang Candrakusuma berkesempatan menjadi pembina upacara.
Gilang menyampaikan dalam amanatnya, “kita harus selalu peduli dengan lingkungan hidup di sekitar kita terutama sampah plastik atau jajanan yang kita makan.”
Dampak Positif Program Kerja KKN 31 UMG
Program kerja ini mendapatkan respons positif dari para siswa dan guru MI Muhammadiyah 2 Banyuurip. Para siswa tampak antusias dalam membantu pembuatan Ecobrick dan menyadari pentingnya mengelola sampah dengan baik. Pihak sekolah pun menyatakan dukungan mereka terhadap keberlanjutan program ini agar semakin banyak siswa yang terlibat dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari.
Melalui program ini, mahasiswa KKN 31 UMG berhasil menunjukkan bahwa solusi terhadap permasalahan sampah plastik dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu Ecobrick. Dengan melibatkan anak-anak sekolah sejak dini, kebiasaan baik dalam mengelola sampah dapat ditanamkan, sehingga menciptakan generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Jika Ecobrick diterapkan secara luas, bukan tidak mungkin masalah sampah plastik di Indonesia dapat berkurang secara signifikan. Mari bersama-sama menjadi bagian dari solusi dengan mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Penulis Fatimatuz Zahra Editor ‘Aalimah Qurrata A’yun