
Oleh: Triyo Supriyatno (Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
PWMU.CO-Ramadan berlalu laksana angin lembut yang menyejukkan jiwa—hadir dengan cahaya penuh rahmat, lalu pergi, meninggalkan jejak suci di relung hati. Ia bukan sekadar deretan hari dalam kalender, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang membentuk dan membersihkan diri. Saat fajar terakhirnya terbit, hati diliputi keharuan: apakah cahaya yang ditinggalkannya telah menerangi lentera ketakwaan dalam diri kita?
Setiap kali kita mengucapkan “Selamat tinggal, Ramadan,” sesungguhnya kita sedang menakar sejauh mana perubahan diri telah terjadi. Apakah Ramadan hanya sekadar persinggahan sesaat, atau telah menjadi sahabat yang menanamkan nilai kebajikan dalam keseharian kita? Apakah sujud panjang di keheningan malam telah mencairkan kesombongan dalam hati, ataukah hanya sekadar ritual tanpa makna? Jika usia masih memberi kesempatan untuk bertemu kembali di tahun mendatang, semoga kita menyambutnya dengan keadaan yang lebih baik, hati yang lebih bersih, dan kedekatan yang semakin erat dengan-Nya.
Doa-doa yang terlantun di penghujung Ramadan adalah ungkapan kerinduan dan harapan yang mengangkasa: “Ya Allah, bimbinglah kami agar dapat berpuasa dengan hati yang suci dan menjalankan qiyamullail dengan keikhlasan penuh. Jadikan bulan ini sebagai pelebur dosa, pelembut hati, serta jalan menuju ampunan-Mu.”
Kata-kata ini bukan sekadar untaian lisan, melainkan seruan jiwa yang mendambakan cahaya ilahi. Ramadan bukan sekadar ujian menahan lapar dan dahaga, tetapi sebuah madrasah spiritual yang mengajarkan ketulusan, kesabaran, dan kepasrahan sepenuhnya kepada-Nya.
Saat bibir mengucapkan, “Ya Allah, pertemukanlah kami dengan Ramadan, hadirkan Ramadan di tengah kami, dan terimalah amal kami di dalamnya,” hati kita larut dalam maknanya.
Ramadan bukan sekadar rangkaian ibadah yang tampak dari luar, tetapi sebuah perjalanan batin yang membentuk jiwa dan menyegarkan hati. Dalam semangat spiritualitas modern, Ramadan mengajarkan kita tentang keikhlasan dan ketundukan. Ia mengajak kita melepas kesombongan duniawi, kembali pada jati diri yang sejati, dan meresapi lautan hikmah yang dalam.
Dalam setiap doa yang kita panjatkan untuk anak-anak kita, tersimpan amanah besar yang harus kita emban sebagai orang tua: “Ya Allah, jagalah anak-anakku dari segala keburukan, limpahkan keberkahan dalam hidup mereka, jadikan mereka penyejuk hati di dunia dan akhirat. Anugerahkan kepada mereka ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, serta akhlak yang mulia. Bimbing mereka di jalan-Mu yang lurus, dan jadikan mereka hamba-hamba pilihan-Mu.”
Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi sebuah janji dalam hati—bahwa mendidik anak bukan hanya soal keberhasilan di dunia, melainkan juga bekal abadi untuk kehidupan setelahnya. Islam mengajarkan bahwa anak adalah titipan berharga, permata yang harus kita jaga dengan kasih sayang, ilmu, dan keteladanan.
Menjelang Idulfitri, hati kita semakin rindu pada orang-orang tercinta yang telah lebih dulu berpulang. “Ya Allah, sinarilah peristirahatan mereka dengan cahaya kasih sayang-Mu, dan berikanlah mereka hari raya di surga yang jauh lebih indah dari segala kebahagiaan dunia.” Idulfitri bukan sekadar momen kemenangan, tetapi juga pengingat bahwa hidup ini fana. Ia menjembatani dunia dan akhirat, mengajarkan bahwa cinta tak terputus oleh perpisahan, dan kebersamaan sejati hanya akan abadi dalam naungan rahmat-Nya.
Dalam worldview Islam, waktu bukan sekadar sesuatu yang berlalu, tetapi ruang bagi transformasi jiwa. Ramadan merupakan momen perubahan dan proses pembentukan diri, di mana manusia ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih memahami makna keberadaannya, serta lebih dekat dengan Tuhan.
Dalam perspektif postmodernisme, manusia modern sering kali terperangkap dalam keterasingan spiritual, menjadikan Ramadan sekadar tradisi tanpa esensi yang mendalam. Oleh karena itu, spiritualitas Islam yang menyeluruh dan berbasis kolaborasi perlu dihidupkan kembali, agar Ramadan tidak sekadar menjadi perayaan ritual, melainkan menjadi gerbang menuju kesadaran sejati tentang eksistensi manusia dan makna hidupnya.
Ramadan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi. Namun menjadi cermin diri, ujian kesabaran, dan jalan menuju cahaya ilahi. Maka, ketika kita mengucapkan perpisahan, pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiran kita bukanlah hanya “Akankah kita jumpa dengannya lagi?” Namun “Sudahkah kita menyerap energi cahaya yang dibawanya?” Jika kelak kita dipertemukan kembali dengannya, semoga kita menyambutnya dengan iman yang lebih kuat, hati yang lebih lapang, dan ketakwaan yang lebih mendalam.
Selamat jalan, bulan Ramadan. Namun, benarkah ia benar-benar pergi? Ataukah jejaknya tetap abadi dalam hati dan amal perbuatan kita? Semoga kita diberi umur panjang untuk kembali bertemu dengan Ramadan 1447 H. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (*)
Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan