
PWMU.CO – Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi (MPID) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi, Taufiqur Rohman MPdI menjadi imam dan khatib shalat Idul Fitri 1446 H/2025 di masjid At-Taqwa Setail Genteng, Senin (31/3/2025).
Meskipun shalat Idul Fitri semula direncanakan di lapangan Desa Setail, namun karena faktor cuaca, pelaksanaannya dialihkan ke masjid. Meski demikian, prosesi shalat tetap berlangsung dengan lancar.
Ratusan jamaah yang terdiri jamaah masjid setempat dan warga Muhammadiyah Ranting Setail mengikuti shalat Idul Fitri ini dengan khusyuk. Pada rakaat pertama imam membacakan Surat al-Ala. Sementara pada rakaat kedua imam membacakan Surat al-Zalzalah. Setelah itu dilanjutkan dengan pelaksanaan khutbah Idul Fitri.
Di awal khutbahnya, Taufiqur Rohman mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya sehingga dapat bertemu di masjid ini.
“Semoga shalat Idul Fitri kita di pagi ini mendapat ridha Allah,” ujarnya.
Pada khutbah Idul Fitri kali ini, khatib mengusung tema “Menebar Perdamaian di Era Digital”. Dalam khutbahnya Ketua MPID Banyuwangi itu membacakan Surat al-Baqarah ayat 208. Di ayat tersebut dijelaskan perintah Allah kepada orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara kaffah.
“Allah tidak ingin kita ini ber-Islam hanya setengah-setengah,” tandasnya.
Menurutnya, hanya orang yang memahami Islam secara komprehensif yang mampu menebar perdamaian di era digital ini.
Lebih lanjut, ia membacakan hadits nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari sahabat Abdullah bin Salam Ra. Di hadits tersebut ada pesan Nabi terkait menebar salam perdamaian, menjalin silaturahmi, memberi makan orang yang kekurangan, dan melaksanakan shalat lail, agar dapat masuk surga dengan selamat.
Ia pun mengingatkan jamaah bahwa Islam berarti pasrah, damai, dan selamat. Oleh karena itu, khatib asal Pandan itu mengajak jamaah untuk berjuang menebarkan perdamaian di era digital dengan memanfaatkan gadget. Salah satu caranya adalah dengan aktif di media sosial untuk menyebarkan kabar-kabar inspiratif.
Di samping itu, Taufiqur Rohman juga mengajak jamaah untuk flashback sejenak terhadap bulan Ramadan yang baru saja berlalu. Khususnya pada Amaliyah puasa Ramadan yang banyak mengajarkan nilai-nilai edukatif. Di antaranya adalah larangan berujar al-zur (dusta) dan menghindari ucapan laghwu (sia-sia). Selain itu, terdapat pula larangan berbicara rafats, yakni ucapan yang jorok dan kotor, serta larangan menimbulkan kegaduhan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia juga berpesan terkait dengan perkembangan era digital, bahwa seorang Muslim hendaknya menyebarkan berita yang jujur dan benar serta tidak membagikan konten berbau pornografi yang dapat mengganggu ketertiban masyarakat.
“Seorang Muslim hendaklah menebar berita yang mengandung kejujuran dan kebenaran serta tidak menyebarkan visual-visual yang berbau pornografi yang membuat gaduh kehidupan masyarakat,” pesannya.
Mengakhiri khutbahnya, ia mendoakan jamaah agar diberi kekuatan dan selalu bersemangat untuk menebarkan perdamaian di era digital ini. (*)
Penulis Ghulam Bana Islama Editor Ni’matul Faizah