Banyak orang berburu sukses, tetapi tidak semua memahami arah akhirnya. Islam menawarkan konsep falah, keberuntungan sejati yang tidak berhenti di dunia.
Melalui lima langkah yang bersumber dari Al-Qur’an, seorang Muslim diarahkan untuk membangun iman, memperkuat ibadah, menebar kebaikan, hingga menjadikan akhirat sebagai tujuan utama kehidupan.
Menurut Ustaz Adi Hidayat (UAH), seorang hamba berharap mendapatkan kebaikan di akhirat, sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an: “Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.”
“Doa tersebut, yang termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 201, menjadi fondasi orientasi hidup seorang Muslim,” ujar UAH seperti dilansir di kanal Youtube Adi Hidayat Official.
UAH kemudian menjelaskan, Al-Qur’an telah menghadirkan “peta jalan” yang jelas untuk mengantarkan manusia menuju kehidupan ideal di bawah naungan petunjuk Allah. Dalam bahasa Arab, sukses dan bahagia disebut dengan falah.
“Jika kesuksesan itu benar-benar digenggam, disebut aflah, dan orang yang meraihnya disebut muflih, jamaknya muflihun,” terang wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Dia mengutip rangkaian ayat dalam Surah Al-Baqarah, khususnya ayat 2 hingga 5, yang menggambarkan ciri-ciri orang yang berada dalam petunjuk Allah dan meraih kebahagiaan sejati: “Ulaika ‘ala hudan mir rabbihim wa ulaika humul muflihun.”
“Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Meningkatkan Iman, Bukan Sekadar Beriman
Langkah pertama menuju falah, terang UAH, adalah alladzina yu’minuna bil ghaib, orang-orang yang beriman kepada yang gaib.
Namun dia menekankan, iman yang dimaksud bukan sekadar “telah beriman” (amanu), melainkan terus meningkatkan kualitas iman (yu’minun).
UAH mengibaratkan kedekatan dengan Allah sebagai akses yang terbuka luas. Semakin kuat relasi seorang hamba dengan Allah, semakin terbuka jalur kemudahan dalam hidupnya.
“Jika dalam kehidupan dunia akses kepada pemimpin saja bisa mempermudah urusan, maka bagaimana dengan akses kepada Allah, Zat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu?” kata UAH
Kedekatan itu, imbuh dia, menghadirkan kemudahan, perlindungan, bahkan kebahagiaan sejak sebelum wafat hingga kehidupan akhirat kelak.
Langkah kedua adalah yuqimunas salah, menegakkan salat dengan sungguh-sungguh. UAH menjelaskan, salat bukan sekadar menggugurkan kewajiban lima waktu, tetapi upaya membangun konektivitas yang lebih kuat dengan Allah.
Dia memaparkan dua dimensi salat: kuantitas dan kualitas. Dari sisi kuantitas, seorang hamba tidak berhenti pada salat fardu, tetapi berusaha menambah dengan salat-salat sunah sesuai kemampuannya.
“Dari sisi kualitas, salat dilakukan dengan pemahaman dan kekhusyukan,” cetus UAH.
Saat lisan mengucap Allahu Akbar, pikiran menerjemahkan maknanya, dan hati meresapinya. Gerakan tubuh, bacaan, dan penghayatan batin menyatu. Dengan cara itu, salat menjadi sarana pembenahan diri, penguatan komitmen, dan perbaikan akhlak.
Menguatkan Kesalehan Sosial
Langkah ketiga adalah wa mimma razaqnahum yunfiqun—mereka yang menafkahkan sebagian rezeki yang diberikan Allah.
UAH menegaskan, kesalehan personal harus dipancarkan dalam kehidupan sosial. Berbagi tidak selalu berbentuk materi. Ilmu, tenaga, bahkan senyuman adalah bentuk sedekah.
“Senyuman kepada saudara adalah sedekah. Nilai-nilai sosial ini, menurutnya, membuka jejaring kebaikan dan perlindungan yang telah Allah tetapkan sebagai sunatullah dalam kehidupan,” pesannya.
Kebaikan yang dibagikan akan kembali dalam bentuk kebahagiaan dan kemudahan yang mungkin tak disangka.
Langkah keempat adalah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup: walladzina yu’minuna bima unzila ilaika wa ma unzila min qablik. UAH menekankan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, melainkan kurikulum kehidupan.
“Seluruh isi Al-Qur’an merupakan panduan menyeluruh, dari aspek pribadi hingga sosial, dari etika profesional hingga tata kelola kehidupan,” jelasnya.
Sejarah menunjukkan, ketika Al-Qur’an dijadikan rujukan, peradaban mencapai puncak kejayaan. Sebaliknya, ketika ia dijauhkan, kemunduran tak terhindarkan.
Karena itu, keyakinan terhadap Al-Qur’an harus total, tanpa keraguan sedikit pun. Keyakinan tersebut mendorong penggalian makna dan pengamalan dalam konteks kekinian.
Langkah kelima adalah wa bil akhirati hum yuqinun—meyakini kehidupan akhirat. UAH menggambarkan akhirat sebagai tempat tinggal abadi.
Jika untuk perjalanan sementara saja manusia menyiapkan bekal, maka semestinya persiapan untuk kehidupan yang tak berujung jauh lebih serius.
“Orang cerdas adalah mereka yang menyiapkan bekal terbaik untuk tempat tinggal terakhirnya. Akhirat menjadi proyek utama yang mengarahkan seluruh aktivitas dunia,” jabar UAH
Kelima langkah tersebut, terang UAH, hanya dapat dijalankan oleh orang-orang bertakwa. Ia merujuk pada ayat, “Dzalikal kitabu la raiba fih, hudan lil muttaqin.” Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa.
Takwa, menurutnya, adalah pintu solusi. Dia mengutip pesan Al-Qur’an bahwa dengan takwa, seseorang akan memperoleh keberuntungan (la’allakum tuflihun), bahkan diajarkan pengetahuan-pengetahuan baru oleh Allah (wattaqullaha wa yu’allimukumullah).
“Takwa ada pada pengetahuan. Takwa ada pada kebahagiaan. Takwa adalah solusi berkehidupan,” tegasnya.
UAH mengajak setiap Muslim untuk memotivasi diri meningkatkan takwa, meyakini janji Allah sebagai sesuatu yang pasti, dan menapaki lima jalan menuju falah.
Hal itu dilakukan dengan menghadirkan iman yang terus bertumbuh, salat yang berkualitas, kesalehan sosial, komitmen pada Al-Qur’an, dan orientasi akhirat, seorang hamba akan berada dalam naungan petunjuk Allah dan meraih kebahagiaan serta kesuksesan sejati. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments