Bangsa yang besar tidak runtuh karena serangan musuh dari luar, melainkan karena kerusakan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.
Begitulah pesan penting yang disampaikan Ustaz Drs. Qodiron Abdurrahim, Mubaligh Muhammadiyah, dalam ceramahnya bertajuk “Lima Sebab Runtuhnya Sebuah Bangsa”.
Dengan gaya tutur yang hidup dan sarat humor, Ustaz Qodiron mengajak jamaah menengok kembali kisah Nabi Musa Alaihissalam yang diabadikan dalam Al-Qur’an.
Menurutnya, kisah tersebut bukan sekadar sejarah, tetapi cermin yang selalu relevan untuk menilai kondisi bangsa kapan pun dan di mana pun.
“Bangsa akan rusak jika di dalamnya ada lima hal. Dan lima hal ini pernah terjadi di zaman Nabi Musa,” ujarnya seperti dikutip dari kanal Youtube Baitul Arqom Joss.
Kelima hal itu adalah pemimpin yang zalim, ilmuwan yang rusak, orang kaya yang rakus, ulama yang cinta dunia, dan rakyat yang sulit diatur.
1. Pemimpin yang Zalim
Dalam kisah Nabi Musa, Firaun adalah simbol penguasa yang sewenang-wenang. “Firaun bukan nama orang, tapi gelar raja-raja Mesir kuno,” jelas Ustaz Qodiron.
“Firaun pada masa Nabi Musa dikenal sebagai Raja Ramses II, seorang diktator yang berkuasa selama 66 tahun. Terlalu lama untuk membangun sebuah rezim yang zalim,” imbuh dia.
Menurutnya, bentuk kezaliman terbesar Firaun adalah memecah belah bangsanya demi melanggengkan kekuasaan — politik yang ia sebut sebagai politik belah bambu: satu diangkat, satu diinjak.
Firaun juga menindas Bani Israil, bahkan memerintahkan pembunuhan terhadap bayi laki-laki yang lahir dari bangsa itu, sementara perempuan dibiarkan hidup dan dilecehkan.
“Pemimpin zalim adalah yang tidak menegakkan keadilan dan menyengsarakan rakyatnya,” tegasnya. “Dalam bahasa agama, zalim berarti tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tapi dalam politik, zalim berarti kebijakan yang membuat rakyat menderita.”
Ustaz Qodiron lalu menegaskan bahwa sifat Firaun bukan hanya kisah masa lalu, tapi selalu muncul dalam setiap zaman — hanya berganti nama dan bentuk.
2. Ilmuwan yang Rusak
Sosok kedua adalah Haman, orang terdekat Firaun yang mewakili kaum intelektual atau ilmuwan yang bersekongkol dengan kekuasaan. Dalam Al-Qur’an, Haman disebut enam kali dan selalu dikaitkan dengan kezaliman Firaun.
“Haman itu orang yang sangat cerdas,” kata Ustaz Qodiron. “Dia menteri segala urusan, penasihat bidang agama, sekaligus kepala proyek pembangunan piramida.”
Namun kecerdasannya tidak digunakan untuk kebenaran, melainkan untuk mendukung kekuasaan zalim.
“Kalau ilmuwan bersekongkol dengan penguasa yang zalim, kehancuran bangsa tinggal menunggu waktu,” tegasnya.
Ustaz Qodiron kemudian menyinggung hukum sosial yang berlaku sepanjang zaman: ketika rakyat tidak sanggup melawan kezaliman, Allah akan turun tangan. Kisah Musa yang menyeberangi Laut Merah adalah bukti bahwa Allah berpihak pada kebenaran, bahkan saat logika manusia sudah buntu.
“Musa dan pengikutnya tak punya kekuatan melawan Firaun, tapi mereka tetap istikamah. Maka Allah yang turun tangan. Itulah pelajaran besar bagi siapa pun yang berjuang di jalan kebenaran,” ujarnya.
3. Orang Kaya yang Rakus
Simbol ketiga kehancuran bangsa adalah Qarun, sosok kaya raya dari kalangan Bani Israil. Ia masih kerabat Nabi Musa, namun justru bersekongkol dengan Firaun.
Al-Qur’an menggambarkan betapa besar kekayaannya: kunci-kunci gudangnya saja harus dipikul oleh 60 ekor unta. Tapi Qarun justru sombong, menisbahkan kekayaannya bukan kepada Allah, melainkan pada “ilmu dan kerja kerasnya sendiri”.
“Orang beriman jika ditanya rahasia suksesnya akan berkata: ini karunia Allah. Tapi Qarun menjawab: semua ini karena ilmuku. Inilah kesombongan yang membuatnya tenggelam ke bumi,” tutur Ustaz Qodiron.
Ia menambahkan, ketika kekayaan tidak diiringi keimanan, ia menjadi fitnah besar. “Orang kaya yang rakus lebih berbahaya daripada orang miskin yang tamak,” katanya disambut tawa jamaah.
Qarun menjadi peringatan bagi para pengusaha, pejabat, dan orang berkuasa agar tidak terjebak dalam kesombongan ekonomi yang melahirkan ketimpangan sosial.
4. Ulama yang Cinta Dunia
Sebab keempat adalah ulama yang hubbud dunya (cinta dunia). Dalam sejarah Nabi Musa, sosok ini digambarkan melalui Bal’am bin Baura, seorang ulama besar yang doanya selalu dikabulkan Allah. Namun karena cintanya pada dunia, ia meninggalkan kebenaran dan berpihak pada Firaun serta Qarun.
“Bal’am itu dulu orang saleh. Tapi dia tergoda oleh dunia. Ayat Allah dilepasnya, lalu dia ikut arus kekuasaan,” ujar Ustaz Qodiron mengutip Surah Al-A’raf ayat 175–176.
Menurutnya, ujian bagi ulama bukan hanya soal ilmu, tapi juga keteguhan hati. “Godaan harta, jabatan, dan pengaruh itu berat. Banyak yang tidak lolos di tikungan duniawi ini,” katanya sambil menekankan bahwa ulama sejati adalah yang tetap teguh menegakkan amar makruf nahi mungkar meski di tengah tekanan kekuasaan.
5. Rakyat yang Sulit Diatur
Yang terakhir, kata Ustaz Qodiron, bangsa juga akan hancur bila rakyatnya sulit diatur dan tidak taat pada kebenaran.
“Simbolnya adalah Bani Israil,” ujarnya. “Mereka sudah diselamatkan oleh Allah dari Firaun, tapi tetap membangkang, bahkan meminta Nabi Musa membuatkan berhala untuk disembah.”
“Kalau rakyatnya sulit diatur, pemimpinnya zalim, ilmuwannya rusak, orang kayanya rakus, dan ulamanya cinta dunia — maka kehancuran bangsa tinggal menunggu waktu,” tandasnya.
Refleksi untuk Bangsa Kini
Ustaz Qodiron mengingatkan jamaah agar tidak hanya memandang kisah ini sebagai dongeng masa lalu. Lima sebab kehancuran itu, katanya, bisa muncul dalam wujud modern, di lembaga pemerintahan, ekonomi, pendidikan, bahkan organisasi keagamaan.
“Saya tidak tahu apakah lima hal ini ada benang merahnya dengan negeri kita hari ini. Tapi mari kita renungkan bersama,” ujarnya lembut.
Ustaz Qodiron mengajak umat untuk memperbaiki diri mulai dari lingkup terkecil: rumah tangga, masyarakat, dan organisasi.
“Bangsa tidak akan runtuh jika setiap orang memperbaiki dirinya. Karena kerusakan bangsa selalu dimulai dari kerusakan pribadi,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments